MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Majelis PAUD, Dasar dan Menengah Pimpinan Wilayah (PW) ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan sukses menyelenggarakan workshop bertema Integrasi Ekoteologi ke dalam Kurikulum PAUD ‘Aisyiyah dan Kurikulum Muhammadiyah. Kegiatan ini bertujuan membekali para pendidik dengan strategi implementasi nilai-nilai lingkungan hidup berbasis spiritualitas sejak usia dini.
Workshop yang digelar pada Rabu, 11 Februari 2026, di Ballroom Lantai I Makassar Government Centre (MGC), Kota Makassar tersebut diikuti oleh 160 peserta. Mereka merupakan perwakilan satuan pendidikan mulai dari jenjang TK/PAUD hingga SMA sederajat dari seluruh kabupaten/kota di Sulawesi Selatan.
Hadir sebagai pemateri utama, Dien Nurmarina Malik Fadjar menyampaikan materi tentang konsep growth mindset dalam perspektif ekoteologi beserta implementasinya dalam pembelajaran PAUD. Ia menegaskan bahwa pola pikir berkembang menjadi fondasi penting untuk menghadirkan pembelajaran yang adaptif, inovatif, dan kontekstual, terutama dalam merespons isu-isu lingkungan yang semakin kompleks.
Menurutnya, guru perlu memiliki growth mindset agar mampu terus belajar, terbuka terhadap perubahan, serta kreatif dalam merancang strategi pembelajaran. Tanpa pola pikir tersebut, inovasi pendidikan akan sulit terwujud secara berkelanjutan.
“Guru perlu memiliki growth mindset agar dapat mengembangkan metode pembelajaran yang kreatif dan relevan dengan kondisi lingkungan saat ini,” ujarnya di hadapan para peserta.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa ekoteologi tidak hanya berkaitan dengan lingkungan dalam aspek fisik, tetapi juga memiliki dimensi spiritual yang kuat. Ekoteologi mengajarkan hubungan harmonis antara manusia, Tuhan, dan alam semesta. Nilai tersebut penting ditanamkan sejak usia dini melalui proses pendidikan yang terencana dan berkesinambungan.
“Ekoteologi harus dihadirkan dalam pembelajaran sehari-hari, bukan sekadar sebagai konsep, tetapi sebagai praktik nyata,” tambahnya. Ia mencontohkan kegiatan sederhana seperti menjaga kebersihan kelas, merawat tanaman, serta menghemat penggunaan air sebagai bagian dari implementasi nilai ekoteologi dalam keseharian anak.
Dien menilai pembelajaran berbasis ekoteologi efektif dalam membentuk karakter peserta didik yang peduli lingkungan karena mengintegrasikan aspek kognitif, afektif, dan spiritual secara simultan. Dengan pendekatan tersebut, anak tidak hanya memahami pentingnya menjaga lingkungan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran dan kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui kegiatan ini, PW ‘Aisyiyah Sulawesi Selatan menegaskan komitmennya untuk memperkuat kurikulum pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter religius dan kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan sejak usia dini.(Hendra Apriyadi)

