Di Tengah Isu Krisis Iklim, Riset Harus Memberikan Dampak Nyata

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
745
Green Youth Quake Training

Green Youth Quake Training

BOGOR, Suara Muhammadiyah -Tidak semua perubahan didorong oleh aksi di jalanan. Ada berbagai macam cara untuk menuju ke situ. Salah satunya melalui jalan riset atau penelitian. Hal itulah yang dilakukan Eko Cahyono, seorang akademisi IPB untuk mengganggu para pembuat kebijakan. Cara ini diakuinya cukup efektif karena berlandaskan naskah akademik yang bisa dipertanggungjawabkan. 

Penelitian berdampak yang ia maksud bukan untuk memperkuat pemahaman. Tapi bagaimana riset tersebut memberikan dampak sosial kepada kehidupan masyarakat, khusus bagi masyarakat yang tertindas dalam memperjuangkan haknya. Oleh karena itu penelitian jenis ini harus memiliki unsur keberpihakan yang jelas. "Banyak sekali penelitian yang disuruh pulang oleh tuan rumah karena yang bersangkutan tidak menunjukkan keberpihakan," ujar Eko dalam Green Youth Quake Training yang berlangsung di Pesantren Ekologi Misykat Al-Anwar (28/9).

Menurutnya, untuk mendesain gerakan perubahan berbasis riset, seorang peneliti mesti menguasai keahlian yang lengkap mencakup berkampanye, pengorganisasian, dan riset. etiganya diperlukan untuk menggali informasi yang dibutuhkan.

Ia menambahkan bahwa secara kuantitas dalam riset berdampak, Indonesia menjadi negara terendah kita di Asia Tenggara. 

Dalam menciptakan perubahan, kita harus terlebih dahulu menemukan kekuatan dari dalam diri sendiri—tenaga dalam yang membuat kita tak hanya bergerak, tapi juga menggugah. Sebagaimana yang terjadi dalam kasus tambang di Kalimantan Utara. Saat lembaga-lembaga besar seperti Walhi dan Greenpeace membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menggugat keberadaan tambang, kelompok kecil bernama Armi Indonesia justru mampu membuat perusahaan Yundai mencabut izinnya hanya dalam waktu dua bulan. Sebuah kekuatan yang lahir dari keberanian, kepercayaan komunitas, dan strategi akar rumput yang tajam.

Di desa-desa, masih banyak ketimpangan yang dibiarkan seolah wajar. Peran perempuan nyaris tak dianggap penting karena ukuran kesejahteraan hanya dilihat dari upah laki-laki. Padahal, bila peran perempuan diakui dan dilibatkan dalam setiap proses ekonomi dan sosial, wajah keluarga dan masyarakat akan jauh lebih sejahtera dan berdaya. "Keberlanjutan hidup bukan hanya soal angka, tapi juga tentang relasi yang adil," tegasnya.

Hingga hari ini riset justru semakin menjauhkan kita dari masyarakat yang paling membutuhkan keadilan. Penelitian seharusnya bukan hanya bicara data, tetapi juga membangun kepercayaan. "Jangan hanya menempatkan diri sebagai pengamat netral, sebab di tengah ketimpangan, keberpihakan adalah keniscayaan," tambahnya.

Lebih dari itu, hasil riset tidak cukup berhenti di jurnal atau seminar. Ia harus dikemas menjadi sesuatu yang hidup, menyala, dan menyentuh. Ia harus menjadi narasi yang bisa dibaca masyarakat, menjadi alat perjuangan, bahkan menjadi bahan bakar perubahan. Sebab pada akhirnya, pengetahuan tidak akan berarti apa-apa jika tidak berdampak pada kehidupan sosial. (diko)


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Memasuki hari ketiga puasa Ramadhan 1445H, Masjid Islamic Center UA....

Suara Muhammadiyah

14 March 2024

Berita

BANTUL, Suara Muhammadiyah - Memiliki suara yang indah menjadi menjadi sebuah anugerah yang tidak se....

Suara Muhammadiyah

7 January 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Muhammadiyah yang diwakili Lazismu bersama Bank Danamon Syari....

Suara Muhammadiyah

18 March 2025

Berita

BANJARBARU, Suara Muhammadiyah - Menjelang akhir bulan suci Ramadan, Penjabat (Pj.) Wali Kota Banjar....

Suara Muhammadiyah

3 April 2025

Berita

MALANG, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi tuan rumah Kuliah Umum Fo....

Suara Muhammadiyah

30 October 2023