Haedar Nashir Paparkan Kunci Membangun Peradaban

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
74

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah hadir untuk membangun peradaban. Demikian Haedar Nashir mengemukakan.

“Misi dakwah dan tajdid ingin membentuk masyarakat dalam sepanjang ajaran Islam,” tuturnya.

Dalam perkembangannya, frasa di atas diperluas lagi spektrumnya. Sehingga, pada tahun 1946, frasa tersebut berubah menjadi “Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”, sebagaimana termaktub di Anggaran Dasar Muhammadiyah.

“Membangun masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, itu sebenarnya membangun peradaban,” tegas Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut.

Menurut Haedar, peradaban merupakan kebudayaan yang paling tertinggi. Dan hal itu telah melekat dalam kehidupan umat manusia.

“Kebudayaan itu sistem pengetahuan yang kita miliki bersama yang membentuk kebiasaan, membentuk ekosistem relasi kita, dan membentuk tindakan-tindakan bersama kita,” jelas Haedar, Selasa (19/5) saat Resepsi Milad ke-109 ‘Aisyiyah di Covention Hall Walidah Dahlan Universitas 'Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta.

Ketika hendak membangun peradaban, Haedar menyebut perlu disokong dengan membangun kebudayaan terlebih dahulu.

Terkait hal itu, ada 7 kunci dalam membangun peradaban yang dipaparkan Haedar. Pertama, bangun bahasa. Kedua, perlu bangun kesenian.

“Bahasa dan kesenian yang membangun kemajuan,” tekan Haedar.

Ketiga, bangun sistem dan organisasi kemasyarakatan. Keempat, bangun sistem pengetahuan.

“Apakah sistem pengetahuan dan pendidikan maju atau tidak,” tanya Haedar.

Kelima, bangun sistem peralatan dan teknologi. Pertanyaan yang segera muncul di permukaan: apakah telah menguasainya? “Kayaknya kita belum sampai ke situ ya?” celetuk Haedar.

Keenam, bangun sistem mata pencaharian dan ekonomi. Diakui Haedar, banyak rintangan untuk bergerak di bisnis strategis. Dan, yang ketujuh, bangun sistem religi (keagamaan).

Menukil pandangan Ahmad Dahlan, Agama pada mulanya bercahaya, berkilau-kilauan, akan tetapi makin lama makin suram. Namun yang suram bukanlah agamanya, melainkan umat manusianya karena pemahaman dan pelaksanaannya yang semakin jauh dari nilai-nilai hakiki."

“Dari situlah perlu tanwir (pencerahan) supaya bercahaya kembali, berkilau-kilau kembali,” tegas Haedar sekali lagi. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah — Ruang digital tak lagi dianggap sekadar etalase informasi. Bagi....

Suara Muhammadiyah

1 May 2026

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Suasana yang sakral dan semangat regenerasi terasa kuat di Am....

Suara Muhammadiyah

3 February 2026

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Suara Muhammadiyah akan memasuki usia ke-109 tepatnya pada Se....

Suara Muhammadiyah

8 August 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Jumat, 4 Oktober 2024 menjadi sejarah baru bagi SMP Muhammadiy....

Suara Muhammadiyah

4 October 2024

Berita

PADANG, Suara Muhammadiyah — Menjelang peringatan satu abad lebih kiprahnya, Pimpinan Wilayah ....

Suara Muhammadiyah

30 June 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah