Dimensi Teologis Mesti Disepadukan dengan Konteks Dunia Literasi

Suara Muhammadiyah

18 November 2025

794
Dr KH Muhammad Saad Ibrahim, MA

Dr KH Muhammad Saad Ibrahim, MA

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Muhammad Saad Ibrahim mengajak untuk merenungkan Qs al-Alaq ayat 1-5. Menurutnya, ini merupakan surat pertama yang diturunkan oleh Allah dan diterima oleh Nabi Muhammad Saw tatkala tengah bertahannust (mengasingkan diri di dalam Gua Hira).

“Ayat tersebut tentu diturunkan pada periode yang sangat awal dari kenabian Nabi Muhammad,” katanya saat Khutbah Jum’at di Masjid Istiqlal Pasar Baru, Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Jumat (14/11).

Di lain sisi, ayat ini juga mengajarkan kepada umat Islam betapa Al-Qur’an menaruh perhatian besar kepada dunia literasi yang disimbolkan dengan perintah iqra. Meskipun demikian, ada pemaknaan lain yang lebih substansial, yakni iqra` bismi rabbikallażī khalaq.

“Maknanya, Islam datang pada periode paling awal itu dimulai dengan dimensi teologis, dimensi imani ke dalam konteks dunia literasi,” tekannya.

Menurut Saad, dunia literasi itu sudah dihasilkan oleh banyak peradaban. Salah satunya peradaban Yunani di Athena yang menjadi pusat utamanya filsafat, seni, dan demokrasi.

“Dunia literasi telah mereka bangun. Dan mereka meninggalkan karya-karya khususnya dibidang falsafah,” ujarnya.

Pada tingkat yang lebih tinggi, dimensi teologis menempatkan posisi paling vital, lebih-lebih untuk ditempatkan dalam konteks dunia literasi. Yang salah satu manifestasinya berupa dunia sains dan teknologi.

“Kalau tidak dikendalikan dengan dimensi teologis, maka ilmu pengetahuan dan teknologi punya sisi destruktif,” tegasnya.

Mengilustrasikan sejarah kelam, pada tahun 1945, Kota Hiroshima dan Nagasaki, Jepang, dijatuhkan bom atom oleh Amerika Serikat. Akibatnya, sebanyak 200 orang terbunuh pada waktu itu.

“Maka inilah implikasi dari ilmu dan teknologi khususnya di dunia persenjataan, yang lalu menimbulkan aspek destruktif yang sangat merusak itu,” sambungnya.

Sekalipun demikian, ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki kemaslahatan bila digunakan sebagaimana semestinya. “Kalau berada di tangan yang benar, sebaliknya kalau di tangan yang tidak benar, maka justru tingkat destruktifnya itu sangat luar biasa,” lanjutnya.

Di situlah relevansi ditempatkannya dimensi teologis pada konteks dunia sains dan teknologi. Yang dari konteks inilah kemudian, era Presiden Allahuyarham Bacharuddin Jusuf Habibie, dimunculkan konsep IMTAQ (Iman dan Takwa). Konsep ini dikonseptualisaiskan dengan IPTEK (Ilmu pengetahuan dan teknologi), dan keduanya mesti diletakkan secara seimbang.

“Iya, kita perlu memadukan itu. Yang dalam peradaban Islam, ketika mencapai puncak kejayaannya, di mulai dari abad 3 hijriah sampai abad 8 hijriah selama 500 tahun, bahkan ada yang menyebut sampai abad 11 hijriah, maknanya sampai 800 tahun, maka lahirlah the golden age of muslem history,” urainya.

Artinya bahwa, peradaban yang dielanvitali oleh bagian penting literasi yakni ilmu pengetahuan yang didasari oleh nushush itu sendiri. “Dan itu pesan utama dari iqra` bismi rabbikallażī khalaq,” tandasnya. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar kembali mengukuhkan....

Suara Muhammadiyah

8 October 2025

Berita

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Riau (Umti) menggelar Bimbingan Tekni....

Suara Muhammadiyah

2 June 2026

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Di tengah situasi pascabencana, keberlangsungan pendidikan an....

Suara Muhammadiyah

5 January 2026

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah – Institut Parahikma Indonesia (IPI) kini mengalami peralihan di ....

Suara Muhammadiyah

18 December 2024

Berita

SOLO, Suara Muhammadiyah – Puluhan anggota Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPK....

Suara Muhammadiyah

28 July 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah