Wamen Diktisaintek Jadi Penguji Disertasi Dosen Unismuh di UNM

Publish

28 February 2025

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
73
Istimewa

Istimewa

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah – Dosen Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Arie Martuty, S.Si., M.Pd, resmi menyandang gelar doktor setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam sidang ujian promosi doktor bidang Ilmu Pendidikan pada Program Pascasarjana Unismuh Makassar.

Disertasi Arie Martuty yang berjudul "Pengembangan Model Experiential Learning Berbasis Budaya Lokal untuk Membentuk Karakter Pancasila Anak Usia Dini", dipresentasikan dalam ujian yang berlangsung di Ruang AD Lantai 5 Program Pascasarjana UNM, Kampus Gunungsari Baru, Jumat, 28 Februari 2025.

Arie merupakan doktor ke 1548 di UNM, dan secara khusus merupakan alumni S3 Ilmu Pendidikan ke 300 di UNM. Di FKIP Unismuh, Arie merupakan Doktor ke 120.

Sidang ini dipimpin langsung oleh Rektor UNM, Prof. Dr. Karta Jayadi, M.Sn., yang juga bertindak sebagai ketua sidang. Sejumlah akademisi senior turut hadir sebagai tim penguji, di antaranya Prof. Hamsu Abdul Gani, M.Si., sebagai promotor, serta Prof. Dr. rer. nat. Muharram, M.Si., sebagai kopromotor. 

Tim penguji lainnya meliputi Prof. Dr. Wahira, M.Pd., Prof. Dr. Abdullah Pandang, M.Pd., Prof. Dr. Abdul Saman, M.Si., Kons., Dr. Arifin Manggau, S.Pd., M.Pd., dan Dr. Mustafa, M.Si., sebagai penguji internal.

Ssmentara itu, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd (Wamendiktisaintek) bertindak sebagai penguji eksternal, hadir via zoom. Pada saat yang sama, Fauzan sedang mengikuti acara Kemendiktisaintek di Bali.

Saat menanggapi presentasi Arie, Prof. Fauzan menekankan bahwa gelar doktor bukan sekadar pencapaian akademik, tetapi juga amanah untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan dunia pendidikan.

"Model Experiential Learning berbasis budaya lokal yang dikembangkan dalam penelitian ini memiliki potensi besar dalam memperkuat pendidikan karakter. Pendekatan berbasis pengalaman langsung memungkinkan anak-anak memahami dan menerapkan nilai-nilai luhur bangsa secara lebih mendalam dan bermakna," ujarnya.

Selain itu, ia menanyakan kepada promovendus apakah masih ada aspek yang perlu dikembangkan lebih lanjut dalam model tersebut agar lebih efektif dan aplikatif di berbagai konteks pendidikan.

Ia berharap agar penelitian ini dapat menjadi rujukan dalam pengembangan kebijakan pendidikan, khususnya dalam mengintegrasikan budaya lokal sebagai instrumen pembentukan karakter di jenjang pendidikan anak usia dini.

Dalam disertasinya, Arie Martuty menyoroti tantangan pendidikan karakter di tengah gempuran teknologi dan globalisasi. Ia mengungkapkan bahwa penurunan nilai-nilai luhur bangsa kian terlihat dalam berbagai fenomena sosial, seperti meningkatnya kasus perundungan, kekerasan di lingkungan sekolah, serta kurangnya rasa hormat terhadap guru.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa kenakalan remaja mengalami peningkatan signifikan dari tahun 2018 hingga 2021. Sementara itu, data dari Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebutkan bahwa sekitar dua juta remaja di Indonesia telah terpapar narkoba, dan 41 persen pelajar berusia 15 tahun pernah mengalami perundungan.

Arie Martuty menilai bahwa salah satu faktor yang menyebabkan persoalan ini adalah lemahnya internalisasi nilai budaya lokal dalam sistem pendidikan. Menurutnya, budaya lokal memiliki nilai-nilai yang sejalan dengan karakter Pancasila dan dapat menjadi sarana efektif dalam membentuk karakter anak sejak usia dini.

"Kami menemukan bahwa pendekatan Experiential Learning berbasis budaya lokal dapat memperkuat karakter anak usia dini. Anak-anak lebih mudah memahami dan menerapkan nilai-nilai kebangsaan jika mereka mengalaminya secara langsung dalam kehidupan sehari-hari," ujarnya.

Penelitian ini menggunakan pendekatan Research and Development (R&D) dengan model ADDIE (Analyze, Design, Development, Implementation, Evaluation). Studi ini dilakukan di sejumlah taman kanak-kanak di Makassar, Maros, dan Gowa, dengan melibatkan anak usia 5-6 tahun serta tenaga pendidik.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran karakter berbasis budaya lokal sangat dibutuhkan dalam sistem pendidikan anak usia dini. Model pembelajaran yang dikembangkan dinilai valid dan efektif dalam membentuk karakter Pancasila pada anak-anak. Pendekatan Experiential Learning ini terbukti dapat menumbuhkan sikap gotong royong, akhlak mulia, serta penghargaan terhadap keberagaman budaya di kalangan peserta didik.

Model yang dikembangkan dalam penelitian ini terdiri dari empat tahapan utama, yaitu Aktivitas, Refleksi, Integrasi, dan Eksplorasi (ARIE). Keempat tahapan ini mengutamakan pengalaman langsung dalam pembelajaran sehingga anak dapat lebih memahami nilai-nilai budaya dan Pancasila secara kontekstual.

"Budaya lokal adalah bagian dari identitas bangsa. Dengan menggunakan model pembelajaran ini, kami berharap karakter anak-anak dapat terbentuk secara lebih mendalam dan bermakna," kata Arie Martuty.

Apresiasi dan Harapan 

Setelah melewati sesi tanya jawab dengan para penguji, Arie Martuty dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan. Ketua sidang, Karta Jayadi, menyampaikan ucapan selamat sekaligus harapan agar hasil penelitian ini dapat berkontribusi dalam pengembangan dunia pendidikan, khususnya dalam penguatan pendidikan karakter berbasis budaya lokal.

Setelah itu, Ketua Sidang mempersilahkan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Irwan Akib, menyampaikan testimoni, baik sebagai keluarga, perwakilan Unismuh, dan Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Irwan Akib menyebut, pendidikan karakter berbasis budaya lokal dinilai sebagai solusi strategis dalam menghadapi tantangan globalisasi dan perubahan sosial. 

Dalam kesempatan tersebut, Irwan Akib memberikan apresiasi atas penelitian Arie Martuty yang mengembangkan model experiential learning berbasis budaya lokal untuk membentuk karakter Pancasila pada anak usia dini. Menurutnya, konsep ini sejalan dengan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang menekankan pentingnya nilai-nilai kearifan lokal dalam sistem pendidikan nasional.

"Pendidikan karakter yang berbasis Pancasila sering dibahas, tetapi mengaitkannya dengan budaya lokal melalui experiential learning adalah sesuatu yang baru. Ini merupakan pendekatan yang relevan dan kontekstual dalam menghadapi tantangan zaman," ujarnya.

Lebih lanjut, Irwan Akib menekankan bahwa pendidikan yang tidak berakar pada budaya bangsa tidak akan mampu menyelesaikan persoalan nasionalnya sendiri. Menurutnya, perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi memang membawa manfaat besar, tetapi juga menghadirkan tantangan dalam mempertahankan jati diri bangsa.

"Saya melihat bahwa penelitian ini dapat memberikan kontribusi besar dalam pengembangan pendidikan nasional. Kita tidak ingin generasi muda hanya unggul dalam aspek akademik tetapi kehilangan identitasnya. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang tidak hanya menghasilkan lulusan berprestasi, tetapi juga individu yang memiliki karakter kuat dan berkepribadian Indonesia," katanya.

Acara ini turut dihadiri oleh keluarga besar Arie Martuty, kolega dari Unismuh, serta tamu undangan lainnya. 

Diantara tamu yang hadir, yang nampak paling berbahagia adalah Erwin Akib PhD, suami Arie, sekaligus Dekan FKIP Unismuh. Betapa tidak, pada hari yang sama, ia mengakhiri masa kemimpinan sebagai dekan, sekaligus menggenapkan jumlah dosen FKIP yang telah meraih Doktor menjadi 120 orang.

Dalam kesempatan tersebut, para hadirin memberikan apresiasi atas pencapaian luar biasa yang diraih oleh Arie Martuty. Dengan disertasi ini, diharapkan pendekatan berbasis budaya lokal dapat semakin diperkuat dalam sistem pendidikan nasional. Pendidikan karakter yang berakar pada budaya bangsa diyakini mampu menjadi benteng utama dalam membentuk generasi penerus yang berkepribadian kuat dan berlandaskan nilai-nilai Pancasila.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) menjadi partis....

Suara Muhammadiyah

30 October 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Ikhtiar Menyelamatkan Semesta menjadi tema Milad ke-111 Muhammadiya....

Suara Muhammadiyah

16 November 2023

Berita

PURWOREJO, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Daerah 'Aisyiyah (PDA)  Kabupaten Purworejo menggelar ....

Suara Muhammadiyah

29 June 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Dalam rangka meningkatkan kesadaran akan pentingnya peran uma....

Suara Muhammadiyah

3 February 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Masalah umum yang dihadapi UMKM yaitu lemahnya pemasaran dan ....

Suara Muhammadiyah

4 November 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah