Deni Asy'ari Dorong Lahirnya Activispreneur di Kalangan Mahasiswa

Suara Muhammadiyah

1 February 2026

629
Deni Asy’ari, MA., Dt Marajo. Foto: Pasra (Magang)

Deni Asy’ari, MA., Dt Marajo. Foto: Pasra (Magang)

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Di tengah landskap sosial dan politik yang terus berubah, ditambah dengan menguatnya era digital, niscaya mentransformasi paradigma publik terhadap denyut nadi gerakan mahasiswa.

Demikian diungkap Deni Asy’ari. Gerakan mahasiswa sekarang berada pada posisi yang dilematis. “Antara terus menjadi gerakan intelektual di menara gading atau melakukan transformasi gerakan baru,” tuturnya.

Berbeda dengan gerakan mahasiswa tahun 1966 (peristiwa orde lama), tahun 1974 (Malari), tahun 1978 (NKK/BKK) dan tahun 1998 (Orde Baru), disebutnya, masih mendapatkan ruang kepercayaan dan dukungan sosial yang tinggi dari masyarakat.

Mencermati transformasi tersebut, maka gerakan dan aktivis mahasiswa perlu melakukan adaptasi dan perubahan terhadap karakter dan wajah gerakannya.

" Sudah saatnya aktis mahasiswa membangun gerakanya dengan wajah baru yang dikenal dengan Activispreneur", tutur Deni dalam paparannya saat pelantikan PC IMM Sleman di Aula Kantor DPD RI DIY, Kusumanegara, Yogyakarta, Ahad (1/2).

Direktur Utama Suara Muhammadiyah tersebut menyebut, Activispreneur adalah mereka yang hadir dalam gerakan sosial dengan fondasi ekonomi yang kuat, pemikiran yang matang, serta tujuan perjuangan yang tidak lagi dicemari oleh kepentingan pribadi.

“Mereka bukan aktivis yang menjadikan organisasi sebagai “tangga” menuju jabatan, bukan pula yang sekadar bersuara lantang namun rapuh secara ekonomi,” jelasnya, tegas.

Kendati pada tesmak yang lain, penekanan Activispreneur menjangkarkan pada aktivis yang menghidupi idealisme melalui kemandirian. Pun demikian didukung oleh basis nilainya, terletak pada pokok pangkal intelektualitas, moralitas, relegiusitas dan kemandirian serta inovasi.

“Sehingga seorang activispreneur bukan orang yang hanya bisa bersuara lantang, tapi tidak memiliki kemandirian ekonomi,” terangnya.

Pada saat yang sama, Deni menambahkan, sering sekali terjadi di ruang publik, idealisme seorang aktivis gerakan terhenti (stagnan) bukan karena hilangnya idealime, akan tetapi karena berhadapan dengan realitas kehidupan yang nyata, lebih-lebih sangkutpautnya terkait ekonomi.

“Bahkan tidak jarang para mantan aktivis yang menjadi beban dan masalah sosial baru ketimbang menjadi problem solver,” ujarnya.

Hal ini menurut Wakil Sekretaris 1 Majelis, Bisnis, dan Pariwisata Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut, karena ketidakmampuan aktivis beradaptasi dengan perubahan sosial yang terjadi secara menggurita.

Di situlah Deni mengajak para kader IMM untuk mulai menjadikan pengkaderan dan gerakannya untuk melahirkan aktivisprenenur tersebut. Karena menurutnya, membangun mentalitas enterprneneur tidak bisa ujug-ujug. Tetapi butuh ekosistem dan sircle yang mendukung tumbuhkembangnya mindset interpreneneur.

"Ciptakan sircle dan ekosistem baru dilingkungan organisasi yang berbasis pada budaya inovatif, budaya berani, budaya kolaborasi, budaya memecahkan masalah. Semuanya ini, bagian dari proses untuk membangun sircle tersebut," tandas Deni. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

Pusat Pengembangan Bahasa dan BIPA (P2B.BIPA) Uhamka terpilih menjadi sentra tes ke-6 untuk TOEFL IT....

Suara Muhammadiyah

18 June 2025

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Perlu diingat bahwa wisuda merupakan titik awal dari perjala....

Suara Muhammadiyah

22 May 2025

Berita

BANJARMASIN, Suara Muhammadiyah - Setelah tiga hari berlangsung, akhirnya CRM Award VI Banjarmasin (....

Suara Muhammadiyah

15 November 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Prestasi kembali diraih mahasiswa dari perguruan tinggi Muhammadiya....

Suara Muhammadiyah

25 October 2023

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Dalam Islam kejayaan umat Islam akan selalu berbanding lurus dengan....

Suara Muhammadiyah

4 May 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah