SUKOHARJO, Suara Muhammadiyah – Indonesia mayoritas penduduknya 87% dihuni oleh umat Islam. “230 juta umat Islamnya dari 270 juta,” beber Dadang Kahmad. Idealnya, Indonesia tergolong negara aman. “Tidak ada korupsi, perzinaan, perjudian,” tuturnya. Akan tetapi, realita di lapangan justru sangat jauh panggang dari api.
“Korupsi merajalela, itu banyak,” sebut Dadang. Demikian juga, mencakup zina. “Di mana-mana, merajalela,” ucapnya. Lebih-lebih lagi narkoba dan minuman keras marak ditemukan. Tak pelak, judi pun demikian masifnya. “Jadi bukan main-main,” ungkap Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut penuh prihatin.
Paradoks itu muncul di negeri ini. “Umat Islamnya 87%, tapi kemaksiatan yang ada dalam Al-Qur’an merajalela di sini,” tanya Dadang saat Pengajian Ahad Pagi Majelis Tabligh Muhammadiyah Cabang Blimbing di Pondok Pesantren Imam Syuhodo, Blimbing, Wonorejo, Polokarto, Sukoharjo, Jawa Tengah, Ahad (18/1).
Biang keroknya tipisnya iman. “Hanya dipermukaan saja,” bongkar Dadang. Tidak bisa tidak, disebutnya bahwa iman memegang kendali fundamental dalam diri seseorang, terlebih khusus lagi bagi orang Islam. “Tidak masuk ke dalam hati, tidak menjadi kepribadian kita, tidak terinternalisasi dalam kehidupan kita,” ujarnya, menggarisbawahi pokok pangkal relevansi keimanan itu.
Diungkap Dadang, kualitas imannya masih pasif. Tak menampilkan di permukaan, yang tampak jelas dari laku dan tindakan di lapangan kehidupan. “Aku-akuan saja, tidak merefleksi pada kehidupan,” ulasnya.
Jika menengok di Qs al-Anfal ayat 2, dikemukakan jika karakteristik orang beriman yang benar yaitu ada getaran (vibrasi) yang muncul di dalam hati ketika nama Allah disebut. “Kalau belum (muncul), berarti imannya belum benar,” jelasnya.
“Dan imannya bertambah saat mendengar ayat-ayat-Nya,” tambah Dadang. Di sinilah letak elan vital keimanan yang memperkuat basis substansial kehidupan umat Islam di muka bumi. “Ingat kepada Allah, ini semuanya karena Allah,” tandas Dadang. (Cris)

