Dakwah Tanpa Pensiun: Menjaga Keikhlasan dan Ukhuwah dalam Persyarikatan

Suara Muhammadiyah

10 January 2026

879
Istimewa

Istimewa

Dakwah Tanpa Pensiun: Menjaga Keikhlasan dan Ukhuwah dalam Persyarikatan

Oleh: Sonny Zulhuda, Dosen International Islamic University Malaysia

Masih dari acara Pembekalan PCIM Malaysia di Rumah Hamka Malaysia, pada Sabtu (10/1/2026) kian menghangat pada sesi kedua. Dengan tema besar “Islam Berkemajuan sebagai Pilar Gerakan Global Muhammadiyah di Malaysia,” peserta diajak menyelami sisi lain kekuatan Muhammadiyah: keikhlasan dalam berdakwah dan keteguhan dalam berorganisasi. 

Pesan-pesan itu disampaikan oleh dr. H. Agus Taufiqurrohman, Sp.S., M.Kes., Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang Pembinaan Kesehatan Umum, Kesejahteraan Sosial, dan Resiliensi Bencana.

Dengan gaya bertutur yang akrab ditambah canda segar, Pak Agus menegaskan bahwa dalam Muhammadiyah tidak dikenal istilah pensiun dari dakwah. 

Dakwah adalah tugas syar’i yang melekat sepanjang hayat, dilakukan tanpa pamrih dan tanpa henti. Karena itu, bila suatu saat seseorang harus mundur dari amanah, alasannya pun harus alasan yang syar’i. 

Pesan ini menjadi pengingat bahwa ber-Muhammadiyah bukan sekadar aktivitas organisasi, melainkan panggilan nurani dan ibadah yang berkelanjutan.

Ia juga mengingatkan dinamika alamiah dalam organisasi: selalu ada yang lama dan yang baru. Yang lama harus siap melepas dengan lapang dada, sementara yang baru harus siap menerima dengan penuh amanah. Kepercayaan menjadi mata uang utama dalam kepemimpinan. “Yang lama mempercayai, yang baru jangan mengkhianati,” pesannya. Hubungan antar-pengurus harus bersifat resiprokal—ingin dihormati dan sekaligus mau menghormati—agar roda organisasi berjalan dengan sehat dan bermartabat.

Khusus bagi PCIM dan PCIA Malaysia, Pak Agus menyampaikan bahwa setiap ikhtiar yang dilakukan hendaknya selalu mengarah pada yang terbaik. Ia merumuskan empat kunci penting: berperilaku penuh hikmah, senantiasa berkumpul dengan orang-orang baik, menjadi teladan masyarakat karena manfaatnya, dan pada akhirnya menjadi pewaris "jannatunnaim". 

Ia menguatkan kembali pesan Ketua Umum Prof Haedar Nashir bahwa PCIM adalah forum ukhuwah, yang dihidupkan dengan ta’aruf, tafahum, ta’awun dan takaful: saling mengenal, memahami, berkolaborasi dan saling menjamin. Dari ukhuwah itulah, kebahagiaan dalam ber-Muhammadiyah akan tumbuh dan dirasakan bersama.

Dalam arah gerakan, PP Muhammadiyah mendorong PCIM Malaysia untuk memfokuskan diri pada gerakan sosial-keagamaan yang berdampak luas, tidak terbatas pada ibadah mahdhah semata. Belajar dari PCIM Australia, pendirian sekolah Muhammadiyah yang mayoritas muridnya bukan warga Indonesia justru menghadirkan banyak keberkahan. Harapan pun disematkan pada inisiatif serupa di Malaysia. Dengan mengutip QS. Al-‘Ankabut ayat 69, Pak Agus menutup pemaparannya dengan optimisme: jalan keluar dan pertolongan Allah pasti terbuka bagi mereka yang bersungguh-sungguh. 

Dan itulah, menurutnya, rahasia Muhammadiyah mampu bertahan dan memberi manfaat selama lebih dari 113 tahun—karena akidah yang lurus, organisasi yang rapi, kepemimpinan yang tepat, dan keikhlasan para pengawalnya yang bekerja tanpa pamrih.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah - Momentum peringatan Nuzulul Quran, 122 siswa kelas 8 SMP Muhammadiya....

Suara Muhammadiyah

28 March 2024

Berita

Perkuat Kontribusi dalam Penjaminan Mutu Nasional BENGKULU, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhamm....

Suara Muhammadiyah

18 December 2025

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Majelis, Lembaga dan Pimpinan Ranting Se- Cabang Muhammadiyah Biringk....

Suara Muhammadiyah

16 December 2023

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh Makassar) ....

Suara Muhammadiyah

14 September 2026

Berita

SEMARANG, Suara Muhammadiyah – Semangat berbagi dan kepedulian sosial kembali ditunjukkan mela....

Suara Muhammadiyah

14 June 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah