Formula Rasional untuk Kesehatan dalam Perspektif Islam: Integrasi Ikhtiar Medis, Ketaatan Kaffah, dan Pertolongan Allah
Oleh: dr. Wiwik Rahayu, M.Kes (Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Riau)
Perkembangan dunia kesehatan modern saat ini sungguh luar biasa. Teknologi kedokteran berkembang pesat, rumah sakit semakin megah, alat diagnostik semakin canggih, jumlah dokter terus bertambah, dan berbagai obat modern berhasil ditemukan. Secara logika, kondisi ini seharusnya menjadikan manusia semakin sehat dan angka penyakit semakin menurun.
Namun realitas justru menunjukkan hal yang berbeda. Penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian tertinggi di dunia. Kasus stroke terus meningkat dan menjadi penyebab utama kecacatan. Gangguan saraf dan gangguan mental pun semakin banyak ditemukan di tengah masyarakat modern.
Fenomena ini menghadirkan sebuah pertanyaan penting: mengapa ketika ilmu dan teknologi kesehatan berkembang pesat, manusia justru semakin sakit ?
Pertanyaan tersebut penting direnungkan, sebab boleh jadi masalah kesehatan manusia tidak hanya terletak pada aspek biologis semata. Ada dimensi lain yang sering diabaikan dalam cara pandang kesehatan modern, yaitu bagaimana manusia menjalani kehidupannya.
Islam memandang manusia sebagai makhluk yang utuh, bukan sekadar kumpulan organ biologis. Manusia memiliki kebutuhan jasmani, naluri, dan akal. Untuk memenuhi seluruh kebutuhan jasmani dan naluri tersebut, Allah Swt. telah menurunkan aturan berupa syariat Islam yang mengatur seluruh perbuatan manusia. Dalam pandangan Islam, akal tidak dibiarkan berjalan bebas tanpa arah, tetapi harus digunakan untuk memahami dan menjalankan syariat Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika manusia memenuhi kebutuhan jasmani dan nalurinya tanpa menggunakan akal yang bersandar kepada syariat Allah, maka kerusakan menjadi sebuah keniscayaan. Kerusakan itu tidak hanya muncul dalam aspek moral dan sosial, tetapi juga dapat tampak dalam bentuk gangguan kesehatan fisik maupun mental.
Al-Qur’an telah memberikan gambaran yang sangat jelas tentang hal ini melalui firman Allah Swt.:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia...”
(QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini menjelaskan bahwa berbagai bentuk kerusakan atau fasad pada hakikatnya merupakan akibat dari perilaku manusia sendiri. Dalam konteks kesehatan, penyakit dapat dipahami sebagai salah satu bentuk fasad yang muncul akibat penyimpangan manusia dari aturan Allah.
Menariknya, banyak faktor risiko penyakit modern ternyata sangat berkaitan dengan perilaku yang dilarang dalam Islam. Merokok, konsumsi alkohol, narkoba, pola makan berlebihan, begadang, stres berkepanjangan akibat jauh dari ketenangan spiritual, hingga gaya hidup yang tidak sehat, semuanya terbukti secara ilmiah meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, gangguan metabolik, gangguan saraf, hingga gangguan mental.
Dalam dunia medis, hal-hal tersebut dikenal sebagai faktor risiko. Namun Al-Qur’an telah jauh lebih dahulu menjelaskan bahwa kerusakan terjadi akibat ulah manusia sendiri.
Di sinilah Islam menawarkan perspektif kesehatan yang sangat rasional sekaligus komprehensif. Islam tidak memandang kesehatan hanya sebagai hasil intervensi medis semata, tetapi sebagai hasil integrasi antara ikhtiar manusia, ketaatan kepada Allah, dan pertolongan-Nya.
Karena itu, formula rasional untuk mempertahankan kesehatan atau mengupayakan kesembuhan sejatinya dapat dirumuskan sebagai berikut:
Kesehatan = Ikhtiar Medis + Ketaatan Kaffah + Pertolongan Allah
Pertama, Islam memerintahkan manusia untuk melakukan ikhtiar medis. Rasulullah saw. bersabda:
“Berobatlah kalian, karena sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit melainkan menurunkan pula obatnya.”
(HR. Abu Dawud)
Hadis ini menunjukkan bahwa pengobatan, pencegahan penyakit, menjaga pola makan, olahraga, serta berbagai upaya medis merupakan bagian dari syariat Islam. Islam bukan agama yang mengajarkan kepasrahan tanpa usaha.
Namun Islam juga mengajarkan bahwa ikhtiar medis saja tidak cukup. Ada dimensi kedua yang sangat penting, yaitu ketaatan kaffah kepada Allah. Ketaatan dalam Islam bukan sekadar ritual ibadah, tetapi mencakup seluruh aspek kehidupan: menjaga halal dan haram, menjaga akhlak, menjaga keluarga, menjaga hati, serta menjalankan syariat Allah secara menyeluruh.
Ketaatan inilah yang melahirkan pola hidup yang lebih sehat, lebih tenang, dan lebih terjaga. Banyak penelitian modern menunjukkan bahwa ketenangan spiritual, kontrol emosi, lingkungan sosial yang baik, dan gaya hidup sehat memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan fisik maupun mental manusia. Dalam perspektif Islam, semua itu merupakan buah dari ketaatan kepada Allah.
Namun di atas semua itu, ada satu variabel besar yang sering dilupakan manusia modern, yaitu pertolongan Allah. Tidak sedikit pasien yang secara medis memiliki peluang kecil untuk sembuh tetapi akhirnya membaik. Sebaliknya, ada pula pasien yang telah mendapatkan terapi optimal tetapi hasilnya tidak sesuai harapan. Hal ini menunjukkan bahwa hasil akhir tetap berada dalam kekuasaan Allah Swt.
Lalu bagaimana cara memperoleh pertolongan Allah?
Allah Swt. berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong agama Allah, niscaya Allah akan menolong kalian...”
(QS. Muhammad: 7)
Ayat ini memberikan pelajaran penting bahwa pertolongan Allah berkaitan erat dengan kesungguhan manusia dalam menolong agama-Nya. Karena itu, dakwah sejatinya bukan hanya aktivitas ceramah di mimbar, tetapi juga segala upaya mengajak manusia kembali kepada nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks dunia kesehatan, tenaga kesehatan Muslim tidak cukup hanya menjadi penyembuh biologis. Dokter, perawat, dan tenaga kesehatan juga memiliki peran sebagai pengemban dakwah yang mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kesehatan sesuai tuntunan Islam, menjauhi perilaku merusak, serta mendekatkan diri kepada Allah.
Pada akhirnya, krisis kesehatan modern mungkin bukan semata-mata disebabkan kurangnya rumah sakit atau teknologi medis. Bisa jadi yang paling kurang adalah kembalinya manusia kepada Allah.
Ilmu kedokteran sangat penting. Teknologi kesehatan sangat dibutuhkan. Namun manusia tidak akan pernah benar-benar sehat tanpa petunjuk dari Sang Pencipta manusia itu sendiri. Karena Allah yang menciptakan tubuh manusia, maka Allah pula yang paling mengetahui cara menjaga kesehatan manusia lahir dan batin, dunia dan akhirat.

