YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menganugerahkan UMY Awards 2026 kepada Shamsi Ali, M.A., Ph.D., seorang ulama asal Kajang, Bulukumba, Sulawesi Selatan, yang kini dikenal sebagai salah satu tokoh Islam paling berpengaruh di Amerika Serikat.
Penghargaan tersebut diserahkan dalam Rapat Senat Terbuka yang digelar di Gedung AR Fachruddin B Lantai 5, Kampus Terpadu UMY, Sabtu (23/5).
UMY Awards 2026 dianugerahkan langsung oleh Rektor UMY, Prof. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc., didampingi Ketua Tim Seleksi Dr. Suswanta dan Sekretaris Tim Seleksi Prof. Dr. Suciati, M.Si. Acara tersebut turut dihadiri jajaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Diantaranya Ketua PP Muhammadiyah dr Agus Taufiqurrahman, Dr Agung Danarto dan Dr Busyro Muqoddas.
Shamsi Ali terpilih dari sembilan kandidat yang masuk dalam proses seleksi UMY Awards tahun ini. Nurmandi menyebut pemilihan Shamsi Ali bukan sekadar bentuk apresiasi atas rekam jejak personal, melainkan juga pernyataan sikap universitas terhadap situasi global yang semakin dinamis dan penuh tantangan.
Dalam pidatonya, Imam Shamsi Ali menyebut jumlah Muslim di Amerika Serikat saat ini diperkirakan telah mencapai 10 hingga 15 juta jiwa. Angka tersebut jauh melampaui data resmi pemerintah yang hanya mencatat sekitar 5 hingga 7 juta Muslim.
“Data resmi yang ada saat ini masih undercounting. Jumlah sesungguhnya telah melampaui dua kali lipat angka yang dipublikasikan,” ujar Shamsi Ali di hadapan civitas academica UMY dan tamu undangan.
Menurut Shamsi Ali, kesenjangan data tersebut bukan sekadar persoalan teknis pendataan. Ia menilai terdapat kecenderungan pengaburan terhadap eksistensi dan kontribusi komunitas Muslim di Amerika Serikat yang berlangsung cukup lama.
Ia juga memaparkan profil komunitas Muslim Amerika Serikat yang dinilainya berbeda dari stereotipe yang selama ini berkembang di masyarakat. Mengutip data Pew Research Center, Shamsi Ali menyebut sebanyak 58 persen Muslim di Amerika Serikat berusia di bawah 40 tahun. Dari sisi pendidikan, sekitar 44 persen Muslim Amerika memiliki gelar sarjana atau lebih tinggi, melampaui rata-rata nasional yang berada di angka 33 persen.
“Kebanyakan dari mereka mendominasi bidang kedokteran, teknologi informasi, teknik, dan hukum,” imbuhnya.
Pertumbuhan demografi tersebut, lanjut Shamsi Ali, turut tercermin dari meningkatnya jumlah masjid di Amerika Serikat, dari sekitar 200 masjid pada awal 1960-an menjadi lebih dari 4.500 masjid saat ini. Ia bahkan menyebut Kota New York memiliki lebih dari 300 masjid.
“Sekitar 20 hingga 25 persen Muslim di Amerika Serikat saat ini adalah mualaf, mayoritas berasal dari kalangan Afrika-Amerika dan Latin. Dalam tren terbaru, gelombang konversi juga mulai datang dari kelompok yang sebelumnya jarang dikaitkan dengan Islam, yaitu warga kulit putih Amerika,” ungkapnya.
Fenomena tersebut, menurut Shamsi Ali, terjadi karena Islam dipandang sebagai agama yang rasional, berimbang, dan mampu menjawab kekosongan spiritual yang tengah dialami sebagian masyarakat Amerika.
Dengan tingkat fertilitas Muslim Amerika Serikat yang disebut mencapai 2,7 persen, Shamsi Ali memproyeksikan pengaruh komunitas Muslim akan terus meningkat di masa depan. Pada 2050, ia memperkirakan populasi Muslim mungkin masih berada pada kisaran 3 hingga 5 persen dari total penduduk Amerika Serikat, tetapi memiliki pengaruh sosial, ekonomi, dan politik yang jauh lebih besar.
“Pengaruhnya bisa mencapai 15 hingga 20 persen di berbagai sektor kehidupan nasional,” jelasnya.
Rektor UMY, Prof. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc. menegaskan bahwa UMY Award 2026 diberikan atas kontribusinya dalam pengembangan dakwah dan komunitas Islam di Amerika Serikat selama puluhan tahun.
“Beliau berada dalam konteks yang sangat relevan dengan situasi dunia saat ini. UMY ingin menyampaikan pesan bahwa ada peran penting yang harus dimainkan, terutama oleh negara-negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia,” ujar Achmad Nurmandi dalam sambutannya.
Nurmandi juga menyoroti posisi Indonesia di tengah dinamika geopolitik global yang saat ini banyak dipengaruhi kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Menurutnya, Indonesia seharusnya mampu tampil sebagai kekuatan penyeimbang, bukan sekadar mengikuti arus politik internasional.
Shamsi Ali diketahui merupakan Imam dan Direktur Jamaica Muslim Center, New York, salah satu komunitas Muslim terbesar di Kota New York. Ia juga menjabat sebagai Presiden Nusantara Foundation, lembaga yang tengah membangun pesantren pertama di Amerika Serikat.
Kiprahnya di Amerika Serikat dimulai sejak 1996, ketika ia diminta memimpin komunitas Muslim di New York City.
Pasca tragedi 11 September 2001 (9/11), Shamsi Ali menjadi salah satu tokoh agama yang mendampingi Presiden Amerika Serikat dalam kunjungan pertama ke Ground Zero. Ia juga mewakili komunitas Muslim Amerika dalam doa nasional pasca tragedi 9/11 di New York City.
Sejak 2002 hingga 2014, Shamsi Ali diamanahi sebagai Imam Besar Islamic Center of New York. Namanya juga masuk dalam daftar 500 Muslim paling berpengaruh di dunia versi Georgetown University dan The Royal Islamic Strategic Studies Centre, Yordania, selama empat tahun berturut-turut pada 2010–2014.
Nurmandi mengapresiasi komitmen Shamsi Ali yang telah menetap dan berdakwah di Amerika Serikat selama lebih dari tiga dekade.
“Tidak banyak orang Indonesia yang mau tinggal lama di luar negeri. Pak Shamsi Ali ini luar biasa, putra Kajang yang menjadi imam di New York. Imam di sana bisa dikatakan memiliki posisi sosial yang sangat strategis,” tegas Nurmandi. (ID/Riz)

