Di Tengah Isu Krisis Iklim, Riset Harus Memberikan Dampak Nyata

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
697
Green Youth Quake Training

Green Youth Quake Training

BOGOR, Suara Muhammadiyah -Tidak semua perubahan didorong oleh aksi di jalanan. Ada berbagai macam cara untuk menuju ke situ. Salah satunya melalui jalan riset atau penelitian. Hal itulah yang dilakukan Eko Cahyono, seorang akademisi IPB untuk mengganggu para pembuat kebijakan. Cara ini diakuinya cukup efektif karena berlandaskan naskah akademik yang bisa dipertanggungjawabkan. 

Penelitian berdampak yang ia maksud bukan untuk memperkuat pemahaman. Tapi bagaimana riset tersebut memberikan dampak sosial kepada kehidupan masyarakat, khusus bagi masyarakat yang tertindas dalam memperjuangkan haknya. Oleh karena itu penelitian jenis ini harus memiliki unsur keberpihakan yang jelas. "Banyak sekali penelitian yang disuruh pulang oleh tuan rumah karena yang bersangkutan tidak menunjukkan keberpihakan," ujar Eko dalam Green Youth Quake Training yang berlangsung di Pesantren Ekologi Misykat Al-Anwar (28/9).

Menurutnya, untuk mendesain gerakan perubahan berbasis riset, seorang peneliti mesti menguasai keahlian yang lengkap mencakup berkampanye, pengorganisasian, dan riset. etiganya diperlukan untuk menggali informasi yang dibutuhkan.

Ia menambahkan bahwa secara kuantitas dalam riset berdampak, Indonesia menjadi negara terendah kita di Asia Tenggara. 

Dalam menciptakan perubahan, kita harus terlebih dahulu menemukan kekuatan dari dalam diri sendiri—tenaga dalam yang membuat kita tak hanya bergerak, tapi juga menggugah. Sebagaimana yang terjadi dalam kasus tambang di Kalimantan Utara. Saat lembaga-lembaga besar seperti Walhi dan Greenpeace membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menggugat keberadaan tambang, kelompok kecil bernama Armi Indonesia justru mampu membuat perusahaan Yundai mencabut izinnya hanya dalam waktu dua bulan. Sebuah kekuatan yang lahir dari keberanian, kepercayaan komunitas, dan strategi akar rumput yang tajam.

Di desa-desa, masih banyak ketimpangan yang dibiarkan seolah wajar. Peran perempuan nyaris tak dianggap penting karena ukuran kesejahteraan hanya dilihat dari upah laki-laki. Padahal, bila peran perempuan diakui dan dilibatkan dalam setiap proses ekonomi dan sosial, wajah keluarga dan masyarakat akan jauh lebih sejahtera dan berdaya. "Keberlanjutan hidup bukan hanya soal angka, tapi juga tentang relasi yang adil," tegasnya.

Hingga hari ini riset justru semakin menjauhkan kita dari masyarakat yang paling membutuhkan keadilan. Penelitian seharusnya bukan hanya bicara data, tetapi juga membangun kepercayaan. "Jangan hanya menempatkan diri sebagai pengamat netral, sebab di tengah ketimpangan, keberpihakan adalah keniscayaan," tambahnya.

Lebih dari itu, hasil riset tidak cukup berhenti di jurnal atau seminar. Ia harus dikemas menjadi sesuatu yang hidup, menyala, dan menyentuh. Ia harus menjadi narasi yang bisa dibaca masyarakat, menjadi alat perjuangan, bahkan menjadi bahan bakar perubahan. Sebab pada akhirnya, pengetahuan tidak akan berarti apa-apa jika tidak berdampak pada kehidupan sosial. (diko)


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Mahasiswa Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri dan ....

Suara Muhammadiyah

10 October 2025

Berita

GOWA, Suara Muhammadiyah - Masjid An Nas Kompleks Perumahan Danau Alam Pendidikan, Kelurahan Romang ....

Suara Muhammadiyah

9 August 2025

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Di sela-sela agenda Konsolidasi Nasional menjelang Resepsi Milad....

Suara Muhammadiyah

17 November 2025

Berita

BOYOLALI, Suara Muhammadiyah – Dalam rangka menanamkan pemahaman mendalam tentang rukun Islam ....

Suara Muhammadiyah

5 May 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pasca Muktamar Nasyiatul Aisyiyah  ke XIV, peta jalan NA perio....

Suara Muhammadiyah

16 October 2023