SURABAYA, Suara Muhammadiyah — Kajian Ahad Pagi Majelis Tabligh PCM Lakarsantri berlangsung penuh antusias di Kompleks MIM 28, Jalan Tlogo Tanjung, Bangkingan, Surabaya, Ahad (16/8).
Kajian yang mengangkat tema “Dakwah Transformatif: Menguatkan Umat, Membangun Peradaban” menghadirkan Ketua Lembaga Dakwah Komunitas PP Muhammadiyah Muchamad Arifin.
Dalam tausiyahnya, Arifin menegaskan, dakwah transformatif merupakan bagian dari nafas dakwah Muhammadiyah. Dakwah tidak cukup hanya menyampaikan pesan agama dari atas mimbar, tetapi harus mampu menghadirkan perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat.
“Dakwah di Muhammadiyah bukan dakwah yang hanya berhenti di mimbar. Dakwah harus bergerak keluar dari mimbar, hadir di tengah masyarakat, menjawab persoalan umat dan menghadirkan kemanfaatan,” ujarnya.
Menurutnya, Al-Qur’an tidak boleh berhenti sebagai teks yang hanya dibaca, dipelajari, dan dihafalkan. Nilai-nilai Al-Qur’an harus diterjemahkan menjadi amal nyata yang memberikan manfaat bagi kehidupan.
Ia kemudian mengajak jamaah melihat QS. Al-Ma’un bukan sekadar ayat yang dibaca dalam ibadah, tetapi sebagai sumber inspirasi gerakan sosial. Pesan tentang kepedulian terhadap anak yatim, orang miskin, dan mereka yang membutuhkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
“Ketika Al-Qur’an dibumikan, ayat tidak lagi hanya menjadi pengetahuan. Ayat menjadi amal, amal menjadi gerakan, gerakan menghadirkan manfaat, dan manfaat itulah yang pada akhirnya ikut membangun peradaban,” jelasnya.
Hal yang sama, lanjutnya, dapat dilihat dari perintah membaca dan belajar dalam QS. Al-‘Alaq. Perintah membaca tidak berhenti pada aktivitas memperoleh pengetahuan, tetapi harus melahirkan manusia berilmu yang mampu memberikan solusi bagi persoalan kehidupan.
Demikian pula QS. An-Nisa ayat 58 yang mengajarkan amanah dan keadilan. Nilai tersebut dapat diterjemahkan menjadi pelayanan sosial, pemberdayaan ekonomi, pendampingan masyarakat, penguatan kelembagaan, hingga berbagai bentuk pelayanan kemanusiaan.
Arifin menjelaskan salah satu kekuatan dakwah Muhammadiyah adalah kemampuannya menerjemahkan nilai-nilai keislaman ke dalam gerakan nyata sesuai kebutuhan masyarakat.
Ia mencontohkan berbagai model dakwah yang dijalankan LDK PP Muhammadiyah, mulai dari penguatan dai di daerah 3T, pendampingan masyarakat pedalaman, penguatan mualaf melalui Mualaf Learning Center (MLC), pemberdayaan ekonomi, pendidikan, hingga penguatan ketahanan sosial masyarakat.
“Dakwah harus hadir sesuai kebutuhan umat. Ketika masyarakat membutuhkan pendidikan, dakwah hadir melalui pendidikan. Ketika membutuhkan pemberdayaan ekonomi, dakwah hadir melalui pemberdayaan. Ketika masyarakat membutuhkan pendampingan keagamaan, dai harus hadir di sana,” tuturnya.
Arifin turut menceritakan bagaimana dakwah tidak selalu berjalan dalam situasi yang mudah. Di sejumlah wilayah, para dai harus menempuh perjalanan panjang, berhadapan dengan keterbatasan akses, serta mendampingi masyarakat dalam proses yang membutuhkan kesabaran dan ketekunan.
Namun, justru di situlah dakwah menemukan maknanya sebagai gerakan perubahan.
Dakwah tidak hanya tentang seberapa banyak orang yang mendengarkan ceramah, tetapi tentang seberapa jauh nilai agama mampu mengubah kehidupan manusia menjadi lebih baik.
Arifin menggambarkan dakwah transformatif sebagai sebuah perjalanan: dari ayat menjadi amal, dari amal menjadi gerakan, dari gerakan menjadi manfaat, dan dari manfaat menuju peradaban.
Menurutnya, inilah salah satu karakter dakwah Muhammadiyah yang sejak awal tidak memisahkan antara pemahaman keagamaan dan amal sosial.
“Dari mimbar kita menyampaikan nilai. Setelah itu nilai harus dibawa ke medan kehidupan. Dari kata menjadi karya. Dari ilmu menjadi amal. Dari amal menjadi gerakan yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Bagi Arifin, membumikan Al-Qur’an berarti menjadikan wahyu sebagai sumber perubahan. Al-Qur’an memberi nilai, manusia menerjemahkannya dalam tindakan, kemudian tindakan tersebut dilakukan secara terorganisasi sehingga melahirkan gerakan yang memberikan manfaat luas.
“Kalau Al-Qur’an hanya dibaca, kita mendapatkan pahala membaca. Tetapi ketika nilai Al-Qur’an kita hidupkan dalam kehidupan, maka lahirlah perubahan. Dari perubahan itulah peradaban dibangun,” ungkapnya.

