Fenomena Muslim Apatis dan Sekilas Pemikiran Ali Syariati
Oleh: Moh Ramli, Lulusan Magister Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA
Di media sosial, tengah ramai diperbincangkan mengenai cuitan seorang ustaz. Ia memberikan pandangannya tentang bagaimana seharusnya masyarakat Indonesia menyikapi ambruknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini. Sosok ini mengajak agar masyarakat tidak gundah, sebab rezeki telah diatur oleh Tuhan. Berbagai respons pun dialamatkan warganet kepadanya.
Ada yang menanggapi secara positif; mereka percaya bahwa segala sesuatu telah ditetapkan oleh-Nya. Sebaliknya, tidak sedikit yang memberikan respons negatif karena menilai ustaz tersebut salah kaprah dalam mengartikan ajaran Islam yang hakiki mengenai cara berwarganegara yang baik ketika menyikapi persoalan bangsa.
Saya termasuk pihak yang sepakat dengan penilaian kedua. Bahkan, menurut saya, cuitan ustaz tersebut menjadi salah satu jawaban mengapa umat Islam dewasa ini kerap mengalami kemunduran. Padahal, agama yang mereka peluk seharusnya mampu membawa umat—meminjam istilah dari Muhammadiyah—menjadi "berkemajuan" dalam berbagai aspek kehidupan.
Bagi saya, pemikiran ustaz-ustaz macam di atas tersebut bukan hanya menjadi paradoks pada ajaran sejati Islam itu sendiri, melainkan akan membius pada kesadaran umat. Alih-alih bicara amar ma'ruf nahi munkar, yang terjadi adalah penjerumusan pada kemunduran sejak pikiran.
Konsep Ali Syariati
Cuitan dari sosok yang ditokohkan oleh sebagian masyarakat ini seketika mengingatkan saya pada tokoh pemikir asal Iran: Ali Syariati. Ya, sang sosiolog sekaligus konseptor revolusioner (1933–1977).
Lahir pada tahun 1933 di Mazinan, sebuah wilayah pinggiran Sabzevar, Syariati mewariskan kontribusi pemikiran yang luar biasa. Gagasannya mampu memengaruhi generasi muda Iran dan menjadi salah satu motor penggerak utama Revolusi Iran pada tahun 1979.
Syariati dikenal luas karena pemikirannya tentang “ideologi Islam” yang progresif dan revolusioner. Ia “mengawinkan” ajaran Islam dengan semangat pembebasan dan keadilan sosial, yang kemudian menjadi bahan bakar gerakan perubahan di negaranya.
Ia melontarkan kritik keras terhadap rezim Shah Iran dan sistem sosial yang dianggapnya menindas. Alternatifnya, ia menawarkan pemikiran Islam yang transformatif. Syariati menekankan pentingnya kesadaran sosial, aksi kolektif, dan perjuangan semesta melawan ketidakadilan.
Tauhid, bagi Syariati, tak sekadar didefinisikan sebagai keyakinan pada keesaan Tuhan secara teologis, melainkan juga sebuah manifestasi penolakan terhadap segala bentuk “ketuhanan” selain Allah. Ini termasuk penolakan terhadap penguasa yang zalim, sistem ekonomi yang eksploitatif, dan struktur sosial yang menindas.
Ali Syariati percaya bahwa Islam, jika dipahami dengan tepat, adalah ideologi paling revolusioner yang dapat membebaskan manusia dari belenggu penindasan.
Dari banyak karya yang diwariskannya, kita dapat membaca salah satu buku monumentalnya yang berjudul: Islam Agama Protes. Karya teologis-sosiologis ini secara tajam mendekomposisi fungsi agama dalam kehidupan masyarakat.
Sebagai seorang intelektual yang gelisah melihat keterpurukan umat Muslim, Ali Syariati menegaskan bahwa Islam sejatinya lahir bukan untuk “meninabobokan” manusia dalam ritual magis yang pasif, melainkan sebagai sebuah ideologi pergerakan yang progresif.
Lewat buku tersebut, ia menyuarakan bahwa esensi dari ajaran para nabi adalah melakukan “protes” keras terhadap segala bentuk penindasan, ketidakadilan sosial, dan pembodohan yang dilembagakan oleh penguasa.
Dalam konteks problem yang kita hadapi saat ini, umat Islam jelas tidak boleh diam dan berlindung di balik kalimat “rezeki telah ada yang mengatur.” Tentu, sebagai muslim yang baik, kita mengimani hal tersebut. Namun pokok persoalannya, anjloknya nilai tukar mata uang adalah bentuk kegagalan tata kelola dari sebuah rezim.
Hemat saya, harusnya tokoh-tokoh agamalah turut “berteriak” untuk edukasi publik yang mengikutinya terkait problem tersebut. Sebab hal tersebut menjadi urgent untuk kita bahas dan persoalkan dewasa ini.
Upaya atau ikhtiar yang harus dilakukan adalah menyodorkan kritik bahkan protes secara terbuka: meminta pertanggungjawaban kepada mereka merumuskan kebijakan. Bukan justru sebaliknya, kita membiarkan hal itu begitu saja, dan percaya sikap diam adalah lebih baik daripada memperkeruh keadaannya.
Padahal, ketika rupiah ambruk terhadap dolar, yang anjlok bukan sekadar angka di papan bursa, melainkan perekonomian masyarakat secara riil—di mana umat Islam merupakan mayoritas di negeri ini.
Kesadaran sosial-politik seperti inilah yang sangat penting untuk terus ditanamkan dalam pikiran dan hati rakyat kita. Sebab, jika problem sistemik ini tidak diatasi, Indonesia beserta seluruh rakyatnya harus membayar dampak buruknya dengan sangat mahal di kemudian hari.
Penutup
Secara fakta historis, Islam hadir ke bumi sebagai bentuk perlawanan atas berbagai penindasan dan ketidakadilan. Maka, menjadi pemeluknya berarti mengimplementasikan semangat perlawanan tersebut.
Bagi seorang muslim yang hidup dalam negara demokrasi seperti Indonesia, bersikap pasif adalah sebuah keliru, apalagi jika bersikap masa bodoh terhadap krisis yang sedang terjadi.
So, jangan menjadi penumpang gelap demokrasi, dan jangan menjadi muslim yang apatis atas segala krisis. Sebab Islam tak pernah berpihak pada ketidakadilan dan kepecundangan. “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (QS. Ar-Ra'd: 11)

