Haedar Nashir Dikukuhkan Sebagai Anggota Kehormatan Ikatan Sosiologi Indonesia

Publish

24 April 2024

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
1589
Haedar Nashir menerima tanda Anggota Kehormatan Ikatan Sosiologi Indonesia (23/4).

Haedar Nashir menerima tanda Anggota Kehormatan Ikatan Sosiologi Indonesia (23/4).

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir dikukuhkan sebagai Anggota Kehormatan Ikatan Sosiologi Indonesia, Selasa, 23 April 2024. Tanda sebagai anggota kehormatan diserahkan secara langsung oleh Arie Sudjito, Wakil Rektor IV UGM sekaligus Ketua Ikatan Sosiologi Indonesia. Pengukuhan tersebut bertepatan dengan agenda bedah buku “Jalan Baru Moderasi Beragama: Mensyukuri 66 Tahun Haedar Nashir” yang ditulis oleh beberapa tokoh dan aktivis Tanah Air. Buku tersebut mengulik secara mendalam jalan pikiran sang tokoh terkait keberagamaan, kebangsaan, hingga keindonesiaan secara komprehensif. 

Adapun beberapa narasumber yang turut hadir membedah jalan pikiran Ketua Umum PP Muhammadiyah tersebut diantaranya Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Prof Dr Siti Ruhaini Dzuhayatin, Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta Prof Dr Sugeng Bayu Wahyono, Dosen Senior FISIPOL UGM Dr Muhammad Najib Azca, dan Dekan Fakultas Teologi UKSW Pdt. Izak Lattu Ph.D. 

Berlangsung di Auditorium lantai 4 FISIPOL UGM, Sugeng dalam paparannya menyebut sosok Haedar Nashir berpotensial menjadi Guru Bangsa. Namun sebelum sampai di situ, ia memberikan beberapa catatan. Terkait seberapa jauh resonansi pemikiran tentang moderasi yang digagas oleh Guru Besar Sosiologi UMY tersebut dapat diterima oleh kalangan bawah, atau hanya dinikmati oleh kalangan elit di Muhammadiyah. Hal ini tentu masih menjadi misteri dan tugas rumah yang tidak mudah bagi Muhammadiyah. Mengingat warga Persyarikatan sangat hitrogen. 

“Kita pernah berharap Presiden Pertama RI Soekarno dapat menjadi beyond, namun hal itu kandas karena di akhir pemerintahannya ia mencoba melanggengkan kekuasaan. Kita pernah berharap Soeharto bisa menjadi sosok beyond, namun hal itu tidak terjadi karena ia membuat tafsir tunggal tentang Indonesia. Kita pernah berharap kepada Megawati agar bisa menjadi beyond, namun hal itu sulit terjadi karena dia memiliki partai. Kita juga berharap Gus Dur bisa menjadi beyond, tapi sayangnya ia jadi presiden. Kita pun juga berharap SBY bisa menjadi beyond, tapi itu sulit karena ia memiliki partai. Kemudian kita berharap Jokowi supaya bisa menjadi beyond, tapi sayangnya ia punya keluarga,” ucap Sugeng yang sambut tawa dan tepuk tangan para hadirin. Dan yang tersisa kini hanya sosok Haedar Nashir. 

“Kita masih memiliki harapan ke depan, Pak Haedar dapat menjadi beyond,” tutupnya. (diko)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Matematika paling sulit bukanlah kalkulus atau aljabar, melainkan bag....

Suara Muhammadiyah

19 September 2025

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) menyerahkan bantuan kemasla....

Suara Muhammadiyah

10 January 2025

Berita

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah - Hari kedua pelaksanaan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Ba....

Suara Muhammadiyah

16 September 2025

Berita

KULON PROGO, Suara Muhammadiyah — Dalam rangka Program CSR InJourney Airports Safari Ramadhan ....

Suara Muhammadiyah

9 March 2026

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Program Studi S2 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Pascasarjana ....

Suara Muhammadiyah

1 September 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah