Dunia Bukan Tempat Tinggal, Melainkan Tempat yang Akan Ditinggalkan

Suara Muhammadiyah

18 June 2026

554
dr Agus Taufiqurrahman, SpS., MKes. Foto: Nadri

dr Agus Taufiqurrahman, SpS., MKes. Foto: Nadri

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Syahdan, para sahabat melontarkan pertanyaan elementer kepada Nabi Muhammad Saw: Siapa orang paling cerdas? “Ia yang banyak ingat akan kematian. dan ia mempersiapkan kehidupan sudah kematian dengan baik,” demikian jawab Nabi Muhammad Saw, tegas.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Agus Taufiqurrahman mengemukakan, substansi hadis riwayat at-Timidzi tersebut meniscayakan kehidupan dunia sangat terbatas.

“Tak satu pun di antara kita yang mengetahui kapan batas waktu dipanggil oleh Allah,” beber Agus, Jumat (5/6) saat Khutbah Jumat di Masjid At-Tanwir Gedung Dakwah Muhammadiyah Menteng Raya, Jakarta Pusat.

Yang pasti, semua akan mati. Dan Al-Qur’an dengan kentaranya menyebut, ketika waktu itu tiba, tada ada yang mampu mengundur waktunya.

“Itu rahasia Allah datangnya tidak terduga. Kalau datang tidak bisa ditunda. Pilihan kita adalah siap kapan pun dan di mana pun bahwa ajal itu pasti tiba,” tegasnya.

Sedemikian itu kematian akan tiba, jelaslah harus mempersiapkan sebagaimana semestinya. Di satu sisi, menjalani kehidupan dunia dengan sebaik-baiknya, tetapi tidak sampai menanggalkan hal paling fundamental berikutnya: akhirat abadi selamanya.

“Dunia ini harus kita jadikan kehidupan yang baik. Tetapi kita diingatkan bukan tempat tinggal selama kita ini di dunia. Dunia bukan tempat tinggal selamanya, tapi dunia ini adalah tempat yang akan kita tinggalkan,” terang Agus.

Atas dasar itu, menjadi sesuatu hal pasti, semua manusia tatkala masa itu tiba mendamba dalam keadaan baik (husnul khatimah) Kualifikasinya bisa didasarkan ketika masa hidup di dunia gemar menyemai maslahat untuk sesama.

“Saat ini kita di posisi telah memberi kemanfaatan apa kepada orang-orang di sekitar kita? Telah memberi kemanfaatan kepada orang-orang yang membutuhkan lewat jalur diri kita. Karena Allah menitipkan itu kepada kita,” tekannya.

Pendek kata, apakah semua hal yang dimiliki saat ini sudah memberi kemanfaatan untuk semua? Jika hal demikian itu telah dilakukan, sungguh sebuah keberuntungan yang tak terperi.

“Ketika seluruh yang dititipkan Allah itu ternyata menjadi jalan kita untuk hadir memberi kemanfaatan orang-orang yang ada di sekeliling kita, tentu kita menjadi bagian orang-orang terbaik itu,” bebernya.

Di sinilah Agus mendorong agar sisa waktu yang ada ini, hendaknya dijadikan kesempatan untuk mereformasi diri seraya berefleksi apakah telah menyemai kemaslahatan kepada sesama?

“Mari kita berusaha dengan sungguh-sungguh. Di saat Allah memberi kesempatan hidup di dunia ini, kita terus memberi kemanfaatan,” pungkas Agus. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

SUMEDANG, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (Uhamka) menjalin kerja sama....

Suara Muhammadiyah

13 April 2025

Berita

MAGELANG, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) menerima kunjungan pe....

Suara Muhammadiyah

24 November 2025

Berita

TAKENGON, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Aceh (UNMUHA) melalui Program Studi Magister....

Suara Muhammadiyah

11 August 2025

Berita

TEGAL, Suara Muhammadiyah - Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta (FT UMJ)....

Suara Muhammadiyah

22 January 2025

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Wakil Rektor IV Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) Dr. Septa Candr....

Suara Muhammadiyah

28 February 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah