Fahmi Muqoddas: Penjaga dan Perawat Tradisi Keilmuan Ulama Muhammadiyah

Publish

17 June 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
175
Dokumen pribadi

Dokumen pribadi

Fahmi Muqoddas: Penjaga dan Perawat Tradisi Keilmuan Ulama Muhammadiyah

Oleh: Mujahidah Saifullah

Di balik perjalanan panjang Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang telah berusia lebih dari satu abad, terdapat banyak tokoh yang mengabdikan hidupnya dengan penuh ketulusan, jauh dari sorotan publik, namun memiliki peran yang sangat besar dalam menjaga kesinambungan perjuangan Persyarikatan. Mereka hadir bukan hanya sebagai pelaksana organisasi, tetapi juga sebagai penjaga tradisi keilmuan, pewaris nilai-nilai perjuangan, serta penghubung estafet dakwah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Salah satu tokoh yang termasuk dalam kategori tersebut adalah Ustadz Fahmi Muqoddas, seorang ulama Muhammadiyah yang selama lebih dari lima puluh tahun mengabdikan dirinya dalam pengembangan pemikiran Islam dan kaderisasi ulama melalui Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah.

Perjalanan hidup dan pengabdian Ustadz Fahmi Muqoddas tidak dapat dilepaskan dari lingkungan keluarga yang memiliki hubungan erat dengan sejarah perkembangan Muhammadiyah di Indonesia. Beliau lahir dari keluarga ulama yang telah lama berkiprah dalam dunia dakwah, pendidikan, dan pembinaan umat. Ayah beliau, K.H. Muqoddas Syuhada, merupakan seorang tokoh Muhammadiyah yang dikenal aktif dalam bidang pendidikan dan kaderisasi ulama. Dari jalur ayahnya, beliau merupakan cucu dari Kiai Syuhada, seorang ulama yang dikenal luas di Banjarnegara. Sementara itu, ibunda beliau, Siti Laila Zaini, berasal dari keluarga besar Kauman Yogyakarta yang memiliki kontribusi penting dalam perkembangan Muhammadiyah dan Aisyiyah pada masa awal pertumbuhannya. Siti Laila Zaini, merupakan putri KH Zaini Hasyim, salah seorang tokoh Muhammadiyah Kauman Yogyakarta yang berasal dari keluarga besar Bani Hasyim. Keluarga ini dikenal luas dalam sejarah Muhammadiyah karena melahirkan sejumlah tokoh penting, antara lain KH Syuja', KH Fakhruddin, Ki Bagus Hadikusumo, Siti Munjiyah, dan Siti Bariyah. Selain dikenal sebagai lingkungan yang kuat dalam tradisi keilmuan Islam, keluarga tersebut juga memiliki kontribusi besar dalam perkembangan Muhammadiyah dan Aisyiyah pada masa awal pertumbuhannya. Kehadiran tokoh-tokoh tersebut menjadikan lingkungan keluarga Ustadz Fahmi Muqoddas sebagai ruang yang sarat dengan tradisi keilmuan, pengabdian, dan semangat pembaruan Islam. Nilai-nilai tersebut kemudian menjadi bagian dari proses pembentukan karakter dan orientasi perjuangan beliau sejak usia muda.

Atmosfer keilmuan dalam keluarga semakin kuat melalui kiprah ayah beliau, K.H. Muqoddas Syuhada. Atas amanah dari Pengurus Besar Muhammadiyah pada masa itu, beliau dipanggil ke Yogyakarta untuk memimpin Madrasah Zuama dan Zaimat Muhammadiyah sebagai direktur pada periode 1938–1942. Lembaga pendidikan tersebut memiliki posisi penting dalam sejarah Muhammadiyah karena menjadi pusat kaderisasi ulama yang melahirkan banyak tokoh nasional dan pemimpin Persyarikatan, di antaranya K.H. Hasan Basri yang kemudian menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia serta K.H. A. Azhar Basyir yang kelak menjabat sebagai Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Tradisi pendidikan dan kaderisasi yang tumbuh dalam lingkungan keluarga tersebut menjadi warisan intelektual yang secara tidak langsung membentuk cara pandang Ustadz Fahmi Muqoddas terhadap pentingnya ilmu, dakwah, dan pembinaan generasi penerus. Lingkungan keluarga yang demikian menjadikan semangat pengabdian kepada Muhammadiyah bukan sekadar warisan genealogis, melainkan nilai hidup yang terus ditanamkan dan dipraktikkan dalam keseharian.

Meski demikian, perjalanan Ustadz Fahmi Muqoddas tidak hanya dibangun oleh faktor keturunan. Beliau memilih menempuh jalannya sendiri melalui proses belajar, pengalaman, dan pengabdian yang panjang. Setelah wafatnya sang ayah pada tahun 1969, beliau memperoleh amanah untuk melanjutkan khidmat keluarga di lingkungan Majelis Tarjih Muhammadiyah. Pada tahun 1970, beliau mulai bergabung sebagai staf sekretariat Majelis Tarjih. Itulah yang menjadi titik awal perjalanan panjang yang membentuk dirinya sebagai salah satu tokoh penting dalam pengembangan tradisi tarjih Muhammadiyah. Bagi Ustadz Fahmi Muqoddas, Majelis Tarjih bukan sekadar lembaga yang bertugas mengeluarkan fatwa keagamaan. Majelis Tarjih merupakan ruang intelektual tempat para ulama berdiskusi, bermusyawarah, dan melakukan ijtihad kolektif dalam menjawab berbagai persoalan umat. Melalui keterlibatan aktif dalam berbagai forum tarjih, beliau memperoleh kesempatan untuk belajar secara langsung dari para ulama Muhammadiyah generasi terdahulu. Dari forum-forum tersebut, beliau menyaksikan bagaimana perbedaan pandangan dapat dikelola secara ilmiah, bagaimana argumentasi dibangun di atas dalil yang kuat, serta bagaimana keputusan-keputusan keagamaan dirumuskan melalui proses musyawarah yang mendalam. Pengalaman tersebut membentuk karakter intelektual beliau yang terbuka, kritis, namun tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip dasar ajaran Islam. Selama puluhan tahun berkhidmat di lingkungan Majelis Tarjih dan Tajdid, beliau tidak hanya menjadi saksi perkembangan pemikiran keislaman Muhammadiyah, tetapi juga ikut terlibat dalam berbagai proses pengambilan keputusan yang menjadi pedoman bagi warga Persyarikatan.

Salah satu gagasan yang paling menonjol dalam pemikiran Ustadz Fahmi Muqoddas adalah pentingnya kaderisasi ulama. Menurut beliau, keberlangsungan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam tidak hanya ditentukan oleh besarnya organisasi atau banyaknya amal usaha yang dimiliki, tetapi juga oleh keberadaan ulama yang mampu menjaga arah dan identitas Persyarikatan. Oleh karena itu, kaderisasi ulama harus menjadi perhatian utama agar tradisi keilmuan yang telah diwariskan oleh generasi pendahulu tidak terputus oleh perubahan zaman. Dalam pandangan beliau, ulama Muhammadiyah masa kini tidak cukup hanya menguasai ilmu-ilmu keislaman klasik. Perkembangan masyarakat yang semakin kompleks menuntut hadirnya ulama yang mampu berdialog dengan berbagai disiplin ilmu, mulai dari kesehatan, ekonomi, teknologi, hingga persoalan sosial kontemporer. Seorang ulama harus mampu memahami realitas kehidupan modern agar dapat memberikan jawaban yang relevan terhadap kebutuhan umat tanpa kehilangan pijakan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Pandangan tersebut tercermin dalam keterlibatan aktif beliau dalam pengembangan Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM). Bagi beliau, PUTM merupakan salah satu instrumen strategis Muhammadiyah dalam menyiapkan generasi ulama yang memiliki kedalaman ilmu agama sekaligus keluasan wawasan. Kehadiran lembaga ini menjadi bukti bahwa Muhammadiyah tidak hanya memikirkan kebutuhan umat pada masa kini, tetapi juga mempersiapkan generasi penerus yang akan melanjutkan perjuangan dakwah dan tajdid pada masa yang akan datang. Selain perhatian terhadap kaderisasi ulama, Ustadz Fahmi Muqoddas juga memandang Muhammadiyah sebagai kekuatan moral yang memiliki tanggung jawab terhadap kehidupan bangsa. Dakwah Islam, menurut beliau, tidak boleh berhenti pada aspek ritual dan individual semata, melainkan harus hadir dalam kehidupan sosial, pendidikan, ekonomi, dan kebudayaan. Muhammadiyah memiliki kewajiban untuk terus menyuarakan nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, dan kemajuan sebagai bentuk implementasi dakwah amar ma’ruf nahi munkar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Selama lebih dari lima dekade pengabdiannya, Ustadz Fahmi Muqoddas telah menjadi bagian dari perjalanan panjang Muhammadiyah dalam menghadapi berbagai perubahan zaman. Dari generasi ulama tradisional hingga era digital, dari persoalan-persoalan fikih klasik hingga isu-isu kontemporer, beliau terus menunjukkan komitmen yang sama, yaitu menjaga kesinambungan tradisi keilmuan Islam dan memastikan bahwa Muhammadiyah tetap memiliki kader-kader ulama yang mampu menjawab kebutuhan umat. Perjalanan hidup Ustadz Fahmi Muqoddas memberikan pelajaran berharga bahwa pengabdian tidak selalu diwujudkan melalui posisi yang menonjol atau popularitas di tengah masyarakat. Pengabdian juga dapat hadir dalam bentuk ketekunan menjaga tradisi ilmu, membina generasi penerus, serta mengabdikan diri secara konsisten dalam ruang-ruang perjuangan yang sering kali tidak terlihat oleh banyak orang. Melalui dedikasi tersebut, beliau telah menjadi salah satu mata rantai penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi intelektual Muhammadiyah dari generasi ke generasi.

Pada akhirnya, sosok Ustadz Fahmi Muqoddas menunjukkan bahwa kekuatan sebuah gerakan tidak hanya terletak pada besarnya organisasi, tetapi juga pada hadirnya orang-orang yang dengan ikhlas menjaga ilmu, merawat kaderisasi, dan mengabdikan hidupnya bagi kemajuan umat. Jejak pengabdian beliau menjadi cerminan nyata dari semangat Muhammadiyah yang berlandaskan ilmu, dakwah, dan tajdid dalam mewujudkan masyarakat Islam yang berkemajuan. Dengan perjalanan hidup yang demikian panjang dan penuh makna, Ustadz Fahmi Muqoddas tidak hanya menjadi bagian dari sejarah Muhammadiyah, tetapi juga menjadi teladan tentang bagaimana ilmu, ketekunan, dan keikhlasan dapat diwariskan sebagai amal jariyah yang terus hidup melampaui zamannya.

Mujahidah Saifulah, Thalibat PUTM PP Muhammadiyah Yogyakarta


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Tapak Suci Jadi Alternatif Olahraga Menjaga Stamina di Bulan Suci  Oleh: Muhamad Saleh, S.Si.,....

Suara Muhammadiyah

10 March 2026

Wawasan

Hari Pelajar Internasional: Menumbuhkan Kemandirian Ekonomi Berlandaskan Nilai Islam Oleh : Tutut D....

Suara Muhammadiyah

17 November 2025

Wawasan

Ibu Single Parent dalam Mendidik Anak Mandiri  Oleh: Leonita Siwiyanti Peran ibu single pare....

Suara Muhammadiyah

26 April 2025

Wawasan

Menjalani Hidup dengan Tawakal Oleh: Suko Wahyudi, PRM Timuran Yogyakarta Tawakal adalah salah sat....

Suara Muhammadiyah

4 February 2025

Wawasan

Pembuktian Unsur Niat Dikaitkan dengan Unsur Mens Rea dalam Tipikor Oleh: Sobirin Malian, Dose....

Suara Muhammadiyah

26 November 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah