Dakwah Digital Muhammadiyah di Tengah Disrupsi AI
Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah/ Ketua PDM Jakarta Timur
Di tengah arus perubahan teknologi yang semakin cepat, dakwah Islam menghadapi babak baru yang tidak hanya menantang, tetapi juga penuh peluang. Kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah menggeser cara manusia mengakses informasi, membentuk opini, bahkan memahami nilai-nilai keagamaan. Dalam konteks ini, Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi Islam modern terbesar di Indonesia tidak bisa berdiri di pinggir arus. Dakwah Muhammadiyah dituntut untuk tidak hanya beradaptasi, tetapi juga memimpin arah transformasi dakwah digital yang relevan, kredibel, dan mencerahkan.
Dakwah, dalam tradisi Muhammadiyah, bukan sekadar penyampaian ajaran agama, tetapi juga gerakan pencerahan (tanwir) yang berbasis pada rasionalitas, kemajuan, dan keberpihakan pada kemaslahatan umat. Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah telah menunjukkan kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap perubahan zaman mulai dari penggunaan media cetak, pendidikan modern, hingga pemanfaatan media elektronik. Namun, disrupsi AI menghadirkan tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan dengan gelombang teknologi sebelumnya.
AI tidak hanya mengubah medium dakwah, tetapi juga mengubah ekosistem pengetahuan itu sendiri. Jika sebelumnya otoritas keagamaan relatif terpusat pada ulama, lembaga, atau organisasi, kini otoritas itu terfragmentasi. Siapa pun dapat menjadi “penyampai dakwah” melalui platform digital, bahkan tanpa basis keilmuan yang memadai. Lebih jauh lagi, AI mampu menghasilkan konten keagamaan secara otomatis mulai dari tafsir ayat, ceramah singkat, hingga fatwa sederhana.
Fenomena ini memunculkan dua implikasi besar. Pertama, terjadi demokratisasi informasi keagamaan yang membuka akses luas bagi masyarakat. Kedua, muncul risiko distorsi ajaran akibat penyederhanaan, bias algoritma, bahkan manipulasi informasi. Dalam konteks ini, Muhammadiyah menghadapi dilema antara membuka ruang inovasi dan menjaga otoritas keilmuan.
AI juga mempercepat lahirnya apa yang dapat disebut sebagai “ulama algoritmik”. yakni sistem yang mampu menjawab pertanyaan keagamaan secara instan. Bagi generasi muda yang terbiasa dengan kecepatan dan efisiensi, AI sering kali menjadi rujukan pertama sebelum bertanya kepada guru atau ustaz. Jika tidak direspons dengan tepat, kondisi ini berpotensi menggeser peran lembaga dakwah tradisional.
Meskipun dikenal sebagai organisasi modern, Muhammadiyah tidak sepenuhnya bebas dari tantangan internal dalam menghadapi disrupsi AI. Pertama adalah kesenjangan literasi digital di kalangan kader. Tidak semua dai, guru, atau aktivis Muhammadiyah memiliki kemampuan memadai dalam memanfaatkan teknologi digital, apalagi AI.
Kedua adalah persoalan kelembagaan. Dakwah Muhammadiyah selama ini banyak bergantung pada struktur organisasi yang relatif formal dan hierarkis. Sementara itu, dunia digital menuntut fleksibilitas, kecepatan, dan kreativitas yang sering kali sulit dicapai melalui mekanisme birokratis.
Ketiga adalah tantangan narasi. Di ruang digital, dakwah tidak cukup hanya benar secara substansi, tetapi juga harus menarik secara penyajian. Algoritma media sosial cenderung memprioritaskan konten yang emosional, sensasional, dan mudah dicerna. Hal ini sering kali bertentangan dengan karakter dakwah Muhammadiyah yang rasional dan argumentatif.
Di balik berbagai tantangan tersebut, AI sejatinya menawarkan peluang besar bagi Muhammadiyah untuk memperluas jangkauan dan meningkatkan kualitas dakwah. Dengan pendekatan yang tepat, AI dapat menjadi alat yang memperkuat, bukan melemahkan, misi dakwah.
Pertama, AI dapat digunakan untuk personalisasi dakwah. Melalui analisis data, Muhammadiyah dapat memahami kebutuhan, preferensi, dan perilaku audiens secara lebih mendalam. Hal ini memungkinkan penyampaian pesan dakwah yang lebih relevan dan kontekstual, terutama bagi generasi muda.
Kedua, AI dapat membantu produksi konten dakwah secara lebih efisien. Dari pembuatan artikel, video, hingga desain grafis, AI dapat mempercepat proses kreatif tanpa mengorbankan kualitas. Tentu saja, peran manusia tetap penting sebagai kurator dan penjaga akurasi.
Ketiga, AI dapat dimanfaatkan untuk penguatan basis keilmuan. Muhammadiyah memiliki kekayaan khazanah pemikiran yang sangat besar, mulai dari fatwa, keputusan tarjih, hingga karya intelektual para tokohnya. Dengan teknologi AI, seluruh khazanah ini dapat didigitalisasi, diindeks, dan diakses secara lebih mudah oleh masyarakat luas.
Menghadapi disrupsi AI, Muhammadiyah perlu melakukan reorientasi dakwah yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga konseptual. Dakwah digital tidak boleh dipahami sekadar sebagai “memindahkan” ceramah dari mimbar ke layar, tetapi sebagai transformasi cara berpikir dan berkomunikasi.
Pertama, diperlukan perubahan paradigma dari “dakwah satu arah” menjadi “dakwah dialogis”. Di era digital, audiens tidak lagi pasif, tetapi aktif berinteraksi, bertanya, bahkan mengkritik. Muhammadiyah perlu membangun ruang-ruang dialog yang sehat dan produktif di platform digital.
Kedua, penting untuk mengembangkan pendekatan multidisipliner dalam dakwah. Isu-isu keagamaan saat ini tidak dapat dipisahkan dari konteks sosial, ekonomi, politik, dan teknologi. Oleh karena itu, dai Muhammadiyah perlu dibekali dengan wawasan lintas bidang agar mampu memberikan perspektif yang komprehensif.
Ketiga, Muhammadiyah perlu memperkuat identitas dakwahnya sebagai gerakan Islam berkemajuan. Di tengah banjir informasi dan polarisasi di ruang digital, masyarakat membutuhkan rujukan yang moderat, rasional, dan solutif. Ini adalah peluang besar bagi Muhammadiyah untuk tampil sebagai penyeimbang.
Muhammadiyah perlu mengembangkan strategi dakwah digital yang sistematis dan berkelanjutan agar tidak tertinggal dalam era AI. Terdapat langkah konkret yang dapat dipertimbangkan. Pertama, pembangunan infrastruktur digital terintegrasi. Muhammadiyah perlu memiliki platform digital yang terintegrasi, mulai dari website, aplikasi, hingga kanal media sosial. Platform ini tidak hanya berfungsi sebagai media informasi, tetapi juga sebagai pusat interaksi dan pembelajaran.
Kedua, pengembangan AI Islami berbasis tarjih Muhammadiyah. Salah satu langkah strategis adalah mengembangkan sistem AI yang berbasis pada manhaj tarjih Muhammadiyah. Dengan demikian, masyarakat dapat memperoleh jawaban keagamaan yang sesuai dengan prinsip-prinsip Muhammadiyah, bukan sekadar hasil agregasi data yang tidak terverifikasi.
Ketiga, peningkatan kapasitas SDM. Pelatihan literasi digital dan AI bagi kader Muhammadiyah menjadi kebutuhan mendesak. Dai masa depan tidak hanya dituntut menguasai ilmu agama, tetapi juga teknologi komunikasi.
Keempat, kolaborasi dengan ekosistem teknologi. Muhammadiyah tidak perlu berjalan sendiri. Kolaborasi dengan startup, akademisi, dan komunitas teknologi dapat mempercepat proses inovasi. Dalam hal ini, Muhammadiyah dapat berperan sebagai penyedia konten dan nilai, sementara mitra teknologi menyediakan infrastruktur dan keahlian teknis.
Kelima, produksi konten kreatif dan adaptif. Konten dakwah perlu dikemas dalam berbagai format yang sesuai dengan preferensi audiens, seperti video pendek, podcast, infografis, dan lain-lain. Kreativitas menjadi kunci untuk memenangkan perhatian di tengah persaingan konten digital.
Selain aspek teknis, Muhammadiyah juga perlu memberikan perhatian serius pada dimensi etika dalam penggunaan AI. Teknologi, pada dasarnya, bersifat netral. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sangat bergantung pada bagaimana manusia menggunakannya.
Dalam konteks dakwah, terdapat beberapa prinsip etika yang perlu dijaga. Pertama, kejujuran dan akurasi informasi. Konten dakwah tidak boleh mengorbankan kebenaran demi popularitas. Kedua, transparansi penggunaan AI. Masyarakat perlu mengetahui apakah suatu konten dihasilkan oleh manusia atau AI.
Ketiga, perlindungan privasi. Penggunaan data audiens harus dilakukan secara etis dan bertanggung jawab. Keempat, keadilan algoritma. Muhammadiyah perlu memastikan bahwa teknologi yang digunakan tidak memperkuat bias atau diskriminasi.
Disrupsi AI bukanlah ancaman yang harus dihindari, melainkan realitas yang harus dihadapi dengan kesiapan dan visi. Muhammadiyah memiliki modal besar untuk menjadi pelopor dakwah digital yang berkemajuan baik dari sisi sejarah, jaringan kelembagaan, maupun kekayaan intelektual.
Namun, modal tersebut tidak akan berarti tanpa keberanian untuk berubah. Dakwah Muhammadiyah harus bergerak dari sekadar adaptasi menuju inovasi. Dari sekadar mengikuti tren menuju menciptakan arah.
Di tengah dunia yang semakin kompleks, dakwah tidak cukup hanya menjawab pertanyaan, tetapi juga membimbing manusia untuk menemukan makna. AI mungkin mampu memberikan jawaban cepat, tetapi tidak selalu mampu memberikan kebijaksanaan. Di sinilah peran Muhammadiyah menjadi sangat penting untuk menghadirkan dakwah yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga mendalam secara spiritual.
Pada akhirnya, pertanyaan yang harus dijawab bukanlah apakah Muhammadiyah mampu bertahan di era AI, tetapi apakah Muhammadiyah mampu memimpin. Jika mampu memanfaatkan teknologi dengan bijak, menjaga integritas keilmuan, dan tetap berpijak pada nilai-nilai Islam berkemajuan, maka dakwah digital Muhammadiyah tidak hanya akan relevan, tetapi juga menjadi rujukan utama di tengah disrupsi zaman.
