PANDEGLANG, Suara Muhammadiyah - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Dr. Fajar Riza Ul Haq, M.A. mendorong Pemuda Muhammadiyah Pandeglang memperkuat budaya belajar keluarga sebagai fondasi lahirnya sumber daya manusia unggul dan calon pemimpin masa depan.
Hal itu disampaikan Fajar saat menjadi pembicara kunci dalam Pengajian Daerah PDM Pandeglang dan Pengukuhan Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Pandeglang Periode 2026–2030, di Gedung BPSDMD Provinsi Banten, Pandeglang, Ahad (28/6). Kegiatan tersebut mengangkat tema “Negarawan dan Muhammadiyah dalam Membangun Peradaban.”
Dalam arahannya, Fajar menegaskan bahwa kepemimpinan tidak lahir secara instan. Menurutnya, seorang pemimpin ditempa melalui proses panjang: belajar dari bawah, menghadapi tantangan, membangun daya tahan, serta terus memperkuat karakter dan kapasitas diri.
“Menjadi pemimpin tidak instan. Ada proses merangkak dari bawah, ada tempaan, ada kerja keras. Karena itu, pola asuh keluarga menjadi penting agar anak-anak kita tumbuh dengan daya tahan dan resiliensi yang kuat,” ujar Fajar.
Fajar mengatakan, tema negarawan tidak boleh dipahami secara sempit sebagai jabatan politik. Negarawan, menurutnya, adalah sikap hidup yang dibangun sejak dini melalui keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial: berpikir jauh, berakhlak, memiliki daya tahan, serta mampu bekerja untuk kepentingan umat, bangsa, dan masa depan daerah.
Ia menekankan bahwa kemajuan daerah tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam, tetapi terutama oleh kualitas sumber daya manusia. Daerah yang memiliki potensi besar tidak otomatis maju apabila tidak ditopang budaya belajar yang kuat.
“Daerah yang kaya tidak menjamin masyarakatnya sejahtera. Kemajuan daerah sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusianya. Dan SDM yang berkualitas lahir dari budaya belajar yang kuat,” tegasnya.
Fajar mengingatkan bahwa Indonesia memiliki modal demografi besar. Data BPS menunjukkan jumlah pemuda Indonesia pada 2024 mencapai sekitar 64,22 juta jiwa, atau sekitar seperlima penduduk Indonesia. Namun, pemuda yang menyelesaikan pendidikan hingga perguruan tinggi baru 11,39 persen.
Karena itu, menurut Fajar, agenda kepemudaan tidak cukup berhenti pada mobilisasi dan kegiatan organisasi. Pemuda harus diarahkan pada peningkatan kapasitas, pendidikan, keterampilan, kepemimpinan, serta kesiapan membangun keluarga.
“Pemuda Pandeglang harus berani menjadi sarjana, magister, bahkan doktor. Selalu ada jalan bagi mereka yang memiliki kemauan,” ujar Fajar.
Menurutnya, budaya belajar harus dimulai dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga. Anak-anak belajar dari contoh paling dekat dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari membuang sampah pada tempatnya, disiplin, menghargai waktu, hingga membangun kebiasaan membaca.
“Anak belajar dari lingkungan terdekat. Maka keluarga, terutama orang tua, menjadi faktor penting dalam membentuk karakter dan kebiasaan belajar anak,” ungkapnya.
Pesan tersebut sejalan dengan kajian World Bank dalam Building Human Capital Where It Matters: Homes, Neighborhoods, and Workplaces yang menegaskan bahwa pembentukan kualitas manusia tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi juga di rumah, lingkungan, dan tempat kerja. Rumah menjadi ruang penting dalam membentuk kesehatan, pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan hidup anak sejak dini.
Fajar juga menyoroti tantangan pola asuh di era digital. Ia mengingatkan bahwa anak-anak usia dini, bahkan di bawah lima tahun, kini sudah akrab dengan telepon genggam dan media sosial. Kondisi ini membuat anak berisiko lebih banyak diasuh oleh algoritma digital daripada oleh interaksi langsung dengan keluarga.
Menurut Fajar, ketergantungan pada gawai dan paparan konten digital berlebihan dapat berdampak pada konsentrasi belajar, kedalaman berpikir, dan tumbuh kembang anak. Ia menyebut fenomena yang populer disebut sebagai brain rot sebagai peringatan agar orang tua lebih serius memperhatikan pola asuh digital di rumah.
“Jangan sampai anak-anak kita sejak kecil lebih banyak diasuh oleh algoritma TikTok, Instagram, dan media sosial lainnya. Mulai sekarang, perhatikan pola asuh dan budaya belajar anak di rumah,” katanya.
Panduan keluarga di era digital yang diterbitkan UNESCO dan Réseau Canopé/CLEMI pada 2026 juga menegaskan bahwa orang tua dan pendidik sering merasa belum cukup siap mendampingi anak menghadapi screen time, media sosial, disinformasi, cyberbullying, dan kecerdasan buatan. Karena itu, sekolah saja tidak cukup; apa yang dibangun di kelas harus berlanjut di rumah melalui dialog, keteladanan, dan kepercayaan antara orang tua dan anak.
Fajar juga mengingatkan bahwa ruang kepemimpinan masa depan harus diisi oleh anak-anak muda yang memiliki karakter, komitmen, dan kapasitas. Menurutnya, komposisi pemerintahan hari ini menunjukkan bahwa ruang pengabdian terbuka bagi berbagai generasi, baik senior maupun muda.
“Sudah saatnya orang-orang muda mengisi posisi-posisi strategis di daerah. Tetapi harus didasari karakter, komitmen, dan kapasitas,” katanya.
Menutup arahannya, Fajar mengajak Pemuda Muhammadiyah Pandeglang memperkuat kolaborasi dalam kebaikan. Ia mengutip semangat ta’awanu ‘alal birri wat taqwa, yakni saling menolong dalam kebajikan dan ketakwaan.
Menurutnya, Pemuda Muhammadiyah harus menjadi bagian dari gerakan kolaboratif untuk membangun pendidikan, keluarga, dan masyarakat. Dengan karakter kuat, budaya belajar tinggi, dan semangat gotong royong, pemuda dapat menjadi kekuatan penting dalam mewujudkan generasi emas.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Bupati Pandeglang Iing Andri Supriadi, Rektor Universitas Muhammadiyah Tangerang Dr. H. Desri Arwen, M.Pd., Ketua PDM Pandeglang Dr. H. Ukun Kurnia, M.Pd., serta Direktur Eksekutif MAARIF Institute Andar Nubowo, DEA., Ph.D.

