SUKOHARJO, Suara Muhammadiyah — World Art Day tahun ini terasa berbeda, setelah lembar-lembar mushaf ditutup dan lantunan hafalan mulai mereda, suasana di PPTQ Shirathun Najah berubah menjadi lebih berwarna. Bukan lagi suara ayat yang mendominasi, tapi goresan krayon di atas kertas. Kegiatan unik antara Majelis Lingkungan Hidup Cabang Blimbing bersama PPTQ Shirathun Najah Miri. Para santri diajak melukis alam semesta usai menjalani kegiatan ziyadah dan murajaah Al-Qur’an.
Dengan menggunakan kertas dan krayon berwarna, para santri menggambarkan berbagai elemen alam sebagai bentuk refleksi atas kebesaran Allah SWT. Ust Affan, Salah satu pembimbing Tahfid menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai bentuk keseimbangan antara spiritualitas dan kreativitas.
“Melukis ini menjadi waktu active rest bagi santri. Setelah fokus pada hafalan, mereka diberi ruang untuk berkreasi agar otak kembali segar dan lebih siap menerima hafalan baru,” ujarnya, 15 April 2026.
Ust. Wahyu, selaku pembimbing kegiatan melukis, menambahkan bahwa seni dapat menjadi media refleksi yang kuat dalam pendidikan berbasis pesantren.
“Kami ingin santri tidak hanya kuat dalam hafalan, tetapi juga mampu merasakan dan mengekspresikan keindahan ciptaan Allah,” tambahnya.
Kegiatan ini mendapat respons positif dari para santri yang tampak antusias mengikuti setiap prosesnya. Selain sebagai sarana rekreasi edukatif, kegiatan ini juga memperkuat nilai-nilai religius sekaligus kreativitas.
Melalui kolaborasi ini, MLH berharap dapat membantu terbentuknya karakter santri yang tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga kreatif, reflektif, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan.
