YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Gempuran zaman yang begitu rupa, menuntut semua orang untuk beradaptasi secepat mungkin. Ini merupakan upaya agar tidak tertinggal oleh rus perubahan yang semakin deras. Demikian halnya dengan Suara Muhammadiyah.
Media warisan brilian Dahlan dan Fachroodin ini bertahan sampai sekarang karena tidak stagnan dalam membaca realitas zaman. Titik pangkalnya melakukan perubahan sangat fundamental untuk memekarkan dirinya menjadi media Persyarikatan berkemajuan.
Beberapa hal dilakukan pertama, branding. “Branding itu sangat penting,” tegas Deni Asy’ari. Tidak bisa tidak. Suara Muhammadiyah yang notabene majalah tertua di Indonesia sebagai aset terbesar dan masih mentereng sampai sekarang. “Itu kuncinya ada di brandingnya,” sebut Deni.
Karenanya, saat ini, Deni tengah memperkuat branding untuk meluaskan spektrum pergerakan Suara Muhammadiyah di daerah-daerah. “Kalau branding-nya tidak kita perkuat, maka orang tidak akan melirik. Maka saya perkuat brandingnya,” jelasnya.
Kedua, digitalisasi. Direktur Utama PT Syarikat Cahaya Media / Suara Muhammadiyah itu menyebut, era digital menjadi tantangan terberat bagi media. “Kita harus masuk ke ranah digital,” ungkapnya. Dan itu tuntutan niscaya yang tidak bisa dinafikan.
Langkah konkret yang dilakukan berupa membangun portal berita online, memperkuat media sosial. “Agar jangkauannya lebih luas, terutama bagi generasi muda,” ujarnya saat Annual Meeting Iframe 2026 Welcome 2026: Thank Allah, Truet Allah, Break Through bersama Bank Syariah Indonesia Cabang Yogyakarta, Selasa (20/1).

Ketiga, diversifikasi usaha. Diakui Deni, bahwa saat ini nyaris sulit hanya berpokok pangkal pada satu aspek usaha di bidang majalah. Suara Muhammadiyah terus melakukan ekspansi secara bertahap dan berkelanjutan agar ekosistem media ini tidak mati. “Kita harus membangun unit-unit bisnis baru yang menopang keberlangsungan media ini,” urainya.
Manifestasi yang telah dilakukan Deni yakni dengan membangun SM Tower, pusat logistik, Logmart, BulogMu, dan deretan usaha-usaha kontemporer lainnya. Ini merupakan model urat nadi usaha yang tengah diejawantahkan Suara Muhammadiyah. “Semua Ini adalah upaya agar Suara Muhammadiyah memiliki kemandirian ekonomi,” ulas Deni.
Dan, yang keempat, termasuk juga menjadi hal paling substansial melakukan perbaikan sumber daya manusia (SDM). Dibentangkan Deni, Suara Muhammadiyah saat ini mendominasi generasi muda. “Hampir semuanya anak-anak baru. Kita rekrut anak-anak muda,” bebernya, yang disebutnya memiliki orientasi dan visi simetris untuk bertungkus lumus memajukan media ini. “Kita berikan pelatihan-pelatihan, kita tanamkan etos kerja yang profesional,” tambahnya.
Semua ini merupakan pantulan dari upaya Suara Muhammadiyah beraklimatisasi dengan perubahan zaman. “Perubahan itu memang berat, banyak tantangan,” singkap Deni. Namun demikian, tidak ada jalan lain selain menerjang dan menghadapi dengan sokongan pion-pion baru dan siasat-siasat tersistem yang telah dirancang bangun sedemikian rupa. “Kalau kita tidak berubah, kita akan mati,” tandasnya. (Cris)

