Bulan Ramadhan sebagai Bulan Pencerdasan, Pencerahan, dan Pemajuan Umat Islam
Oleh: Mohammad Fakhrudin, Warga Muhammadiyah Magelang
Salah satu amalan yang sangat dianjurkan agar dikerjakan oleh muslim yang berpuasa Ramadhan adalah memperbanyak membaca Al-Qur’an atau yang popular dengan istilah tadarus atau di dalam bahasa cakapan disebut tadarusan. Menurut Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, ada dua macam tadarus Al-Qur’an, yaitu (a) tilawah lafdziyah bagi umat Islam yang baru bisa baca Al-Qur’an dan belum lancar dan (b) tadarus (tilawah hukmiyah) bagi orang yang sudah bisa membaca, perlu adanya peningkatan dengan mempelajari dan memahami ayat atau surat yang dibaca. Tadarus yang demikian menjadi salah satu metode pencerdasan, pencerahan, dan pemajuan umat Islam.
Hingga saat ini tadarus pada bulan Ramadhan yang dilaksanakan di masjid dan musala (apalagi di kampung) umumnya baru tadarus dengan makna membaca Al-Qur’an secara bergantian dan bersambungan. Di masjid dan di musala tertentu tadarus dilaksanakan oleh sekitar 10-15 orang laki-laki selepas tarawih hingga pukul 22.00. Ada pula tadarus yang berakhir pukul 00.00.
Pada era gawai makin fenomenal, tadarus yang dilakukan secara individual makin berkembang lebih-lebih lagi pada bulan Ramadhan. Bagi remaja dan anak muda tadarus dengan gawai merupakan pilihan yang dianggapnya paling praktis. Dengan gawai, mereka dapat tadarus ketika berada di ruang tunggu pada waktu antre akan periksa di puskesmas atau rumah sakit, ketika mengurus suatu hal di bank atau di tempat lain. Malahan, tadarus dengan gawai dapat pula dilakukan ketika mereka naik mobil, kereta, atau pesawat. Tentu tadarus dapat juga dilakukan di masjid dan musala.
Ketika tadarus di masjid dan musala ada di antara mereka yang melakukannya hanya dengan menggerakkan bibir. Namun, ada pula yang tadarus dengan melisankan hingga terdengar oleh orang lain. Dari segi tempo bacanya, ada di antara mereka yang membaca Al-Qur’an dengan tempo cepat. Mungkin mereka telah mempunyai target satu hari satu juz sehingga dapat khatam sekali dalam waktu satu bulan.
Perintah Tadarus pada Bulan Ramadhan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan tadarus Al-Qur’an setiap malam pada bulan Ramadhan. Hal itu dijelaskan di dalam HR al-Bukhari, Muslim, dan an-Nasa’i sebagai berikut.
‘Abdullah bin ‘Abbâs radiyallahu ‘anhuma berkata,
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَأَجْوَدُ مَا يَـكُوْنُ فِـيْ رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ ، وَكَانَ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ يَلْقَاهُ فِـيْ كُـّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَـيُـدَارِسُهُ الْـقُـرْآنَ ، فَلَرَسُوْلُ اللّٰـهِ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْـخَيْـرِ مِنَ الِرّيْحِ الْـمُرْسَلَةِ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan dengan kebaikan, dan lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril ‘alaihissallam bertemu dengannya. Jibril menemuinya setiap malam Ramadhân untuk menyimak bacaan Al-Qur’annya. Sungguh, Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dermawan daripada angin yang berhembus.”
Dari hadis tersebut kita ketahui bahwa beliau tadarus setiap malam pada bulan Ramadhan. Oleh karena itu, setiap muslim wajib mencontohnya.
Tadarus yang Mencerdaskan, Mencerahkan, dan Memajukan
Pencerdasan, pencerahan, dan pemajuan umat Islam dapat dilakukan melalui tadarus Al-Qur’an. Sudah pasti, tadarus yang dapat mencerdaskan, mencerahkan, dan memajukan umat Islam bukanlah tadarus yang dilakukan sekadar melafalkan ayat-ayat, melainkan tadarus yang dilakukan untuk memahami makna ayat-ayat tersebut dan juga mengamalkannya secara nyata dalam kehidupan. Pendek kata, hasil tadarus dibuktikan dengan penuh ketaatan mengerjakan perintah dan dengan penuh ketaatan pula meninggalkan larangan.
Kiranya kita perlu mengevaluasi apakah tadarus pada bulan Ramadhan selama ini telah berhasil mencerdaskan, mencerahkan, dan memajukan umat Islam. Untuk itu, kita dapat mengevaluasinya dengan parameter ketaatan muslim kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam tidak hanya pada bulan Ramadhan.
Firman Allah Subhanahau wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an yang berisi perintah agar kita taat kepada-Nya dan taat kepada Rasul-Nya sangat banyak. Berikut ini disajikan beberapa contoh.
Ali 'Imran (3):32
قُلْ اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ ۚ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْكٰفِرِيْنَ
“Katakanlah (Muhammad), Taatilah Allah dan Rasul. Jika kamu berpaling, ketahuilah bahwa Allah tidak menyukai orang-orang kafir.”
Ali 'Imran (3):132
وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَۚ
“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul (Muhammad) agar kamu diberi rahmat.”
An-Nisa (4):59
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا ﴿النّساء [٤]:٥٩﴾
“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
Masih banyak lagi firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berisi perintah taat kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya misalnya pada surat an-Nisa (4):80; al-Maidah (5):92; al-Anfal (8):46; an-Nur (24):54; asy-Syu'ara (26):108, 110, 126, 131, 144, 150, 163, 179, dan az-Zukhruf (43):63.
Evaluasi dapat kita lakukan terhadap empat aspek dalam berislam berikut ini.
Akidah
Pada akhir-akhir ini cukup banyak muslim yang mulai menyadari bahwa kisah kiai dapat berjalan di atas air merupakan ”pengeramatan” yang berlebihan sehingga tidak popular lagi. Kiai yang tiap hari tinggal di Indonesia, tetapi mengerjakan shalat Jumat di Masjidilharam dan berangkat pukul 11.00 WIB merupakan kisah yang juga tidak popular lagi. Kiai yang bercerita bahwa Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam pernah mengunjungi dan menyapanya justru ditertawakan.
Di sisi lain ada kiai yang langsung bershalawat dan berhenti berbicara karena merasa melihat Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam lewat di depannya ketika sedang melaksanakan taklim di depan jamaahnya. Oleh jamaahnya dia disebutnya sebagai kiai yang berilmu tinggi, sedangkan orang yang mempertanyakannya disebut ilmunya belum “nyampe”. Pada akhir-akhir ini malah ada pula orang yang menunjukkan “kedigdayaannya” dengan membuat konten.
Akhlak
Banyak kasus yang menyesakkan dada terjadi pada akhir-akhir ini karena sangat bertentangan dengan akhlakul karimah. Pelaku korupsi justru orang kaya dan bukan orang bodoh. Berdusta sepertinya dianggap tidak berdosa. Keserakahan berkuasa dianggap sebagai semangat berjuang demi kesejahteraan bangsa.
Guru mendisiplinkan murid dipolisikan. Namun, murid merundung guru, baik dengan ucapan maupun perbuatan, dibiarkan.
Pengendara moge ugal-ugalan di jalan dibiarkan. Mobil ambulance malahan tidak diberi jalan. Mengejar jambret malahan dijadikan tersangka. Jangan-jangan jago silat dipidana gegara melumpuhkan perampok yang bersenjata pedang. Aparat yang seharusnya memberantas barang selundupan, tetapi bekerja sama dengan penyelundup. Aparat yang semestinya memberantas narkoba, malah bekerja sama dengan bandar narkoba.
Bertahun-tahun menjadi guru honorer yang digaji Rp200.000,00-Rp400.000,00 tiap bulan disuruh bersabar dan agar tetap mengabdi. Beberapa pekan menjadi petugas MBG diangkat menjadi PPPK dan digaji lebih tinggi karena dianggap telah mengabdi lebih tinggi.
Ibadah
Masih banyak muslim yang mengerjakan amalan yang tidak diperintahkan dan tidak dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam. Namun, mereka justru tidak mengerjakan amalan yang diperintahkan dan dicontohkannya.
Setelah membaca tasyahud dan shalawat pada tahiyat awal kita dianjurkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam agar berdoa yang kita sukai sebagaimana dijelaskan di dalam HR an-Nasai dan Ahmad.
Di dalam HPT Jilid 3 (hlm.591-592) dikemukakan dua doa pilihan. Salah satu doa itu terdapat di HR al-Bukhari, yakni
اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنِي إِنَّكَ أَنْتَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Ya Allah! Sesungguhnya, aku telah berbuat zalim terhadap diriku sendiri dengan kezaliman yang banyak, dan tidak ada yang dapat mengampuni aku, kecuali Engkau. Oleh karena itu, ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu dan sayangilah aku. Sesungguhnya, Engkau Maha Pengampun Maha Penyayang."
Sementara itu, doa sebelum mengucapkan salam berikut ini diperintahkan juga oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana terdapat di dalam HR Muslim.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ، يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ
“Dari Abu Hurairah radiallahu ‘anhu mengatakan, Rasulullahi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Apabila di antara kalian telah tasyahud akhir, maka berlindunglah kepada Allah dari empat hal, beliau mengucapkan, Allahumma inni a’uzubika min ‘azabi jahannam, wa min ‘azabilqabri, wa min fitnatilmahya walmamati, wa min syarri fitnatil masihiddajjal.”
“Ya, Allah! Aku berlindung kepada-Mu dari siksa jahannam, siksa kubur, dari fitnahnya kehidupan dan kematian, dan dari keburukan fitnahnya al-Masih ad-Dajjal.”
Ada pertanyaan yang perlu kita jawab secara jujur: Berapa persenkah muslim yang mengamalkannya? Cukup banyak muslim yang melisankan niat shalat, padahal tidak ada perintah dan tidak ada pula contoh dari Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam. Malahan, ada juga imam shalat dengan bacaan jahar yang mengucapkan “rabbigh firlī waliwālidayya” setelah membaca “wa lad-dāllīn”. Makmum pun ikut mengucapkan “rabbigh firlī waliwālidayya”. Setelah itu, barulah mereka bersama-sama mengucapkan “āmīn.” Adakah perintah dan contoh amalan yang demikian dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam?
Cukup banyak jamaah haji yang memilih “mengqada” shalat dari subuh hingga subuh hari berikutnya sehingga 21 rakaat daripada shalat di pesawat. Alasannya: tidak “sreg” (tidak enak di hati) shalat di pesawat, padahal ada tuntunan thaharah dan shalat jamak qasar di kendaraan.
Muamalah Duniawi
Penolakan riba makin fenomenal. Para pelakunya umumnya anak muda. Cukup banyak di antara mereka yang memilih resign dari pekerjaan setelah mengetahui bahwa penghasilannya ternoda riba.
Tentu masih ada juga orang yang menikmati penghasilan yang sesungguhnya ternoda riba. Di samping itu, masih cukup banyak muslim yang melakukan transaksi utang-piutang tanpa pencatatan.
Tadarus dengan sekadar melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an hingga khatam sanget penting. Tadarus yang demikian mempunyai keutamaan. Namun, tadarus dengan mempelajari ayat-ayat secara tematis kiranya perlu kita pertimbangkan dalam ikhtiar mencerdaskan, mencerahkan, dan memajukan umat Islam sehingga dapat mewujudkan ketakwaannya dalam kehidupan nyata.
Bismillah!

