MADIUN, Suara Muhammadiyah – Kebahagiaan hidup menjadi dambaan bagi umat manusia, lebih-lebih umat beriman. “Ini menjadi cita-cita kaum beriman dan terutama yang siap untuk menjemput maut,” kata M Din Syamsuddin.
Ditilik dari segi bahasanya, Din mendedah, kata kebahagiaan berasal dari kata bahagia yang dalam Islam disebut assa’adah. Sementara, orang yang berbahagia disebut sa’id (laki-laki) dan sa’idah (perempuan).
“Ada juga kata dalam bahasa Arab al-fauzu, itu juga mengandung arti bahagia,” tutur Din. Juga al-falah, maknanya juga kebahagiaan. “Mari kepada kebahagiaan, kepada kemenangan,” tambah Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2005-2015 tersebut.
Kebahagiaan hidup mesti dijadikan sebagai tujuan hidup. Yang dalam Al-Qur’an populer disebut dengan hasanah (Qs al-Baqarah ayat 201 - doa sapu jagat).
“Ada yang berpendapat hasanah ini menjadi tujuan hidup,” ujar Din, Ahad (20/9) saat Kajian Ahad Pagi di Halaman Islamic Centre Madiun, Sumtaera, Madiun Lor, Maguharjo, Kota Madiun, Jawa Timur.
Kata hasanah itu disebutnya sebagai jalan perbuatan kebaikan. Berbuat kebaikan pada ujungnya dapat terwujudnya kebahagiaan (assa’adah).
“Jadi hasanah sebagai sebab, sa’adah sebagai hasil atau akibatnya,” kata Din.
Tersebut pula di Qs al-Baqarah ayat 97, bahwa orang yang mengerjakan alam saleh dalam keadaan beriman, maka Allah beri hidup yang lebih baik (hayatan thayibah).
“Ada hasanah, ada sa’adah, ada thayibah,” ucapnya. Menggarisbawahi lebih lanjut di antara 3 variabel kata di situ hasanah, “menjadi cita-cita kita,” bebernya.
Lebih spesifik, untuk mewujudkan hasanah di situ pokok pangkalnya berimplikasi pada doa; "Allahumma inna nas-aluka salamatan fiddin wa afiyatan fil-jasadi wa ziyadatan fil-ilmi wa barakatan firrizqi, wa taubatan qablal-maut, wa rahmatan indal-maut, wa maghfiratan ba’dal-maut. Hawwin alaina fi sakaratil-maut, wannajata minannaari, wal-afwa indal-hisab."
Makna hasanah dari doa terbentang di situ dibagi menjadi dua klasifikasi, pertama, hasanah fiddunya (bahagia di dunia) yang manifestasinya yaitu keselamatan agama, kesehatan badan, tambahnya pengetahuan, berkahnya rezeki. “Itulah yang membawa kita kepada hasanah fiddunya,” jelasnya.
Sementara, yang kedua, manifestasi dari hasanah fil akhirah (kebaikan di akhirat) berupa penerimaan taubat sebelum mati, mendapatkan rahmat ketika mati, dan mendapatkan ampunan sesudah mati.
“Ini dalam rangka mencapai hasanah. Dengan hasanah fiddunya wal akhirah, kita akan mencapai assa’adah (kebahagiaan) atau saadatuddarain (kebahagiaan di dua dunia; sekarang dan di akhirat). Ini harus kita cita-citakan,” tegas Din. (Cris)

