BANDUNG, Suara Muhammadiyah — Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah Fathul Wahid mengajak mahasiswa baru UM Bandung rajin membaca berbagai buku. Khususnya buku yang berkaitan dengan tema-tema pendidikan.
Dalam rangkaian Pesonamu UM Bandung, Selasa (22/9/2026), Fathul yang juga Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) periode 2018–2026 merekomendasikan novel karyanya berjudul "Sekolah Terakhir" sebagai salah satu bacaan bagi mahasiswa baru.
Menurut Fathul, buku tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi mahasiswa untuk melihat dan merefleksikan berbagai persoalan pendidikan. “Untuk mahasiswa baru, kebetulan saya ada novel tulisan saya, judulnya "Sekolah Terakhir". Itu kalau dibaca juga bisa jadi salah satu pintu masuk,” ujarnya.
Selain "Sekolah Terakhir", Fathul menyarankan mahasiswa membaca "Pendidikan Kaum Tertindas" karya Paulo Freire. Ia juga menyebut karya Ivan Illich yang mengangkat gagasan tentang masyarakat tanpa sekolah sebagai bacaan yang dapat memperluas perspektif mahasiswa mengenai pendidikan.
Bagi Fathul, membaca menjadi bagian penting dari proses mahasiswa dalam memperluas wawasan. Pendidikan di perguruan tinggi, menurutnya, tidak seharusnya berhenti pada aktivitas perkuliahan di dalam kelas.
Fathul mengingatkan mahasiswa agar memandang kesempatan berkuliah sebagai sebuah nikmat. Kesadaran itu, menurutnya, dapat menumbuhkan rasa syukur sekaligus membantu mahasiswa menjalani masa perkuliahan dengan lebih optimistis. “Ketika orang sadar itu nikmat, maka harus bersyukur. Nah, ketika orang bersyukur, itu bahagia,” katanya.
Rasa syukur tersebut kemudian perlu diwujudkan melalui aktivitas yang mendukung perkembangan diri. Mahasiswa dapat belajar dengan sungguh-sungguh, mengembangkan kemampuan, mengikuti organisasi, hingga membangun jaringan.
“Ketika orang memandang masa depan dengan optimisme, maka dia akan berkemas-kemas dengan baik. Belajar dengan baik, mengembangkan diri dengan baik, termasuk berorganisasi, membangun jaringan,” jelasnya.
Fathul juga mengingatkan mahasiswa agar tidak berhenti pada sikap kritis di media sosial. Menurutnya, gagasan dan kepedulian perlu dilanjutkan dengan keterlibatan nyata di lingkungan sekitar.
Mahasiswa dapat menemukan ruang untuk berkarya dan memberikan manfaat tanpa harus menunggu kegiatan besar. Kontribusi itu, kata Fathul, bisa dimulai dari lingkungan terdekat. “Yang ada di sekitar mereka saja, enggak harus jauh-jauh,” ujarnya.
Ia mencontohkan keterlibatan mahasiswa dalam mendampingi anak-anak kurang mampu atau membantu kegiatan belajar masyarakat di sekitar kampus. Kegiatan semacam itu tidak hanya menjadi ruang untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah.
Mahasiswa juga dapat merasakan secara langsung kebermaknaan dari kontribusi yang mereka berikan. “Dan saya yakin anak sekarang kan senang kalau ada kebermaknaan kan?” tuturnya.
Melalui membaca, belajar, berorganisasi, membangun relasi, dan terlibat di tengah masyarakat, Fathul mendorong mahasiswa untuk memanfaatkan masa kuliah sebagai proses membangun diri sekaligus memberi dampak.
Dengan demikian, pendidikan tinggi tidak hanya menjadi jalan untuk memperoleh ijazah. Namun, menjadi ruang bagi mahasiswa untuk tumbuh menjadi pribadi yang unggul, memiliki perspektif luas, dan bermanfaat bagi lingkungan.**(Hikma/Althof/Fauzan)

