Guru sebagai Role Model di Tahun 2026: Antara Harapan dan Kenyataan
Penulis: Dr. Hasbullah, M.Pd.I, Dosen Universitas Muhammadiyah Pringsewu, Wakil Ketua Majelis Dikdasmen & PNF PWM Lampung
Bayangkan seorang guru di tahun 2026. Ia berdiri di depan kelas, tetapi separuh muridnya mungkin sedang menatap layar. Ia menjelaskan materi, tetapi AI di saku siswa bisa menjawab pertanyaan yang sama dalam hitungan detik. Di tengah dunia yang berubah begitu cepat, satu pertanyaan mendasar muncul: masih relevankah guru sebagai role model? Jawaban saya: justru semakin relevan, tetapi dengan makna yang sama sekali baru.
Dulu, guru adalah satu-satunya sumber pengetahuan. Siswa datang ke kelas karena hanya di sanalah mereka bisa belajar. Hari ini, semua itu telah berubah. Internet, platform pembelajaran, dan kecerdasan buatan telah mendemokratisasi pengetahuan. Seorang anak berusia dua belas tahun bisa mengakses kuliah dari universitas terbaik dunia hanya dengan sekali klik. Lalu, apa yang tersisa dari peran guru? Menurut saya, justru hal yang paling penting: keteladanan. Di saat informasi melimpah dan sering kali menyesatkan, siswa tidak kekurangan data, mereka kekurangan contoh. Mereka butuh sosok yang menunjukkan bagaimana menggunakan pengetahuan dengan bijak, bagaimana berpikir kritis, dan bagaimana bersikap jujur ketika tidak tahu jawabannya.
Ada satu hal yang membuat guru tahun 2026 berbeda dari generasi sebelumnya: jejak digital. Seorang guru tidak lagi hanya dilihat di ruang kelas, tetapi juga di media sosial, di kolom komentar, dan di setiap unggahan yang ia bagikan. Siswa mengamati, meniru, dan menilai. Ini adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, guru memiliki panggung yang lebih luas untuk menginspirasi. Di sisi lain, tidak ada lagi ruang untuk bersembunyi. Guru yang mengajarkan kejujuran tetapi menyebarkan hoaks di grup WhatsApp, atau yang menuntut disiplin tetapi gemar mengeluh di media sosial, akan kehilangan wibawanya dalam sekejap. Menurut saya, integritas kini menjadi mata uang utama seorang guru. Bukan gelar, bukan jabatan, melainkan konsistensi antara ucapan dan tindakan, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.
Ada satu kekhawatiran yang sering muncul: apakah AI akan menggantikan guru? Saya berpendapat tidak, setidaknya tidak sepenuhnya. Mesin bisa mengajarkan rumus, tetapi tidak bisa menghibur siswa yang sedang patah hati. Mesin bisa memberikan jawaban, tetapi tidak bisa menatap mata seorang anak dan berkata, "Kamu pasti bisa." Di tahun 2026, justru keterampilan manusiawi inilah yang semakin berharga. Empati, kesabaran, kemampuan mendengarkan, dan kepekaan terhadap kondisi emosional siswa adalah hal-hal yang tidak bisa direplikasi oleh algoritma. Guru yang menguasai teknologi tetapi tetap memanusiakan manusia akan menjadi sosok yang paling dicari.
Namun, mari kita bicara tentang data dan kenyataan di lapangan. Per 30 Juni 2026, terdapat 2,33 juta ASN guru di Indonesia, dengan 68% di antaranya adalah perempuan dan 55% berasal dari generasi milenial . Angka ini menunjukkan bahwa wajah pendidikan kita didominasi oleh kaum muda yang tumbuh bersama teknologi. Tetapi di balik angka-angka itu, ada kenyataan yang pahit. Masih ada guru yang menerima gaji sekitar Rp125 ribu hingga Rp130 ribu per bulan. Ini bukan angka fiktif. Ini adalah upah yang jauh dari standar kelayakan hidup, dan ironisnya, terjadi di negara yang sedang gencar membangun infrastruktur dan program-program ambisius.
Kemendikdasmen sendiri mengakui bahwa masih terdapat sekitar 800.000 guru aktif yang belum mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG), dengan kesenjangan akses pengembangan profesi antara guru ASN dan non-ASN . Sementara itu, data JPPI menunjukkan terdapat sekitar 2,3 juta guru non-ASN yang mengajar di sekolah dan madrasah . Mereka adalah tulang punggung pendidikan nasional, tetapi hidup dalam ketidakpastian status kerja dan perlindungan yang minim. Bagaimana mungkin kita menuntut mereka menjadi role model yang sempurna, ketika negara sendiri belum hadir untuk memastikan kesejahteraan dan kepastian kerja mereka?
Beban administrasi juga menjadi persoalan serius. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga dibebani berbagai laporan administratif yang menyita waktu dan energi . Penelitian terbaru bahkan menemukan bahwa guru menghabiskan 30–50% jam kerja untuk tugas non-pedagogis, dengan tingkat burnout mencapai 65% . Jika guru kelelahan secara fisik dan mental, kapan mereka punya ruang untuk menjadi teladan? Kapan mereka bisa berinovasi dan menginspirasi?
Di sisi lain, ada juga kejadian di lapangan yang mencerminkan kompleksitas peran guru sebagai role model. Pada September 2026, seorang guru SD viral di media sosial karena berdandan layaknya perempuan saat mengajar. Dinas Pendidikan setempat pun turun tangan dan melakukan pembinaan, termasuk meminta guru tersebut klarifikasi dan meminta maaf secara terbuka. Kejadian ini memicu perdebatan: sejauh mana penampilan guru harus mengikuti norma yang berlaku?
Apakah role model berarti harus tampil "sempurna" menurut standar tertentu, atau justru menghargai keberagaman dan autentisitas? Saya tidak akan menghakimi kasus ini, tetapi kejadian tersebut menunjukkan bahwa menjadi role model di era media sosial berarti setiap tindakan dapat menjadi sorotan publik, dan guru sering kali berada di persimpangan antara kebebasan pribadi dan ekspektasi sosial.
Saya melihat langsung bagaimana tantangan ini berdampak pada guru-guru di lapangan. Banyak dari mereka yang sebenarnya memiliki niat dan kemampuan untuk menjadi teladan, tetapi terhambat oleh berbagai keterbatasan. Di sini saya ingin jujur. Kita sering berbicara tentang guru sebagai "pahlawan tanpa tanda jasa" atau "lilin yang membakar diri untuk menerangi orang lain." Metafora-metafora ini indah, tetapi bisa jadi berbahaya jika membuat kita lupa pada realitas.
Menuntut mereka menjadi role model sempurna tanpa memberikan dukungan yang memadai adalah ketidakadilan. Menurut saya, menjadi role model bukan berarti harus sempurna. Justru sebaliknya: guru yang jujur mengakui kesalahannya dan mau belajar dari muridnya adalah teladan yang jauh lebih kuat daripada guru yang berpura-pura tanpa cela.
Saya meyakini bahwa membangun guru sebagai role model tidak bisa dilakukan secara individual. Diperlukan ekosistem yang mendukung, mulai dari kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan guru, pelatihan yang berkelanjutan, hingga budaya organisasi yang menempatkan keteladanan sebagai prioritas. Majelis atau lembaga yang menaungi pendidikan pada organisasi keagamaan dan kemasyarakatan memiliki peran strategis untuk memfasilitasi hal ini, bukan hanya melalui program-program formal, tetapi juga melalui pembinaan yang menyentuh aspek spiritual, intelektual, dan sosial guru. Guru yang dibina dengan baik akan lebih mampu membina muridnya dengan baik pula. Inilah rantai keteladanan yang harus kita jaga bersama.
Jadi, seperti apa guru sebagai role model di tahun 2026? Ia adalah sosok yang hadir sepenuhnya, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional. Ia adalah pembelajar yang tidak pernah berhenti, yang tidak malu mengakui bahwa ia pun masih belajar. Ia adalah pengguna teknologi yang bijak, yang menunjukkan bahwa manusia tetap memegang kendali atas mesin. Dan yang terpenting, ia adalah manusia yang baik, karena pada akhirnya, itulah pelajaran yang paling berkesan bagi seorang siswa. Guru di tahun 2026 tidak perlu menjadi sempurna. Ia hanya perlu menjadi nyata. Dan tugas kita bersama, terutama bagi mereka yang duduk di kursi kebijakan pendidikan, adalah memastikan bahwa guru memiliki ruang, dukungan, dan penghargaan untuk menjadi nyata.

