SLEMAN, Suara Muhammadiyah - Menjalankan bisnis tidak ada yang berjalan lancar bak jalan tanpa hambatan. "Gagal itu biasa," sebut Muhadjir Effendy.
Bahkan, hal itu merupakan keniscayaan yang tidak dapat dinafikan. "Menjadi pebisnis sukses harus pernah gagal," ujarnya lagi.
Demikian dipertegas Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut dalam pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) dan Seminar Nasional Majelis Ekonomi, Bisnis dan Pariwisata PP Muhammadiyah, Kamis (5/2) di Hotel Hyatt Yogyakarta, Palagan Tentara Pelajar, Sleman.
"Jadi kalau kita gagal berkali-kali, itu tanda-tanda kita akan berhasil," tegasnya.
Demikian harus berani mengambil risiko. Tidak bisa tidak. Semua pebisnis, disebut Muhadjir, merasakan getir-pahit usaha dan bisnis yang dijalankan, baik besar maupun kecil.
"Kalau usaha pun pasti mengambil risiko yang kecil atau tidak berisiko. Jadi ciri-ciri orang yang tidak akan pernah berhasil itu adalah dia tidak pernah gagal," sebut Muhadjir lagi.
Muhadjir mendorong jangan skeptis dan pesimis. Harus berjuang keras dari bawah sampai kemudian menuju tujuan dan cita-cita yang dituju. "Jadi, kita jangan gampang menyerah. Apalagi pebisnis di Muhammadiyah," terangnya.
Terlebih lagi, menjalankan pilar ketiga Persyarikatan yaitu ekonomi sebagai prioritas. "10 tahun kita berusaha untuk untuk membangun pilar ini," ujarnya. Namun, Muhadjir mengakui belum bisa maksimal untuk mengejawantahkannya.
"Marilah kita berjuang habis-habisan untuk memajukan (ekonomi Muhammadiyah, red)," tambahnya lagi. Begitu hendak diobyektivikasi ke dalam praksis nyata, memiliki potensi yang sangat besar.
"Saya kira potensi sumber daya manusia di bidang ekonomi itu sebetulnya sangat besar," bebernya.
Kuncinya ada di basis konsilidasi. Disebutkan Muhadjir, konsolidasi bentuknya ada dua, yaitu fisik dan pikiran. Dan kedua variabel tersebut menjadi bantalan vital dalam menopang penguatan pilar ekonomi Muhammadiyah ke depan. (Cris)

