Hari Anak Nasional: Mendidik Generasi Alpha dengan Parenting Profetik

Suara Muhammadiyah

24 July 2026

153
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Hari Anak Nasional: Mendidik Generasi Alpha dengan Parenting Profetik

Oleh: Nur Ngazizah,S.Si.M.Pd., Dosen PGSD UMPwr, Mahasiswa Doktoral UAD

"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Maka hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." (QS. An-Nisa [4]: 9)

Hari Anak Nasional bukan sekadar peringatan seremonial tentang pentingnya hak-hak anak. Lebih dari itu, momentum ini mengingatkan setiap orang tua bahwa anak adalah amanah sekaligus investasi peradaban. Masa depan bangsa tidak dibangun ketika anak telah dewasa, tetapi dimulai sejak mereka berada di pangkuan keluarga.

Al-Qur'an memberikan peringatan yang sangat mendalam melalui QS. An-Nisa ayat 9. Allah mengingatkan agar orang tua tidak meninggalkan generasi yang lemah. Lemah yang dimaksud bukan hanya lemah fisik atau ekonomi, melainkan juga lemah iman, karakter, ilmu, akhlak, daya juang, dan kemampuan menghadapi perubahan zaman.

Peringatan tersebut menjadi semakin relevan ketika kita mendidik Generasi Alpha, yaitu anak-anak yang lahir sejak sekitar tahun 2010. Mereka merupakan generasi pertama yang sejak lahir telah hidup berdampingan dengan internet, kecerdasan buatan, media sosial, dan perangkat digital. Teknologi menjadi bagian dari keseharian mereka, bahkan sebelum mereka mampu membaca dan menulis.

Generasi Alpha tumbuh dengan karakteristik yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka belajar secara visual dan interaktif, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, cepat beradaptasi dengan teknologi, serta terbiasa memperoleh informasi secara instan. Namun di balik berbagai kelebihan tersebut, tersimpan tantangan yang tidak ringan. Paparan gawai yang berlebihan dapat mengurangi kemampuan fokus, membatasi interaksi sosial secara langsung, meningkatkan ketergantungan terhadap dunia digital, bahkan mengikis kepekaan spiritual apabila tidak diimbangi dengan pendidikan karakter yang kuat.

Karena itu, tantangan terbesar orang tua masa kini bukanlah melarang teknologi, melainkan membimbing anak agar mampu memanfaatkan teknologi secara bijaksana. Anak-anak tidak cukup dibekali kecerdasan digital, tetapi juga harus memiliki kompas moral yang akan mengarahkan setiap keputusan hidupnya.

Inilah pentingnya parenting profetik, yaitu pola pengasuhan yang meneladani metode pendidikan para nabi, terutama Rasulullah Muhammad ﷺ. Parenting profetik tidak hanya berorientasi pada keberhasilan akademik, tetapi membangun manusia yang utuh: cerdas akalnya, lembut hatinya, kuat imannya, dan mulia akhlaknya.

Al-Qur'an kembali menegaskan tanggung jawab tersebut melalui firman Allah:

"Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...." (QS. At-Tahrim [66]: 6).

Ayat ini menunjukkan bahwa pendidikan bukan sekadar memenuhi kebutuhan duniawi anak, melainkan menjaga keselamatan mereka hingga kehidupan akhirat. Orang tua bukan hanya bertugas menyediakan makanan, pakaian, atau pendidikan formal, tetapi juga menjadi pembimbing ruhani yang mengantarkan anak mengenal Allah, mencintai Rasul-Nya, dan menjadikan Islam sebagai pedoman hidup.

Lalu bagaimana menerapkan parenting profetik kepada Generasi Alpha?

Pertama, menjadi teladan sebelum menjadi penasihat. Anak-anak belajar lebih banyak melalui apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar. Mereka meniru cara orang tua berbicara, menggunakan gawai, menyelesaikan masalah, hingga memperlakukan orang lain. Keteladanan merupakan kurikulum pertama dalam keluarga. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa siapa yang memberi contoh kebaikan akan memperoleh pahala dari setiap orang yang mengikutinya. Sebaliknya, contoh yang buruk akan menjadi dosa yang terus mengalir. Oleh karena itu, rumah harus menjadi ruang pertama tempat anak menyaksikan kejujuran, kesabaran, kedisiplinan, serta kasih sayang.

Kedua, membangun komunikasi yang hangat dan penuh penghargaan. Generasi Alpha membutuhkan dialog, bukan sekadar instruksi. Mereka ingin didengar, dihargai, dan diajak berdiskusi. Orang tua hendaknya menyediakan waktu berkualitas setiap hari, mendengarkan cerita anak tanpa menghakimi, serta memberikan arahan dengan kelembutan. Komunikasi yang baik akan membangun kelekatan emosional sehingga anak tidak mencari pelarian di dunia digital.

Ketiga, mengelola penggunaan teknologi dengan bijaksana. Gawai bukan musuh, tetapi alat yang harus dikendalikan. Orang tua perlu membuat kesepakatan penggunaan perangkat digital, memilih konten yang mendidik, mendampingi anak ketika mengakses internet, dan menghadirkan lebih banyak aktivitas keluarga seperti membaca Al-Qur'an bersama, berdiskusi, berolahraga, berkebun, atau melakukan kegiatan sosial. Dengan demikian, teknologi menjadi sarana belajar, bukan penguasa kehidupan.

Keempat, menumbuhkan fitrah keimanan sejak dini. Anak perlu dibiasakan mencintai Allah melalui pengalaman yang menyenangkan. Mengenalkan doa-doa harian, kisah para nabi, keindahan ciptaan Allah, shalat berjamaah, sedekah, serta rasa syukur dalam kehidupan sehari-hari akan membangun fondasi spiritual yang kokoh. Pendidikan agama tidak cukup diajarkan sebagai hafalan, tetapi dihidupkan melalui kebiasaan dan pengalaman nyata.

Kelima, melatih tanggung jawab dan kemandirian. Meskipun teknologi semakin canggih, anak tidak boleh tumbuh menjadi pribadi yang serba bergantung. Berikan kesempatan kepada mereka mengambil keputusan sederhana, menyelesaikan tugas rumah, mengatur waktu belajar, serta bertanggung jawab atas pilihannya. Pendidikan karakter lahir dari pengalaman, bukan sekadar nasihat.

Keenam, menumbuhkan empati dan kepedulian sosial. Salah satu risiko era digital adalah menurunnya interaksi antarmanusia. Karena itu, anak perlu diajak mengunjungi kerabat, membantu tetangga, berbagi kepada yang membutuhkan, mengikuti kegiatan masjid, serta berpartisipasi dalam aktivitas sosial. Pengalaman-pengalaman tersebut akan membentuk kepekaan hati yang tidak dapat digantikan oleh kecanggihan teknologi.

Dalam perspektif Islam, keberhasilan pendidikan bukan hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi dari lahirnya generasi yang saleh, berilmu, berakhlak, dan memberi manfaat bagi sesama. Ibnu Qayyim al-Jauziyah pernah mengingatkan bahwa kerusakan pada anak sering kali berawal dari kelalaian orang tua dalam mendidiknya. Sebaliknya, sejarah juga mencatat bagaimana keteladanan orang tua melahirkan tokoh-tokoh besar. Sayyid Qutb pernah mengenang bahwa ayahnya tidak banyak memarahinya, tetapi kehidupan sang ayah menjadi teladan yang menanamkan ketakwaan dan kesadaran akan kehidupan akhirat.

Momentum Hari Anak Nasional hendaknya menjadi saat yang tepat bagi setiap keluarga untuk melakukan muhasabah. Sudahkah rumah kita menjadi sekolah pertama yang menghadirkan cinta, keteladanan, dan nilai-nilai Islam? Sudahkah anak-anak lebih banyak melihat orang tuanya membaca Al-Qur'an daripada bermain telepon genggam? Sudahkah mereka menyaksikan kasih sayang, kejujuran, dan penghormatan kepada sesama dalam kehidupan sehari-hari?

Anak-anak hari ini adalah pemimpin masa depan. Apa yang mereka lihat, dengar, dan rasakan di rumah akan menjadi fondasi karakter yang mereka bawa hingga dewasa. Karena itu, investasi terbesar bukanlah harta yang diwariskan, melainkan nilai-nilai yang ditanamkan sejak dini.

Allah Swt. memberikan teladan kepemimpinan yang sangat relevan bagi para orang tua melalui firman-Nya:

"Maka disebabkan rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut kepada mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkan ampunan untuk mereka, bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal." (QS. Ali Imran [3]: 159).

Ayat ini mengajarkan bahwa pendidikan yang efektif dibangun melalui kelembutan, kasih sayang, dialog, pemaafan, musyawarah, dan keteladanan. Nilai-nilai inilah yang menjadi ruh parenting profetik. Ketika orang tua mendidik dengan cinta yang berlandaskan iman, mereka tidak hanya membesarkan anak-anak yang cerdas, tetapi juga sedang menyiapkan generasi yang kuat, berkarakter, dan menjadi rahmat bagi bangsa serta peradaban.

Selamat Hari Anak Nasional. Mari meneguhkan keluarga sebagai madrasah pertama dan mencerahkan masa depan Indonesia melalui lahirnya Generasi Alpha yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, dan siap menjadi khalifah yang memakmurkan bumi.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Doa yang Tertunda, Jawaban yang Sempurna Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universita....

Suara Muhammadiyah

10 November 2025

Wawasan

Salat Jum'at di Masjid Huaisheng Oleh: Khafid Sirotudin Di tengah kompleks makam sahabat Nabi saw....

Suara Muhammadiyah

1 January 2026

Wawasan

Mudik Usai, Langkah Baru Dimulai Oleh: Nashrul Mu'minin  Lebaran selalu punya dua wajah: haru....

Suara Muhammadiyah

30 March 2026

Wawasan

Muhasabah sebagai Tajdid dari Diri Oleh: Dr. Jaharuddin, Dosen FEB Universitas Muhammadiyah Jakarta....

Suara Muhammadiyah

19 June 2026

Wawasan

Pancasila: Dari Rekat Bangsa Menuju Damai Dunia Penulis: Amalia Irfani, LPPA PWA Kalbar/Dosen IAIN ....

Suara Muhammadiyah

1 June 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah