Bulan Miladiah dan Menjelang Muktamar Tapak Suci: Momentum Perguruan Seni Beladiri Indonesia Tapak Suci Putera Muhammadiyah Menatap Lima Tahun ke Depan, Sebuah Opini
Oleh: Dr. Ir. H. Muhammad Wafid Agung Novianto, M.Sc., PBU., P.Ua., Ketua Dewan Pendekar Pimpinan Wilayah VII Jawa Barat
Pencak silat sebagai bagian dari warisan dan budaya bangsa bukanlah sekadar teknik beladiri dan ilmu pertahanan fisik. Ia merupakan kristalisasi dari nilai spiritual, mentalitas, estetika, dan falsafah hidup bangsa Indonesia yang telah diakui oleh badan dunia, UNESCO, sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia untuk Indonesia. Di tengah arus globalisasi, eksistensi seni bela diri tradisional menghadapi tantangan ganda yakni risiko penyederhanaan makna yang hanya sekedar menjadi komoditas olahraga semata jika dilihat dari sisi implementasi modernitas olahraga fisik, serta ancaman sinkretisme yang mengikis kemurnian ajaran tauhid. Dalam konteks ini, Perguruan Seni Bela Diri Indonesia Tapak Suci Putera Muhammadiyah hadir sebagai sintesis ideal yang mempertemukan keluhuran tradisi termasuk budaya dan filosofisnya dengan rasionalitas modern
tapi tetap mempertahankan nilai religious “ketauhidan”nya.
Kita coba simak kembali perjalanan sejarah lahirnya Tapak Suci hingga menjadi organisasi otonom dari Persyarikatan Muhammadiyah. Bahwa akar keilmuan Tapak Suci bermula dari pencak silat yang diajarkan oleh KH. Busyro Syuhada di Banjarnegara, yang kemudian berkembang pesat di Kauman, Yogyakarta. Melalui para muridnya seperti A. Dimyati dan M. Wahib, yang kemudian lahirlah tiga perguruan sealiran di Kauman, yaitu Cikauman, Seranoman, dan Kasegu.
Atas desakan para murid dan inisiatif dari Pendekar Moh. Barrie Irsyad, ketiga perguruan ini dilebur menjadi satu wadah yang lebih besar dan terorganisir. Maka secara resmi pada tanggal 10 Rabiul Awal 1383 H atau 31 Juli 1963, Perguruan Seni Beladiri Indonesia Tapak Suci didirikan di Kauman, Yogyakarta. Melalui Sidang Tanwir Muhammadiyah tahun 1967, Tapak Suci secara resmi ditetapkan sebagai Organisasi Otonom (Ortom) ke-11 di bawah naungan Persyarikatan Muhammadiyah, mengemban misi dakwah amar ma'ruf nahi munkar yang bersih dari syirik, bid'ah, dan khurafat.
Kelahirannya merupakan jawaban atas kebutuhan dakwah kultural Muhammadiyah yang inklusif namun tetap memegang teguh prinsip purifikasi akidah. Landasan operasional ini selaras dengan spirit Surat Al-Anfal Ayat 60, yang memerintahkan umat Islam untuk mempersiapkan kekuatan fisik dan mental guna menggentarkan musuh-musuh kemanusiaan dan menegakkan keadilan. Saat ini, Tapak Suci telah bertransformasi menjadi organisasi otonom dengan jutaan anggota di seluruh penjuru dunia. Berdirinya PerWil (Perwakilan Wilayah) Tapak Suci di berbagai negara seperti Mesir, Belanda, Jerman, dan Austria, bahkan di negara sumber beladiri seperti di China Taipeh dan juga Jepang yang melengkapi Kehadiran Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) di luar negeri, menjadi bukti nyata bahwa pencak silat dapat diterima oleh masyarakat global sekaligus membuktikan bahwa Tapak Suci menjadi amplifikasi da’wah Persyarikatan Muhammadiyah.
Namun, ekspansi internasional ini memerlukan kerangka metodologis yang mapan. Upaya ini harus sejalan dengan konsep Islam Berkemajuan agar Tapak Suci tidak kehilangan identitas aslinya (istiqomah) di tengah pluralisme budaya dunia sekaligus menjadi ujung tombak dari implementasi MKCH Muhammadiyah yang berkemajuan dan mendunia. Momentum Milad Perguruan Seni Beladiri Indonesia Tapak Suci Putera Muhammadiyah yang berdekatan dengan agenda Muktamar bukan sekadar rutinitas kegiatan organisasi. Ini adalah titik balik strategis. Dua peristiwa besar yang teragendakan di tahun ini harus dijadikan pijakan untuk mengevaluasi capaian dan merumuskan arah gerakan perguruan seni beladiri ini untuk kiprahnya di kancah nasional, regional, dan Internasional di lima tahun ke depan.
Sebagai salah satu pilar dakwah kultural Muhammadiyah, Tapak Suci menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks. Dengan pekerjaan rumah yang masih banyak, banyak perbaikan dan penyempurnaan untuk menjadi Perguruan Seni Beladiri dibawah Muhammadiyah yang berkemajuan yang modern dengan tetap mempertahankan nilai Keilmuan Beladiri Pencak Silat Warisan Budaya bangsa, perlu kita apresiasi bahwa kepengurusan periode saat ini telah berhasil meletakkan cetak biru (blueprint) yang cukup kokoh melalui tiga warisan besar, yakni: penyelesaian kurikulum keilmuan, modernisasi infrastruktur, dan digitalisasi data organisasi.
1. Refleksi Milad: Mengakar pada Tradisi, Bertumbuh dengan Kurikulum Baru
Milad adalah momentum refleksi untuk merawat jati diri perguruan yang tertuang dalam semboyan "Dengan Iman dan Akhlak saya menjadi kuat, tanpa Iman dan Akhlak saya menjadi lemah". Jati diri ini kini memiliki panduan yang lebih kokoh.
Ilmu Seni Beladiri Tapak Suci sebenarnya merupakan gabungan dari beberapa ilmu bahkan aliran beladiri yang dibawa oleh para Pendekar dari seluruh pelosok Nusantara, yang dipersatukan oleh nilai nilai dan karakteristik Muhammadiyah yakni: Ketauhidan menghindari kesyirikan, khurofat, bid’ah dan tahayul; Bersandar ajaran murni Qur’an dan Sunnah; Ijtihad dan Tajdid; bersifat Moderat; dan rohmatan lil ‘aalamiin. Dari akar ilmu pencak Banjaran yang berkembang pesat di Kauman hingga berkembang menjadi ilmu gabungan saat ini merupakan bukti dinamikanya perkembangan keilmuan Seni Beladiri Tapak Suci.
Apresiasi tinggi harus diberikan kepada pengurus periode saat ini yang telah berhasil menyelesaikan kodifikasi dan penyempurnaan kurikulum keilmuan Tapak Suci tidak saja untuk keilmuan ragawi akan tetapi juga tentang materi Al Islam dan Kemuhammadiyahan juga keorganisasian dan ke-Tapak Sucian. Langkah ini sangat krusial. Kurikulum yang seragam, adaptif, dan terdokumentasi dengan baik memastikan bahwa kemurnian teknik bela diri serta nilai nilai ideologi keislaman tetap terjaga secara standar dari tingkat pusat hingga ke cabang-cabang internasional, tanpa kehilangan ruh asli warisan para pendiri khususnya tetap menjaga prinsipnya yang mengacu pada Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCHM). terselesaikannya Kurikulum Tapak Suci menjadi bukti transformasi dari model tradisionilnya ilmu pencak silat menjadi pola ilmu yang modern dan terstruktur dengan baik.
2. Muktamar dan Warisan Infrastruktur Modern
Muktamar XVI kali ini tidak berangkat dari nol Pengurus periode ini telah memberikan modal berharga lewat ground breaking pembangunan Padepokan Tapak Suci yang modern. Proyek monumental senilai miliaran ini dirancang dengan konsep Arsitektur Unggul Berkemajuan. Fasilitas ini bukan sekadar bangunan fisik tapi padepokan ini akan menjadi pusat pelatihan terpadu sekaligus laboratorium karakter. Padepokan modern ini adalah simbol harga diri organisasi sekaligus pusat keunggulan (center of excellence) Perguruan Seni Beladiri Tapak Suci masa depan.
Langkah strategis ini memperoleh apresiasi luar biasa di tingkat nasional dimana Ketua Umum PB IPSI, Bapak Sugiono, memberikan dukungan penuh secara langsung dalam sambutan dan peletakan batu pertama. Sebagai komitmen konkret, PB IPSI mengucurkan bantuan dana hibah untuk mempercepat proses pembangunan fasilitas multifungsi tersebut.
Tempat ini akan menjadi kawah candradimuka untuk standarisasi pelatih, pemusatan latihan atlet, serta pusat kajian keilmuan pencak silat. Tugas kepengurusan lima tahun ke depan adalah mengawal pembangunan padepokan Tapak Suci ini hingga tuntas dan mengoptimalkan fungsinya secara profesional.
3. Proyeksi 5 Tahun ke Depan: Menuju Organisasi Berbasis Data
Satu lagi lompatan besar dan warisan yang sudah dimulai oleh kepengurusan saat ini adalah dimulainya penyempurnaan sistem database organisasi. Langkah digitalisasi ini harus menjadi agenda prioritas yang dituntaskan dalam lima tahun ke depan melalui tiga pilar strategis:
• Integrasi Data Masif: Menuntaskan migrasi data keanggotaan manual ke sistem digital yang terintegrasi dari tingkat Pimpinan Pusat, Wilayah, Daerah, hingga Pimpinan Cabang di luar negeri untuk mempermudah pemetaan potensi kader, pelatih, dan wasit-juri.
• Peta Jalan Prestasi Berbasis Sport Science: Memanfaatkan database performa atlet secara berkelanjutan untuk mendukung pembinaan usia dini yang lebih presisi demi menjaga dominasi Tapak Suci di panggung nasional dan internasional dan salah satu yang ingin diberikan adalah kontribusi Tapak Suci ikut mensukseskan keinginan Indonesia agar Pencak Silat masuk dalam even Olimpiade.
• Kemandirian Ekonomi Perguruan: Mengkapitalisasi sistem data anggota untuk membangun ekosistem bisnis resmi, seperti penyediaan seragam (sakral) dan atribut resmi secara mandiri dan transparan.
Milad mengajarkan kita dari mana kita berasal, sementara Muktamar menentukan ke mana kita akan melangkah. Capaian pengurus periode ini, mulai dari kurikulum keilmuan yang tuntas, fondasi padepokan modern, hingga sistem database yang mulai tertata, adalah modal utama untuk melompat lebih tinggi dan mendunia. Sinergi antara nilai spiritual dan manajemen organisasi modern akan memastikan Tapak Suci tetap tegak berdiri sebagai pencetak pesilat berprestasi sekaligus kader berintegritas pembela agama dan bangsa.
Dirgahayu yang ke-63 dan Selamat Melaksanakan Muktamar Perguruan Seni Beladiri Indonesia Tapak Suci Putera Muhammadiyah ke XVI tahun 2026 di Semarang.
“Dengan Iman dan Akhlak Saya Menjadi Kuat
Tanpa Iman dan Akhlak Saya Menjadi Lemah
Laahaula Walaa Quwwata Illaa Billaahil ‘Aliyyil ‘Adziim”

