DEPOK, Suara Muhammadiyah – Dunia saat ini tengah menghadapi perubahan realitas sosial yang makin masif. Yakni berupa kondisi politik ekonomi dan kebudayaan secara luas, baik di nasional bahkan di level global.
“Perubahan-perubahan itu tentu buah tangan dari peran manusia, baik yang punya dampak konstruktif maupun pada dampak yang negatif,” jelas Haedar Nashir, menyebut sisi lain perubahan juga terjadi di kehidupan sosial kemasyarakatan, sampai ruang lingkup yang lebih makro.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2020 menyingkap, sekitar 56,7% mayoritas penduduknya menetap di perkotaan. “Selebihnya di pedesaan,” ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu.
Pada tahun 2025, terjadi eskalasi sebesar 60,7%, penduduk yang menetap di wilayah perkotaan. DTren ini diprediksi akan terus meningkat, di mana data Bank Dunia memproyeksikan, pada tahun 2045, sebanyak 70% penduduk Indonesia akan terkonsentrasi di kawasan perkotaan.
“Dulu kita membaca urbanisasi, migrasi orang desa ke kota karena pekerjaan dan hal-hal lain. Tapi, sekarang kota menyerbu desa,” sebutnya, Senin (13/4) saat Kuliah Umum di Balai Sidang Universitas Indonesia Pondok Cina, Beji, Kota Depok, Jawa Barat.
Realitas ini tidak dapat dipungkiri akan memengaruhi rancang bangun tata ruang Indonesia pada masa depan. Perubahan tersebut kemudian menimbulkan dampak sosial berupa pergeseran orientasi dari paguyuban ke patembayan.
“Relasi-relasi sosial makin individualistik, makin cenderung tidak peduli sesama atau tetangga, bahkan tuntutan-tuntutannya juga banyak hitungan materialistik,” beber Haedar.
DI sisi lain, ada juga fenomena revolusi komunikasi dan teknologi informasi dengan basis digitalisasi yang menyeruak dalam kehidupan. Hal demikian itu meniscayakan terciptanya realitas baru dalam kehidupan masyarakat.
“Dulu disebut lewat teknologi digital adalah relasi maya, tapi sekarang sudah menjadi realitas nyata,” tuturnya.
Fakta di lapangan menunjukkan, sekitar 79,72 persen penduduk Indonesia merupakan pengguna ponsel, dengan jumlah koneksi seluler aktif mencapai 354 juta.
“Ini bukan sekadar alat, tetapi ini media yang bisa menjadi pemicu perubahan sosial yang mempengaruhi orientasi berpikir, bertindak, dan relasi sosial antar kita,” tegas Haedar.
Menukil Jean Baudrillard, saat ini kehidupan masyarakat berada dalam kungkungan simulacra dunia digital dan media sosial. Di mana, tampilan yang ditampilkan seolah nyata tetapi sejatinya sarat dengan rekayasa.
“Realitas buatan yang berubah menjadi realitas nyata yang bisa menjungkirbalikkan apa saja,” imbuhnya.
Yang hal demikian itu, telah membuat tatanan nilai kehidupan menjadi centang perenang. Ada jarak yang lebar antara nilai dan laku manusia, yang itu jelas tampak dengan kentaranya di era saat ini. (Cris)
