Isra’ Mi’raj dan Shalat: Meneguhkan Iman, Mencerahkan Akhlak
Penulis: Nur Ngazizah, Kordiv DTDK MTK PWA Jateng,Dosen PGSD UMPR
Isra’ Mi’raj adalah peristiwa agung yang bukan hanya menggetarkan iman, tetapi juga meneguhkan arah hidup seorang Muslim. Di malam yang mulia itu, Rasulullah SAW menerima perintah shalat. ibadah yang menjadi poros kehidupan. Jika ibadah lain ditetapkan melalui wahyu di bumi, shalat justru ditetapkan dalam perjalanan suci yang menghubungkan langit dan bumi. Seolah Allah ingin menegaskan: shalat bukan sekadar kewajiban rutin, melainkan anugerah yang memelihara iman dan menuntun akhlak.
Karena itu, memperingati Isra’ Mi’raj tidak cukup berhenti pada kisah mukjizatnya. Kita perlu menangkap pesan utamanya: shalat adalah jalan pembinaan jiwa. Ia mendidik manusia untuk hidup tertib, bersih, dan bertanggung jawab. Shalat menata hubungan vertikal dengan Allah sekaligus membentuk tanggung jawab horizontal kepada sesama.
Al-Qur’an menegaskan fungsi shalat dengan sangat jelas: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 45). Ini bukan sekadar kalimat indah, melainkan prinsip besar: shalat yang benar seharusnya memunculkan daya cegah moral. Shalat bukan hanya gerakan tubuh, tetapi proses penyucian diri.membangun kesadaran, menguatkan kontrol diri, dan menumbuhkan rasa malu untuk berbuat dosa.
Namun di tengah masyarakat, kita sering menyaksikan kenyataan yang mengusik nurani: ada yang shalat, bahkan tampak rajin, tetapi masih terjerumus dalam maksiat. Ada yang rapi dalam saf, tetapi tidak rapi dalam amanah. Ada yang menjaga bacaan, tetapi tidak menjaga lisan. Dari sini muncul pertanyaan yang penting untuk dijawab dengan jernih: mengapa shalat yang disebut sebagai tiang agama tidak selalu tampak dalam akhlak?
Islam tidak pernah memisahkan ibadah dari perilaku. Shalat yang sah secara fikih memang menggugurkan kewajiban, tetapi shalat yang hidup secara ruhani seharusnya melahirkan perubahan. Al-Qur’an mengingatkan: “Maka celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) yang lalai dari shalatnya” (QS. Al-Ma’un [107]: 4–5). Kelalaian bukan semata meninggalkan shalat, tetapi bisa juga shalat yang kehilangan jiwa: dilakukan, tetapi tidak membekas; dikerjakan, tetapi tidak mendidik.
Nabi SAW juga mengingatkan bahwa shalat adalah penyangga keimanan. Dalam sebuah hadits disebutkan, “Pokok urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat…” Shalat adalah tiang: bila kokoh, bangunan agama tegak; bila rapuh, kehidupan mudah runtuh oleh godaan dan kelalaian.
Di sinilah kita perlu meneguhkan kembali makna shalat sebagai energi perubahan. Shalat bukan sekadar kewajiban yang “ditunaikan agar selesai”, melainkan perjumpaan yang menghidupkan hati. Takbir mengajarkan bahwa Allah lebih besar dari hawa nafsu. Rukuk melatih kerendahan hati. Sujud mengingatkan bahwa manusia tidak pantas sombong. Salam mengajarkan kedamaian: selesai shalat kita tidak boleh menjadi sumber luka bagi orang lain.
Spirit ini sejalan dengan ajaran Kiai Ahmad Dahlan. Beliau tidak memahami agama sebagai kumpulan ritual yang berhenti di masjid, tetapi sebagai gerakan pencerahan yang melahirkan amal nyata. Ketika Kiai Dahlan mengajarkan Surah Al-Ma’un berulang-ulang, itu bukan karena beliau kehabisan materi, melainkan karena beliau ingin menanamkan satu pesan: iman harus menjadi tindakan. Ibadah harus melahirkan kepedulian. Kesalehan harus tampak dalam keberpihakan kepada yang lemah.
Maka shalat dalam perspektif Islam berkemajuan bukan hanya tiang yang berdiri sendiri, tetapi tiang yang menyangga bangunan akhlak dan peradaban. Shalat yang benar semestinya membuat seseorang semakin jujur dalam pekerjaan, semakin bersih dalam urusan harta, semakin adil dalam keluarga, dan semakin ringan tangan untuk menolong sesama.
Lalu bagaimana membumikan perilaku shalat dalam kehidupan sehari-hari?
Pertama, hadirkan shalat dengan kesadaran. Jangan sekadar cepat selesai, tetapi berusaha khusyuk semampunya. Khusyuk bukan berarti tanpa gangguan, melainkan kesungguhan menghadirkan hati di hadapan Allah.
Kedua, jadikan shalat sebagai latihan akhlak harian. Shalat lima waktu adalah “pengingat berkala” agar manusia kembali lurus. Bila setelah shalat kita masih ringan berdusta, mudah marah, atau gemar merendahkan orang lain, berarti shalat kita belum bekerja sebagaimana mestinya.
Ketiga, hubungkan shalat dengan amal sosial. Shalat tidak boleh menjauhkan kita dari realitas umat. Semakin kuat shalat seseorang, semestinya semakin tinggi kepeduliannya: membantu tetangga, menolong yang kesulitan, menjaga kebersihan lingkungan, dan aktif dalam kerja-kerja kemanusiaan.
Keempat, kuatkan shalat berjamaah dan pembinaan di masjid. Masjid bukan hanya tempat sujud, tetapi pusat pencerahan. Dari masjid, lahir ilmu, solidaritas, dan gerakan kebaikan.
Isra’ Mi’raj pada akhirnya adalah pesan harapan. Bahwa di tengah dunia yang bising dan penuh godaan, Allah memberi shalat sebagai jalan pulang: meneguhkan iman, mencerahkan akhlak, dan menguatkan langkah menuju takwa. Ketika shalat dipahami sebagaimana spirit Kiai Ahmad Dahlan dengan ilmu, kesadaran, dan amal maka shalat tidak berhenti sebagai rutinitas, tetapi menjadi cahaya yang mengubah hidup.

