Green Ramadhan dengan Puasa Karbon
Oleh: Miqdam Awwali Hashri, S.E., M.Si, Pengurus Lembaga Dakwah Komunitas PP Muhammadiyah
Bulan Ramadhan seringkali dimaknai sebatas ritual menahan lapar dan dahaga. Padahal, jika diselami lebih dalam, Ramadhan adalah momentum untuk melakukan kalibrasi ulang hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta, sesama manusia, dan alam semesta. Mengangkat isu ekologi di bulan suci ini menjadi sangat relevan, mengingat krisis iklim yang kian nyata, serta esensi Islam sebagai ajaran rahmatan lil ‘aalamiin yang membawa kebahagiaan bagi seluruh alam.
Ibrahim Abdul-Matin, seorang aktivis lingkungan dari Amerika Serikat, pernah menggagas pemikiran menarik yang disebut Green Deen. Landasan filosofisnya adalah pemahaman “bumi adalah masjid”. Jika dipahami bahwa masjid adalah tempat yang suci, maka menjaga kebersihan dan kelestarian bumi bukan lagi sekadar urusan aktivis lingkungan, melainkan bagian integral dari ibadah umat Muslim.
Enam Pilar Green Deen
Dalam Green Deen, terdapat enam prinsip utama yang menjadi pegangan, yaitu: Tauhid (kesatuan alam), Ayat (tanda kebesaran Tuhan di alam), Khalifah (manusia sebagai penjaga), Amanah (tanggung jawab), Adl (keadilan), dan Mizan (keseimbangan).
Prinsip ini mengajak setiap individu, terutama muslim, untuk lebih mawas diri dalam hal pola konsumsi. Abdul-Matin menyoroti bagaimana overconsumption atau konsumsi, menjadi permasalahan utama yang berdampak pada menurunnya kualitas lingkungan. Ia bahkan membagi energi secara filosofis menjadi dua kategori, yaitu: "energi dari neraka" seperti minyak bumi dan batu bara yang merusak atmosfer, serta "energi dari surga" seperti angin dan matahari yang bersih dan membawa rahmat. Ramadan seharusnya menjadi laboratorium bagi umat untuk mulai berpindah jalur dari ketergantungan pada energi "neraka" menuju kesadaran energi “surga”.
Sejalan dengan ajakan Prof. Abdul Mu’ti untuk menerapkan Green Ramadhan, pengendalian diri di bulan suci ini sebetulnya bukan hanya sebatas urusan makanan. Jika puasa melatih manusia mengendalikan emosi dan konsumsi, maka sudah saatnya puasa menyentuh aspek emisi. Inilah esensi dari Puasa Karbon.
Puasa karbon menjadi bentuk ikhtiar sadar untuk mengurangi jejak polusi selama bulan suci. Salah satu bentuk paling nyata adalah dengan meminimalkan penggunaan kendaraan bermotor, terutama saat menuju masjid untuk shalat berjamaah atau tarawih maupun aktivitas lainnya yang dapat dijangkau dengan berjalan kaki atau bersepeda. Dengan membatasi penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil, seorang Muslim sebenarnya sedang mengurangi "energi neraka" yang diperingatkan oleh Abdul-Matin.
Alhamdulillah, selama 15 hari Ramadhan ini, penulis mencoba melakukan ikhtiar puasa karbon dengan bersepeda. Berdasarkan catatan perjalanan, penulis telah menempuh jarak 116,96 km tanpa emisi knalpot. Ikhtiar sederhana ini berhasil menahan emisi sekitar 28,1 kg CO2. Berdasarkan beberapa referensi, angka tersebut setara dengan kapasitas penyerapan karbon dari dua pohon dewasa dalam setahun. Bayangkan jika kesadaran ini dilakukan secara kolektif; umat Islam sedang "menanam" hutan di tengah hiruk-pikuk kota hanya dengan mengubah cara menuju tempat ibadah.
Bersepeda: Melatih Kesabaran dan Mengurangi Keluhan
Di luar manfaat dari aspek lingkungan, bersepeda di bulan puasa juga memberikan dimensi spiritual yang unik. Aktivitas mengayuh pedal menjadi cara ampuh untuk mengikis sikap mengeluh. Biasanya, saat menggunakan kendaraan bermotor, manusia rentan menggerutu soal harga BBM, macet, hingga biaya parkir. Namun, di atas sadel sepeda, keluhan-keluhan materialistik itu bisa diminimalisir.
Bersepeda melatih kesabaran dan ketahanan (endurance), yang merupakan inti dari ibadah puasa itu sendiri. Ada kesadaran yang muncul akan nikmat bernafas dan kekuatan otot yang Allah berikan. Ini adalah bentuk syukur secara jasmani. Hal ini senada dengan pemikiran Seyyed Hossein Nasr yang mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan berakar dari hilangnya cara pandangan kesakralan manusia terhadap alam. Dengan bersepeda, manusia kembali menyapa alam dan memperlakukannya sebagai ayat kauniyah atau tanda kebesaran Allah yang hidup dan bukan sekadar objek untuk dieksploitasi.
Kesadaran ini selaras dengan pemikiran Anna M. Gade bahwa komitmen terhadap lingkungan merupakan cara umat menyusun ulang pengetahuan Islam di dunia modern melalui lensa lingkungan hidup. Bagi Gade, memahami agama berarti juga memahami tanggung jawab moral terhadap kelestarian lingkungan. Dengan demikian, puasa karbon melalui bersepeda adalah bentuk nyata dari penyatuan antara ritual ibadah shalat dengan aktivitas menjaga kelestarian bumi sebagai "masjid" universal.
Mari jadikan sisa hari di bulan Ramadhan ini sebagai momentum untuk berpindah dari energi yang merusak menuju energi yang penuh rahmat. Semoga setiap ikhtiar puasa karbon kita dicatat sebagai amal jariyah yang mengantarkan pada derajat takwa. Dan semoga setiap jengkal langkah kaki kita menjadi saksi di akhirat kelak, bahwa manusia pernah berjuang menjaga rumah suci yang kita sebut Bumi. Wallahua’lam

