BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Dalam rangka memperingati Milad ‘Aisyiyah ke-109 sekaligus mendukung Program GembiraMu (Gerakan Pendidikan Inklusif untuk Generasi Emas Muhammadiyah), Divisi PAUD Majelis PAUD Dasmen Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Jawa Barat menyelenggarakan Gerakan 109 Kebaikan Inklusif melalui Webinar Series Pendidikan Inklusif PAUD ‘Aisyiyah Tahun 2026 dengan mengusung tema “Merayakan Keberagaman untuk Semua Anak”. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Selasa (2/6/2026) ini menghadirkan Prof. Dr. Herwina Bahar, M.A. sebagai narasumber utama.
Webinar tersebut mendapat sambutan luar biasa dari para pendidik di seluruh Indonesia. Menurut panitia penyelenggara, kegiatan ini diikuti oleh 1.518 peserta yang terdiri atas guru, kepala Taman Kanak-Kanak (TK), dan Kelompok Bermain (KB) dari berbagai provinsi. Menariknya, peserta tidak hanya berasal dari lembaga TK dan KB ‘Aisyiyah, tetapi juga dari berbagai satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) lainnya di seluruh Indonesia. Tingginya partisipasi tersebut menunjukkan bahwa pendidikan inklusif telah menjadi perhatian bersama dan memperoleh respons positif dari para praktisi pendidikan anak usia dini di tanah air.
Dalam pemaparannya, Prof. Herwina Bahar menegaskan bahwa pendidikan inklusif merupakan amanat nilai-nilai Islam yang menempatkan setiap manusia pada kedudukan yang mulia tanpa membedakan kondisi fisik, mental, maupun latar belakang sosial. Menurutnya, kemuliaan seseorang di hadapan Allah ditentukan oleh ketakwaannya, sehingga lembaga pendidikan harus menjadi ruang yang menerima dan menghargai seluruh peserta didik tanpa diskriminasi.
Prof. Herwina yang juga menjabat sebagai Bendahara Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah menjelaskan bahwa pendidikan inklusif tidak cukup dipahami sebagai bentuk kepedulian atau belas kasih semata. Pendidikan inklusif harus diwujudkan dalam bentuk pemberdayaan yang memberikan kesempatan setara bagi setiap anak untuk berkembang sesuai potensi yang dimiliki. Anak berkebutuhan khusus maupun kelompok rentan lainnya harus dipandang sebagai subjek pendidikan yang memiliki hak, potensi, dan masa depan yang perlu dikembangkan bersama.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa melalui Program GembiraMu, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah berkomitmen membangun ekosistem pendidikan yang ramah anak, ramah disabilitas, dan ramah gender. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyesuaian kurikulum, penyediaan sarana dan prasarana yang aksesibel, serta peningkatan kapasitas guru agar memiliki empati dan keterampilan dalam melayani keberagaman kebutuhan peserta didik.
“Sekolah/Madrasah harus menjadi tempat yang menyenangkan bagi semua anak. Tidak boleh ada satu pun peserta didik yang merasa terpinggirkan hanya karena perbedaan kemampuan, kondisi fisik, atau latar belakangnya,” ungkap Prof. Herwina.
Ia juga menekankan bahwa pendidikan inklusif merupakan bentuk nyata dakwah Islam Berkemajuan. Melalui praktik pendidikan yang inklusif, masyarakat dapat melihat bahwa nilai-nilai Islam hadir sebagai rahmatan lil ‘alamin yang diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar wacana. Tradisi pelayanan sosial yang selama ini dijalankan oleh ‘Aisyiyah dalam mengelola berbagai lembaga pendidikan dan kesejahteraan sosial menjadi modal penting untuk terus memperkuat gerakan pendidikan inklusif di Indonesia.
Menurut Prof. Herwina, pendidikan inklusif bertumpu pada keyakinan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama di hadapan Allah. Karena itu, sekolah-sekolah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah harus menjadi ruang yang menolak segala bentuk diskriminasi serta memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh anak untuk belajar, tumbuh, dan berkembang sesuai potensinya. Melalui gerakan GembiraMu, diharapkan terbangun ekosistem pendidikan yang ramah, menggembirakan, dan berpihak pada seluruh peserta didik tanpa terkecuali.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperluas pemahaman dan praktik pendidikan inklusif di lingkungan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, sekaligus memperkuat komitmen para pendidik dalam mewujudkan layanan pendidikan yang bermutu, berkeadilan, dan membahagiakan bagi seluruh anak Indonesia.
Menutup pemaparannya, Prof. Herwina menyampaikan pesan yang menginspirasi seluruh peserta bahwa pendidikan inklusif adalah ikhtiar bersama untuk memastikan setiap anak memperoleh hak yang sama dalam pendidikan. Menurutnya, keberagaman bukanlah penghalang, melainkan kekuatan yang harus dirayakan bersama. Oleh karena itu, seluruh elemen pendidikan perlu bergandengan tangan menghadirkan sekolah yang ramah, inklusif, dan membahagiakan bagi semua anak.
"Pendidikan inklusif untuk semua anak, tiada yang tertinggal, tiada yang rapuh, semua anak aman, nyaman, gembira dan menggembirakan menyambut Indonesia emas," tuturnya. (Hendra Apriyadi)

