Hijrah Berkemajuan: Meneguhkan Misi Dakwah Muhammadiyah di Abad Kedua

Publish

16 June 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
115
Dok Istimewa

Dok Istimewa

Hijrah Berkemajuan: Meneguhkan Misi Dakwah Muhammadiyah di Abad Kedua

Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif, Ketua PDM Jakarta Timur

Setiap datangnya Tahun Baru Islam, umat Islam diajak untuk kembali merenungkan makna hijrah. Peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan sebuah transformasi peradaban. Hijrah adalah momentum perubahan, pembaruan, dan pembangunan masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai tauhid, keadilan, persaudaraan, serta kemajuan.

Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi umat Islam dewasa ini, makna hijrah menjadi semakin relevan. Dunia sedang mengalami perubahan yang sangat cepat. Kemajuan teknologi digital, kecerdasan buatan, perubahan struktur ekonomi global, krisis lingkungan, disrupsi sosial, hingga pergeseran nilai-nilai budaya menghadirkan tantangan yang tidak ringan bagi umat Islam. Dalam konteks Indonesia, tantangan tersebut hadir bersamaan dengan persoalan kemiskinan, ketimpangan sosial, korupsi, krisis moral, serta melemahnya kohesi sosial akibat polarisasi politik dan keagamaan.

Dalam situasi seperti ini, hijrah tidak cukup dimaknai sebagai ritual simbolik yang diperingati setiap pergantian tahun Hijriah. Hijrah harus diterjemahkan sebagai gerakan perubahan yang nyata. Hijrah menjadi panggilan untuk bergerak dari keterbelakangan menuju kemajuan, dari kemiskinan menuju kesejahteraan, dari kebodohan menuju pencerahan, serta dari sikap pasif menuju tindakan yang produktif dan transformatif.

Bagi Muhammadiyah, makna hijrah memiliki posisi yang sangat strategis. Sejak berdiri pada tahun 1912, Muhammadiyah sesungguhnya merupakan gerakan hijrah yang berkelanjutan. Kehadirannya merupakan upaya untuk membawa umat Islam keluar dari berbagai bentuk keterbelakangan menuju kehidupan yang lebih maju, berilmu, dan berkemajuan. Karena itu, memasuki abad kedua perjalanan Muhammadiyah, semangat hijrah perlu terus diteguhkan sebagai fondasi dalam menjalankan misi dakwah Islam yang mencerahkan.

Jika menelusuri sejarah Muhammadiyah, akan terlihat bahwa organisasi ini lahir dalam suasana perubahan sosial yang besar. Pada awal abad ke-20, umat Islam di Nusantara menghadapi berbagai persoalan serius. Tingkat pendidikan masih rendah, kemiskinan meluas, praktik keagamaan bercampur dengan takhayul dan khurafat, sementara kolonialisme menempatkan masyarakat pribumi dalam posisi yang terbelakang.

Dalam situasi tersebut, Ahmad Dahlan menghadirkan gagasan pembaruan Islam yang revolusioner. Beliau mengajak umat Islam untuk kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah sekaligus membuka diri terhadap ilmu pengetahuan modern. Dakwah tidak hanya dilakukan melalui mimbar dan pengajian, tetapi juga diwujudkan dalam bentuk sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan berbagai amal usaha lainnya.

Apa yang dilakukan Ahmad Dahlan sesungguhnya merupakan bentuk hijrah sosial yang sangat progresif. Beliau menggeser orientasi keberagamaan dari sekadar ritual menuju aksi nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat. Agama tidak berhenti pada aspek simbolik, tetapi menjadi kekuatan yang mendorong perubahan sosial.

Muhammadiyah kemudian berkembang menjadi salah satu organisasi Islam terbesar di dunia dengan ribuan sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, lembaga sosial, serta berbagai program pemberdayaan masyarakat. Seluruh capaian tersebut merupakan manifestasi nyata dari semangat hijrah yang terus bergerak melintasi zaman.

Namun, sejarah tidak boleh hanya menjadi kebanggaan masa lalu. Justru keberhasilan masa lalu harus menjadi inspirasi untuk menghadapi tantangan masa depan. Muhammadiyah perlu terus melakukan hijrah dalam bentuk pembaruan pemikiran, penguatan gerakan, serta pengembangan dakwah yang relevan dengan kebutuhan masyarakat kontemporer.

Muhammadiyah memperkenalkan konsep Islam Berkemajuan sebagai identitas gerakan dakwahnya. Islam Berkemajuan bukan sekadar slogan, melainkan paradigma yang menempatkan Islam sebagai agama yang mendorong kemajuan peradaban manusia.

Dalam perspektif Islam Berkemajuan, hijrah tidak dimaknai sebagai pelarian dari realitas, melainkan keterlibatan aktif dalam memperbaiki realitas. Hijrah adalah transformasi yang menghasilkan kemajuan. Oleh karena itu, istilah "Hijrah Berkemajuan" menjadi sangat relevan untuk menggambarkan orientasi dakwah Muhammadiyah di abad kedua.

Hijrah Berkemajuan mengandung beberapa dimensi penting. Pertama, hijrah spiritual. Perubahan sosial yang berkelanjutan harus berakar pada penguatan spiritualitas. Kemajuan tanpa fondasi moral akan melahirkan berbagai penyimpangan. Karena itu, hijrah harus dimulai dari pembaruan hubungan manusia dengan Allah SWT melalui penguatan tauhid, ibadah, dan akhlak.

Kedua, hijrah intelektual. Umat Islam dituntut untuk terus meningkatkan kualitas ilmu pengetahuan. Perintah pertama dalam Islam adalah membaca. Hal ini menunjukkan bahwa kemajuan umat sangat bergantung pada kemampuan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Muhammadiyah perlu terus memperkuat tradisi keilmuan agar mampu menjawab berbagai persoalan zaman.

Ketiga, hijrah sosial. Dakwah tidak boleh berhenti pada tataran individu. Dakwah harus mampu menghadirkan perubahan sosial yang nyata. Persoalan kemiskinan, ketimpangan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan lingkungan harus menjadi bagian integral dari agenda dakwah Muhammadiyah.

Keempat, hijrah peradaban. Muhammadiyah tidak hanya bertugas memperbaiki kondisi umat Islam, tetapi juga berkontribusi dalam membangun peradaban dunia yang lebih adil, damai, dan berkeadaban.

Memasuki abad kedua, Muhammadiyah menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan masa awal berdirinya. Salah satu tantangan terbesar adalah disrupsi digital. Kehadiran media sosial telah mengubah pola komunikasi masyarakat secara drastis. Informasi bergerak sangat cepat tanpa batas ruang dan waktu. 

Di satu sisi, kondisi ini membuka peluang besar bagi dakwah. Namun di sisi lain, media digital juga menjadi ruang subur bagi penyebaran hoaks, ujaran kebencian, ekstremisme, serta berbagai bentuk disinformasi keagamaan.

Fenomena "ustaz media sosial" yang muncul tanpa basis keilmuan yang memadai sering kali menghasilkan pemahaman agama yang dangkal dan provokatif. Akibatnya, sebagian masyarakat lebih tertarik pada ceramah yang sensasional dibandingkan dakwah yang substantif dan mencerahkan.

Muhammadiyah tidak boleh tertinggal dalam menghadapi realitas ini. Dakwah digital harus diperkuat dengan pendekatan yang kreatif, inovatif, dan berbasis ilmu pengetahuan. Generasi muda Muhammadiyah perlu didorong menjadi produsen konten dakwah yang berkualitas sehingga mampu memenuhi ruang digital dengan narasi Islam yang moderat, inklusif, dan berkemajuan.

Tantangan berikutnya adalah krisis otoritas keilmuan. Di era digital, setiap orang dapat menyampaikan pandangan keagamaan tanpa melalui proses pendidikan yang memadai. Akibatnya, batas antara ilmu dan opini menjadi semakin kabur.

Dalam konteks ini, Muhammadiyah memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga tradisi keilmuan Islam yang otoritatif. Majelis Tarjih dan Tajdid, perguruan tinggi Muhammadiyah-'Aisyiyah, serta berbagai lembaga pendidikan harus menjadi pusat produksi ilmu pengetahuan yang mampu menjawab persoalan kontemporer secara akademik dan keagamaan.

Persoalan ekonomi juga menjadi tantangan penting bagi dakwah Muhammadiyah. Indonesia memang mengalami pertumbuhan ekonomi, tetapi ketimpangan sosial masih menjadi masalah yang serius. Sebagian masyarakat menikmati manfaat pembangunan, sementara sebagian lainnya masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar.

Dalam kondisi seperti ini, dakwah tidak cukup hanya berbicara tentang aspek ritual. Dakwah harus hadir untuk memperjuangkan keadilan sosial dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Muhammadiyah memiliki modal sosial yang sangat besar untuk memainkan peran tersebut. Jaringan amal usaha yang luas dapat menjadi instrumen pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan, kesehatan, pemberdayaan UMKM, penguatan ekonomi syariah, pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan wakaf secara produktif.

Hijrah Berkemajuan menuntut Muhammadiyah untuk menjadi pelopor dalam menciptakan model pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan. Dakwah harus mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat yang menghadapi tekanan ekonomi.

Di sinilah pentingnya mengembangkan konsep filantropi Islam yang transformatif. Zakat, infak, sedekah, dan wakaf tidak hanya berfungsi sebagai bantuan sosial jangka pendek, tetapi juga sebagai instrumen pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

Tidak mungkin berbicara tentang masa depan Muhammadiyah tanpa melibatkan generasi muda. Mereka adalah pewaris sekaligus pelanjut misi dakwah Muhammadiyah di abad kedua. Generasi muda saat ini hidup dalam dunia yang sangat berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital, globalisasi budaya, dan perubahan sosial yang sangat cepat.

Karena itu, pendekatan dakwah kepada generasi muda juga harus mengalami pembaruan. Dakwah tidak boleh hanya bersifat instruktif dan satu arah. Dakwah harus menjadi ruang dialog yang menghargai kreativitas, inovasi, dan partisipasi generasi muda.

Organisasi otonom Muhammadiyah seperti Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah memiliki peran strategis dalam menyiapkan kader-kader yang mampu menghadapi tantangan zaman. Hijrah Berkemajuan di kalangan generasi muda berarti membangun generasi yang kuat secara spiritual, unggul secara intelektual, mandiri secara ekonomi, serta aktif dalam menyelesaikan persoalan sosial.

Salah satu kontribusi terbesar Muhammadiyah bagi bangsa Indonesia adalah konsep dakwah pencerahan. Dakwah pencerahan menempatkan agama sebagai kekuatan yang membebaskan manusia dari kebodohan, kemiskinan, ketidakadilan, dan berbagai bentuk penindasan.

Dalam konteks abad kedua, dakwah pencerahan menjadi semakin penting. Masyarakat membutuhkan dakwah yang mampu memberikan harapan, solusi, dan inspirasi. Dakwah yang menghadirkan optimisme, bukan ketakutan. Dakwah yang membangun persatuan, bukan perpecahan. Dakwah yang mencerdaskan, bukan membodohkan.

Hijrah Berkemajuan pada akhirnya merupakan upaya untuk memperkuat dakwah pencerahan tersebut. Muhammadiyah harus terus menjadi pelopor gerakan Islam yang menghadirkan rahmat bagi seluruh alam.

Keberhasilan dakwah Muhammadiyah tidak hanya diukur dari bertambahnya jumlah anggota atau luasnya jaringan amal usaha, tetapi juga dari sejauh mana dakwah mampu menghadirkan perubahan positif bagi masyarakat. Dakwah yang berhasil adalah dakwah yang mampu meningkatkan kualitas kehidupan manusia, memperkuat persaudaraan, mengurangi kemiskinan, memperluas akses pendidikan, menjaga lingkungan, serta membangun peradaban yang lebih bermartabat.

Tahun Baru Islam seharusnya menjadi momentum refleksi sekaligus aksi. Refleksi atas perjalanan yang telah dilalui dan aksi untuk membangun masa depan yang lebih baik. Bagi Muhammadiyah, hijrah adalah spirit yang terus hidup dalam setiap langkah dakwah dan tajdid.

Memasuki abad kedua, Muhammadiyah memerlukan semangat Hijrah Berkemajuan yang lebih kuat. Semangat untuk terus memperbarui diri tanpa kehilangan jati diri. Semangat untuk merespons perubahan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam. Semangat untuk menghadirkan dakwah yang relevan, solutif, dan mencerahkan.

Warisan Ahmad Dahlan bukan sekadar organisasi yang besar, melainkan keberanian untuk melakukan perubahan. Keberanian untuk keluar dari zona nyaman. Keberanian untuk berpikir maju. Keberanian untuk menjadikan Islam sebagai kekuatan transformasi sosial dan peradaban.

Karena itu, Hijrah Berkemajuan harus menjadi agenda kolektif seluruh warga Muhammadiyah. Dari pengurus hingga anggota, dari amal usaha hingga organisasi otonom, dari generasi senior hingga generasi muda. Semuanya memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga dan mengembangkan misi dakwah Muhammadiyah.

Apabila semangat hijrah itu terus menyala, maka Muhammadiyah akan tetap menjadi kekuatan pencerahan yang relevan sepanjang zaman. Sebuah gerakan Islam yang tidak hanya besar dalam jumlah, tetapi juga besar dalam kontribusi. Sebuah gerakan yang mampu menjawab tantangan zaman sambil tetap teguh memegang nilai-nilai Al-Qur'an dan Sunnah. Dan dengan itulah Muhammadiyah dapat terus meneguhkan perannya sebagai pelopor, pelangsung, dan penyempurna gerakan dakwah Islam Berkemajuan menuju terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Anak Saleh (7) Oleh: Mohammad Fakhrudin Perlu ditegaskan kembali bahwa anak saleh bukan sesuatu y....

Suara Muhammadiyah

5 September 2024

Wawasan

Mark DeSando: Mantan Anggota Kongres, Penjelajah Agama Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakulta....

Suara Muhammadiyah

10 February 2025

Wawasan

Oleh: Izza Rohman Ketua Pimpinan Ranting Istimewa Muhammadiyah New South Wales Periode 2022-2024 P....

Suara Muhammadiyah

9 December 2023

Wawasan

Refleksi 112 Tahun Muhammadiyah Oleh: Rumini Zul Fikar, PRM Troketon, Klaten "Dalam rentang waktu ....

Suara Muhammadiyah

16 November 2024

Wawasan

Banten, Jawara dan Muhammadiyah Oleh: Saidun Derani Diskusi “Dakwah Kultural” dikaitka....

Suara Muhammadiyah

1 May 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah