YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah — Regenerasi petani menjadi salah satu tantangan serius bagi keberlanjutan sektor pertanian Indonesia. Di tengah dominasi petani dari generasi tua, kesadaran generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian dinilai masih perlu terus ditumbuhkan.
Hal itu menjadi perhatian Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam sebuah forum yang diberi nama Geger Tani (Gerak dan Geliat Pertanian). Acara yang terselenggara dalam rangka memperingati Hari Tani Nasional 2026, forum bagi generasi petani milenial tersebut menghadirkan 3 narasumber muda. Meraka, Riza Azumardi Azra CEO Mocaf Indonesia, Agam dari Komisaris Tresno Jamu.
Para peserta diajak melihat pertanian bukan sekadar pekerjaan tradisional, melainkan sektor strategis yang menawarkan ruang luas bagi inovasi, kewirausahaan, dan penguatan kedaulatan pangan.
Nurul Yamin, Ketua MPM PP Muhammadiyah mengatakan, keterlibatan generasi muda dalam pertanian menjadi penting karena masa depan pertanian Indonesia sangat bergantung pada proses regenerasi petani.
“Belum banyak generasi milenial yang memiliki kesadaran untuk bertani. Kekhawatiran ini muncul karena regenerasi petani sangat penting, sementara petani kita hari ini didominasi generasi tua,” ujarnya.
Menurut dia, generasi muda perlu didorong untuk menggeluti pertanian dengan pendekatan yang lebih efektif dan efisien. Dengan kreativitas dan pemanfaatan teknologi, pertanian dinilai dapat menjadi bidang yang menarik sekaligus memiliki nilai ekonomi.
Pandangan serupa disampaikan Wahyudi Nasution, Ketua Jamaah Tani Muhammadiyah (Jatam). Ia menekankan bahwa kedaulatan pangan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk generasi muda.
“Kita perlu berpikir, berbuat dan berjihad untuk kedaulatan pangan,” kata Wahyudi.
Ia menyoroti persoalan klasik yang selama ini melekat pada profesi petani, yakni anggapan bahwa petani identik dengan kemiskinan. Menurutnya, persepsi tersebut perlu menjadi bahan diskusi bersama karena kehidupan manusia tidak pernah terlepas dari persoalan pangan.
“Petani kita masih identik dengan kemiskinan. Inilah yang perlu kita diskusikan. Karena hidup kita tidak dapat dilepaskan dari urusan pangan,” ujarnya.
Singkong Didorong Naik Kelas

Semangat mengubah wajah pertanian juga ditunjukkan Riza Azumardi Azra, yang akrab disebut sebagai “Sarjana Tolo”. Berangkat dari realitas sosial di Banjarnegara, ia melihat banyak anak putus sekolah yang membutuhkan ruang untuk berkembang.
Kondisi tersebut kemudian mendorongnya mengumpulkan dan mengajak mereka untuk terjun ke sektor pertanian.
Salah satu komoditas yang dikembangkan adalah singkong. Menurut Riza, singkong harus “naik kelas” agar tidak sekadar dipandang sebagai komoditas pangan bernilai rendah.
Salah satu caranya adalah mengolah singkong menjadi mocaf atau modified cassava flour. Produk tersebut dapat menjadi alternatif tepung yang memiliki karakteristik mendekati tepung terigu.
Upaya hilirisasi semacam ini menunjukkan bahwa pertanian tidak berhenti pada aktivitas produksi di lahan. Nilai ekonomi yang lebih besar dapat diciptakan melalui pengolahan, inovasi produk, hingga pemasaran.
CEO Rumah Mocaf, Reza, serta Adam dari PT Tresno Jamu turut menjadi bagian dari pembahasan mengenai pengembangan sektor pangan dan pertanian berbasis kewirausahaan.
Dari Hulu hingga Hilir Harus Naik Kelas
Komisaris Tresno Jamu, Agam, menekankan pentingnya melihat hilirisasi sebagai sebuah rantai yang tidak dapat dipisahkan dari penguatan sektor hulu.
“Kalau hulunya naik kelas, di hilirnya juga harus naik kelas, khususnya dalam bidang pertanian dan peternakan,” ujarnya.
Menurutnya, kedaulatan pangan tidak semestinya dipahami sebagai sesuatu yang kuno. Justru, pertanian dan kewirausahaan memiliki rantai ekonomi panjang yang membuka banyak peluang bagi generasi muda.
“Jangan dibayangkan berperan dalam kedaulatan pangan itu kuno. Tapi sejatinya pertanian dan kewirausahaan adalah rantai panjang yang penuh dengan peluang,” katanya.
Gagasan tersebut memperlihatkan bahwa regenerasi petani tidak cukup hanya dengan mengajak anak muda turun ke sawah atau ladang. Generasi muda juga perlu diperkenalkan dengan ekosistem pertanian secara utuh, mulai dari produksi, teknologi, pengolahan, kewirausahaan, hingga pemasaran.
Dalam konteks itu, Muhammadiyah disebut memiliki pengalaman panjang dalam membangun gerakan sosial dan pemberdayaan masyarakat. Konsep tersebut dinilai relevan untuk mendorong keterlibatan generasi muda dalam membangun kemandirian pangan.
Sebab, sebagaimana ditegaskan dalam forum tersebut, kedaulatan pangan pada dasarnya dimulai dari hal paling mendasar: ketika mulut kita berdaulat atas pangan yang kita konsumsi sendiri.
Regenerasi petani pun akhirnya bukan sekadar persoalan siapa yang akan menggarap lahan di masa depan. Lebih jauh, ini menyangkut bagaimana generasi muda mengambil peran dalam memastikan Indonesia memiliki sistem pangan yang berkelanjutan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. (diko)

