Haedar Nashir Dikukuhkan Sebagai Anggota Kehormatan Ikatan Sosiologi Indonesia

Publish

24 April 2024

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
1375
Haedar Nashir menerima tanda Anggota Kehormatan Ikatan Sosiologi Indonesia (23/4).

Haedar Nashir menerima tanda Anggota Kehormatan Ikatan Sosiologi Indonesia (23/4).

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir dikukuhkan sebagai Anggota Kehormatan Ikatan Sosiologi Indonesia, Selasa, 23 April 2024. Tanda sebagai anggota kehormatan diserahkan secara langsung oleh Arie Sudjito, Wakil Rektor IV UGM sekaligus Ketua Ikatan Sosiologi Indonesia. Pengukuhan tersebut bertepatan dengan agenda bedah buku “Jalan Baru Moderasi Beragama: Mensyukuri 66 Tahun Haedar Nashir” yang ditulis oleh beberapa tokoh dan aktivis Tanah Air. Buku tersebut mengulik secara mendalam jalan pikiran sang tokoh terkait keberagamaan, kebangsaan, hingga keindonesiaan secara komprehensif. 

Adapun beberapa narasumber yang turut hadir membedah jalan pikiran Ketua Umum PP Muhammadiyah tersebut diantaranya Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Prof Dr Siti Ruhaini Dzuhayatin, Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta Prof Dr Sugeng Bayu Wahyono, Dosen Senior FISIPOL UGM Dr Muhammad Najib Azca, dan Dekan Fakultas Teologi UKSW Pdt. Izak Lattu Ph.D. 

Berlangsung di Auditorium lantai 4 FISIPOL UGM, Sugeng dalam paparannya menyebut sosok Haedar Nashir berpotensial menjadi Guru Bangsa. Namun sebelum sampai di situ, ia memberikan beberapa catatan. Terkait seberapa jauh resonansi pemikiran tentang moderasi yang digagas oleh Guru Besar Sosiologi UMY tersebut dapat diterima oleh kalangan bawah, atau hanya dinikmati oleh kalangan elit di Muhammadiyah. Hal ini tentu masih menjadi misteri dan tugas rumah yang tidak mudah bagi Muhammadiyah. Mengingat warga Persyarikatan sangat hitrogen. 

“Kita pernah berharap Presiden Pertama RI Soekarno dapat menjadi beyond, namun hal itu kandas karena di akhir pemerintahannya ia mencoba melanggengkan kekuasaan. Kita pernah berharap Soeharto bisa menjadi sosok beyond, namun hal itu tidak terjadi karena ia membuat tafsir tunggal tentang Indonesia. Kita pernah berharap kepada Megawati agar bisa menjadi beyond, namun hal itu sulit terjadi karena dia memiliki partai. Kita juga berharap Gus Dur bisa menjadi beyond, tapi sayangnya ia jadi presiden. Kita pun juga berharap SBY bisa menjadi beyond, tapi itu sulit karena ia memiliki partai. Kemudian kita berharap Jokowi supaya bisa menjadi beyond, tapi sayangnya ia punya keluarga,” ucap Sugeng yang sambut tawa dan tepuk tangan para hadirin. Dan yang tersisa kini hanya sosok Haedar Nashir. 

“Kita masih memiliki harapan ke depan, Pak Haedar dapat menjadi beyond,” tutupnya. (diko)


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah - Di hari yang cerah, Kamis, 2 Mei 2024, SMP Muhammadiyah Program Khus....

Suara Muhammadiyah

2 May 2024

Berita

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) menyambut kunjungan Silat....

Suara Muhammadiyah

23 December 2024

Berita

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memiliki berbagai jenis pro....

Suara Muhammadiyah

24 June 2024

Berita

SURABAYA, Suara Muhammadiyah – Masjid Gunungsari Indah kembali menyelenggarakan acara rutin ta....

Suara Muhammadiyah

19 June 2024

Berita

KOTIM, Suara Muhammadiyah - Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah Kotawaringin Timur (....

Suara Muhammadiyah

15 November 2024