Hasanah Fiddunya Wal Akhirah, Jalan Menuju Assaa'adah

Suara Muhammadiyah

21 September 2026

51
Prof Dr Muhammad Sirajuddin Syamsuddin, MA

Prof Dr Muhammad Sirajuddin Syamsuddin, MA

MADIUN, Suara Muhammadiyah – Kebahagiaan hidup menjadi dambaan bagi umat manusia, lebih-lebih umat beriman. “Ini menjadi cita-cita kaum beriman dan terutama yang siap untuk menjemput maut,” kata M Din Syamsuddin.

Ditilik dari segi bahasanya, Din mendedah, kata kebahagiaan berasal dari kata bahagia yang dalam Islam disebut assa’adah. Sementara, orang yang berbahagia disebut sa’id (laki-laki) dan sa’idah (perempuan).

“Ada juga kata dalam bahasa Arab al-fauzu, itu juga mengandung arti bahagia,” tutur Din. Juga al-falah, maknanya juga kebahagiaan. “Mari kepada kebahagiaan, kepada kemenangan,” tambah Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2005-2015 tersebut.

Kebahagiaan hidup mesti dijadikan sebagai tujuan hidup. Yang dalam Al-Qur’an populer disebut dengan hasanah (Qs al-Baqarah ayat 201 - doa sapu jagat).

“Ada yang berpendapat hasanah ini menjadi tujuan hidup,” ujar Din, Ahad (20/9) saat Kajian Ahad Pagi di Halaman Islamic Centre Madiun, Sumtaera, Madiun Lor, Maguharjo, Kota Madiun, Jawa Timur.

Kata hasanah itu disebutnya sebagai jalan perbuatan kebaikan. Berbuat kebaikan pada ujungnya dapat terwujudnya kebahagiaan (assa’adah).

“Jadi hasanah sebagai sebab, sa’adah sebagai hasil atau akibatnya,” kata Din.

Tersebut pula di Qs al-Baqarah ayat 97, bahwa orang yang mengerjakan alam saleh dalam keadaan beriman, maka Allah beri hidup yang lebih baik (hayatan thayibah).

“Ada hasanah, ada sa’adah, ada thayibah,” ucapnya. Menggarisbawahi lebih lanjut di antara 3 variabel kata di situ hasanah, “menjadi cita-cita kita,” bebernya.

Lebih spesifik, untuk mewujudkan hasanah di situ pokok pangkalnya berimplikasi pada doa; "Allahumma inna nas-aluka salamatan fiddin wa afiyatan fil-jasadi wa ziyadatan fil-ilmi wa barakatan firrizqi, wa taubatan qablal-maut, wa rahmatan indal-maut, wa maghfiratan ba’dal-maut. Hawwin alaina fi sakaratil-maut, wannajata minannaari, wal-afwa indal-hisab."

Makna hasanah dari doa terbentang di situ dibagi menjadi dua klasifikasi, pertama, hasanah fiddunya (bahagia di dunia) yang manifestasinya yaitu keselamatan agama, kesehatan badan, tambahnya pengetahuan, berkahnya rezeki. “Itulah yang membawa kita kepada hasanah fiddunya,” jelasnya.

Sementara, yang kedua, manifestasi dari hasanah fil akhirah (kebaikan di akhirat) berupa penerimaan taubat sebelum mati, mendapatkan rahmat ketika mati, dan mendapatkan ampunan sesudah mati.

“Ini dalam rangka mencapai hasanah. Dengan hasanah fiddunya wal akhirah, kita akan mencapai assa’adah (kebahagiaan) atau saadatuddarain (kebahagiaan di dua dunia; sekarang dan di akhirat). Ini harus kita cita-citakan,” tegas Din. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

SURABAYA, Suara Muhammadiyah - Upaya meningkatkan literasi numerasi sekaligus kesadaran kesehatan si....

Suara Muhammadiyah

4 September 2026

Berita

KUTACENE, Suara Muhammadiyah — SD Muhammadiyah Kutacane secara resmi melepas dua orang guru un....

Suara Muhammadiyah

1 August 2026

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah — Program Studi Akuntansi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung su....

Suara Muhammadiyah

22 July 2024

Berita

Duta Besar Republik Yaman untuk Indonesia, H.E. Mr. Salem Ahmed Abdulrahman Balfakeeh (tengah) berfo....

Suara Muhammadiyah

26 June 2026

Berita

KEBUMEN, Suara Muhammadiyah - Dalam rangka meningkatkan pemahaman keislaman dan kemuhammadiyan civit....

Suara Muhammadiyah

16 December 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah