YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Tim MTC menggelar rapat Rapat koordinasi dilaksanakan di BPMP Yogyakarta pada 28 Februari–1 Maret 2026. Kegiatan tersebut dihadiri oleh unsur Pimpinan Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) PP Muhammadiyah, antara lain Didik Suhardi, Ph.D., selaku Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah; Kasiyarno, M.Hum., selaku Wakil Ketua; serta Herwina Bahar, M.A., selaku Bendahara Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah. Selain itu dihadiri oleh unsur PDM hadir wakil ketua PDM yang membidangi pendidikan Drs. Subintomo dan PCM Drs. H. Kasdiyono selaku Ketua PCM Sentolo.
Turut hadir pula Muhammad Sofyan, S.T., M.T., selaku Wakil Bendahara I; Achmad Muhammad, M.Ag., selaku Anggota; Dr. Enung Hasanah, M.Pd.; Agus Suroyo, M.Pd.I.; serta Drs. Aris Munawar selaku Anggota Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah.
Didik Suhardi , P.hD selaku ketua Majelis Dikdasmen & PNF PP Muhammaduiyah , mengatakan bahwa MTC (Majelis Dikdasmen Training Center) diharapkan menjadi legacy majelis dikdasmen dan PNF periode ini. Ia menegaskan pentingnya kesiapan menyeluruh, baik dari aspek teknis, administratif, maupun manajerial sebelum proyek resmi dimulai.
Dalam agenda pembahasan yang dikoordinasikan oleh Manajemen Project ini, ditegaskan bahwa sebelum pelaksanaan ground breaking, sejumlah persyaratan wajib telah terpenuhi. Persyaratan tersebut meliputi tersedianya gambar arsitektur dan struktur final, Rencana Anggaran Biaya (RAB) detail yang telah disahkan Steering Committee (SC), serta ketersediaan arus kas (cashflow) yang aman minimal untuk tiga bulan pertama pelaksanaan proyek.
Selain itu, tim juga harus memastikan kesiapan Standar Operasional Prosedur (SOP) pengadaan dan pengawasan, legalitas bangunan seperti Persetujuan Bangunan Gedung (PBG)/Izin Mendirikan Bangunan (IMB) yang telah dinyatakan clear, kesiapan lahan konstruksi, serta sistem pelaporan proyek yang sudah aktif dan berjalan.
Agus Suroyo selaku , tim Manajer Project dalam sambutannya menekankan bahwa seluruh unsur tersebut bukan sekadar formalitas administratif, melainkan fondasi utama untuk menjamin proyek berjalan tertib, transparan, dan akuntabel. Sementara itu, pelaksanaan ground breaking ditargetkan berlangsung pada 2 Mei 2026. Kegiatan ground breaking MTC tersebut direncanakan berlokasi di Dhisil, Desa Salamrejo, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta
“Jangan sampai ground breaking dilakukan sebelum seluruh prasyarat utama benar-benar siap. Kita ingin proyek ini kuat sejak perencanaan hingga pelaksanaan,” tegasnya.
Untuk menjaga efektivitas koordinasi, rapat juga menyepakati pola kerja antarpertemuan yang lebih sistematis. Rapat koordinasi akan dilaksanakan setiap dua pekan sekali. Setiap tim diwajibkan mengirimkan laporan progres tertulis paling lambat dua hari sebelum rapat (H-2).
Selain itu, setiap rapat harus menghasilkan berita acara keputusan sebagai bentuk akuntabilitas. Keputusan yang telah disepakati tidak akan dibuka kembali pada rapat berikutnya, kecuali dalam kondisi darurat. Fokus pembahasan juga diarahkan pada pencapaian milestone proyek, bukan pada diskusi teknis lapangan yang bersifat detail operasional.
Dengan penegasan target dan pola kerja yang terstruktur tersebut, tim optimistis pelaksanaan ground breaking pada 2 Mei dapat terlaksana sesuai rencana, dengan kesiapan yang matang dan terukur. Groundbreaking insyaAllah akan dihadiri Ketua umum PP Muhammadiyah, Prof.Dr. Haedar Nashir, M.Si. (Gus Roy)

