Dunia Bukan Tempat Tinggal, Melainkan Tempat yang Akan Ditinggalkan

Suara Muhammadiyah

18 June 2026

350
dr Agus Taufiqurrahman, SpS., MKes. Foto: Nadri

dr Agus Taufiqurrahman, SpS., MKes. Foto: Nadri

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Syahdan, para sahabat melontarkan pertanyaan elementer kepada Nabi Muhammad Saw: Siapa orang paling cerdas? “Ia yang banyak ingat akan kematian. dan ia mempersiapkan kehidupan sudah kematian dengan baik,” demikian jawab Nabi Muhammad Saw, tegas.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Agus Taufiqurrahman mengemukakan, substansi hadis riwayat at-Timidzi tersebut meniscayakan kehidupan dunia sangat terbatas.

“Tak satu pun di antara kita yang mengetahui kapan batas waktu dipanggil oleh Allah,” beber Agus, Jumat (5/6) saat Khutbah Jumat di Masjid At-Tanwir Gedung Dakwah Muhammadiyah Menteng Raya, Jakarta Pusat.

Yang pasti, semua akan mati. Dan Al-Qur’an dengan kentaranya menyebut, ketika waktu itu tiba, tada ada yang mampu mengundur waktunya.

“Itu rahasia Allah datangnya tidak terduga. Kalau datang tidak bisa ditunda. Pilihan kita adalah siap kapan pun dan di mana pun bahwa ajal itu pasti tiba,” tegasnya.

Sedemikian itu kematian akan tiba, jelaslah harus mempersiapkan sebagaimana semestinya. Di satu sisi, menjalani kehidupan dunia dengan sebaik-baiknya, tetapi tidak sampai menanggalkan hal paling fundamental berikutnya: akhirat abadi selamanya.

“Dunia ini harus kita jadikan kehidupan yang baik. Tetapi kita diingatkan bukan tempat tinggal selama kita ini di dunia. Dunia bukan tempat tinggal selamanya, tapi dunia ini adalah tempat yang akan kita tinggalkan,” terang Agus.

Atas dasar itu, menjadi sesuatu hal pasti, semua manusia tatkala masa itu tiba mendamba dalam keadaan baik (husnul khatimah) Kualifikasinya bisa didasarkan ketika masa hidup di dunia gemar menyemai maslahat untuk sesama.

“Saat ini kita di posisi telah memberi kemanfaatan apa kepada orang-orang di sekitar kita? Telah memberi kemanfaatan kepada orang-orang yang membutuhkan lewat jalur diri kita. Karena Allah menitipkan itu kepada kita,” tekannya.

Pendek kata, apakah semua hal yang dimiliki saat ini sudah memberi kemanfaatan untuk semua? Jika hal demikian itu telah dilakukan, sungguh sebuah keberuntungan yang tak terperi.

“Ketika seluruh yang dititipkan Allah itu ternyata menjadi jalan kita untuk hadir memberi kemanfaatan orang-orang yang ada di sekeliling kita, tentu kita menjadi bagian orang-orang terbaik itu,” bebernya.

Di sinilah Agus mendorong agar sisa waktu yang ada ini, hendaknya dijadikan kesempatan untuk mereformasi diri seraya berefleksi apakah telah menyemai kemaslahatan kepada sesama?

“Mari kita berusaha dengan sungguh-sungguh. Di saat Allah memberi kesempatan hidup di dunia ini, kita terus memberi kemanfaatan,” pungkas Agus. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

BANTUL, Suara Muhammadiyah - Tim Literasi SMP Unggulan ‘Aisyiyah Bantul kembali menorehkan pre....

Suara Muhammadiyah

3 May 2024

Berita

Inovasi Pendidikan Berkemajuan: Model VIG-LeST Jembatani Pembelajaran Sains Sensitif dan Nilai AIK d....

Suara Muhammadiyah

10 April 2026

Berita

BANTUL, Suara Muhammadiyah – Ada yang unik dalam acara Silaturahmi Syawalan Muhammadiyah Bantu....

Suara Muhammadiyah

21 April 2025

Berita

PADANG, Suara Muhammadiyah - Tindak lanjuti MOU PP Aisyiyah bersama Kemenkes tentang penghapusan pra....

Suara Muhammadiyah

13 August 2024

Berita

Kolaborasi LAZISMU DKI Jakarta, Pizza Hut Indonesia, dan RSIJ Pondok Kopi JAKARTA, Suara Muhammadiy....

Suara Muhammadiyah

3 September 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah