JAKARTA, Suara Muhammadiyah — Masjid Muhammadiyah Nurul Haq, Kebon Baru, Tebet, menjadi saksi semangat kebersamaan umat Islam dalam Gerakan Silaturahim dan Sholat Subuh Berjamaah (GS3B) yang digelar pada Sabtu, 3 Januari 2026 atau bertepatan dengan 13 Rajab 1447 H. Sejak pukul 04.00 WIB, jamaah dari berbagai kalangan memadati masjid untuk menunaikan sholat Subuh berjamaah sekaligus mengikuti rangkaian tausiyah dan silaturahim.
Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah tokoh dan penggerak dakwah, di antaranya Habib Umar bin Idrus Alathos selaku Ketua Umum GS3B, Prof. Dr. Muhbib Abdul Wahab sebagai pemateri, serta jajaran pengurus masjid dan masyarakat sekitar. Sholat Subuh dipimpin oleh Ust. Heri B. Jauhari, dengan acara dipandu oleh Kresno Budhi Putranto.
Dalam sambutannya, H. Elfizar Asri, Ketua DKM Masjid Nurul Haq, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya GS3B di lingkungan Kebon Baru. Ia mengapresiasi antusiasme jamaah yang hadir sejak dini hari sebagai bukti kecintaan terhadap masjid dan ibadah Subuh berjamaah.
Ia menegaskan bahwa GS3B bukan sekadar agenda seremonial, melainkan bagian dari upaya berkelanjutan untuk menghidupkan sholat Subuh berjamaah, menjauhkan umat dari sifat munafik, serta membuka pintu keberkahan dan rezeki dari Allah SWT.
“Sholat Subuh berjamaah memiliki keutamaan besar. Dalam hadits riwayat Muslim disebutkan, pahalanya setara dengan sholat satu malam penuh. Karena itu, mari kita istiqomahkan, tidak hanya saat ada acara, tetapi dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Ketua DKM juga berharap GS3B dapat terus membumi di Kebon Baru dan menjadi inspirasi bagi masjid-masjid lain, sekaligus memohon maaf atas segala keterbatasan pelayanan masjid.
Selanjutnya, Habib Umar bin Idrus Alathos dalam sambutannya menekankan bahwa GS3B adalah gerakan ruhani dan sosial yang berangkat dari kesadaran paling dasar umat Islam: sholat Subuh berjamaah.
Menurutnya, Subuh adalah waktu ujian keimanan sekaligus titik awal perubahan. Masjid yang hidup di waktu Subuh menandakan umat yang memiliki kedisiplinan spiritual dan kekuatan ukhuwah.
Habib Umar juga mengajak jamaah untuk menjadikan masjid sebagai ruang silaturahim, saling mengenal, saling mendoakan, dan saling menguatkan di tengah tantangan kehidupan modern. Ia menegaskan bahwa persatuan umat tidak lahir dari wacana besar, melainkan dari kebiasaan kecil yang dilakukan bersama secara konsisten.
Puncak acara diisi dengan tausiyah oleh Prof. Dr. Muhbib Abdul Wahab yang mengangkat tema “Aktualisasi Ukhuwah Islamiyyah”. Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa ukhuwah merupakan fitrah kemanusiaan sekaligus inti ajaran Islam yang harus terus dihidupkan.
Ia mengulas bagaimana Nabi Muhammad SAW membangun masyarakat Madinah melalui kebijakan strategis, di antaranya memfungsikan masjid sebagai pusat peradaban, mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, serta membangun sistem sosial yang adil dan bermoral.
Menurut Prof. Muhbib, salah satu penyebab utama lemahnya ukhuwah umat Islam hari ini adalah konflik internal, fanatisme sempit, dan ketidakmampuan menerima perbedaan. Padahal, ukhuwah menuntut sikap lapang dada, saling menghormati, dan kerja sama dalam kebaikan.
Ia juga menekankan bahwa ukhuwah yang sejati harus didasari keikhlasan, berlandaskan syariat, serta melahirkan solidaritas sosial yang nyata, baik dalam skala lokal maupun global.
Kegiatan GS3B Kebon Baru Tebet menegaskan bahwa sholat Subuh berjamaah bukan hanya ibadah individual, tetapi juga gerakan sosial-religius yang mampu memperkuat persaudaraan, membangun kedisiplinan spiritual, dan menghidupkan kembali fungsi masjid sebagai pusat umat.
Panitia berharap, GS3B dapat terus berlanjut dan menjadi pemantik lahirnya komunitas jamaah Subuh yang istiqomah, solid, dan berkontribusi positif bagi lingkungan sekitar. (Dimas)

