Ibrahim dan Bumi yang Dipercayakan

Publish

30 April 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
91
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

 Ibrahim dan Bumi yang Dipercayakan 

Oleh: Khilmi Zuhroni (Ketua Majelis Lingkungan Hidup PDM Kotawaringin Timur)

Setiap musim haji tiba, jutaan manusia bergerak menuju Makkah al-Mukarramah, menapaki jejak perjalanan seorang nabi yang namanya diabadikan oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an: Ibrahim alaihissalam. Namun, di balik ritualitas yang sering kita maknai semata sebagai ibadah vertikal, tersimpan satu pelajaran ekologis yang luar biasa. Bagaimana seorang Nabi agung membangun peradaban bukan dengan menguasai alam, melainkan dengan cara berdialog dengannya secara penuh kerendahan hati dan ketaatan kepada Allah.

Kita hidup di era krisis lingkungan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Perubahan iklim, degradasi hutan, kepunahan spesies, krisis air bersih, dan pencemaran laut bukan lagi ancaman masa depan. Ia adalah kenyataan yang dihirup, diminum, dan dirasakan oleh miliaran manusia hari ini. Di tengah situasi ini, umat Islam perlu kembali menggali tradisi kenabian bukan hanya untuk menemukan jawaban teologis, melainkan juga jawaban etis-ekologis yang telah ada jauh sebelum gerakan lingkungan modern lahir. Dan salah satu sumber inspirasi terkaya itu ada pada kisah Nabi Ibrahim AS.

Ibrahim adalah seorang pejalan. Bukan sekadar pejalan geografis yang melintasi Ur Kasdim, Harran, Kan'an, Mesir, hingga lembah Makkah yang tandus, melainkan pejalan spiritual yang menembus batas tradisi, menantang kekuasaan tirani, dan membangun tatanan baru berdasarkan tauhid. Dalam setiap perjalanannya, ia tidak memusuhi alam; sebaliknya, alam menjadi guru pertamanya dalam mengenal Tuhan.

Kisah pencarian Tuhan oleh Ibrahim muda yang diabadikan dalam Surah Al-An'am ayat 76–79 adalah salah satu fragmen paling menakjubkan dalam sejarah peradaban manusia. Ketika malam tiba dan bintang bersinar, Ibrahim bertanya: inikah Tuhanku? Ketika bintang tenggelam, ia berkata: aku tidak menyukai yang tenggelam. Demikian pula dengan bulan dan matahari.

Apa yang sesungguhnya sedang dilakukan Ibrahim dalam perenungan itu? Ia sedang melakukan apa yang dalam bahasa kontemporer saat ini sebut sebagai observasi ekologis. Sebuah pengamatan mendalam terhadap alam semesta untuk memahami hukum-hukum yang bekerja di dalamnya. Ia tidak menyembah alam, tetapi juga tidak mengabaikannya. Ia membacanya. Ia menjadikan bintang, bulan, dan matahari sebagai ayat, sebagai tanda-tanda yang membawa pesan, bukan sebagai objek eksploitasi.

Inilah yang dalam tradisi Islam disebut sebagai tafakkur fil kaun, perenungan terhadap alam ciptaan. Dan Ibrahim adalah prototype pertama dari manusia yang benar-benar menjalankannya secara serius. Ketika ia sampai pada kesimpulan bahwa segala yang 'tenggelam' dan 'terbenam' tidak layak dijadikan sandaran hidup, sesungguhnya ia sedang menegaskan prinsip ekologis yang sangat fundamental: alam bersifat fana dan berubah, dan justru karena itulah ia harus dijaga, bukan dieksploitasi habis-habisan seolah ia tak terbatas.

Tauhid yang dibangun Ibrahim bukanlah teologi abstrak. Ia adalah worldview, cara pandang terhadap seluruh realitas, termasuk alam. Ketika Ibrahim menyatakan: 'Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi,' ia tidak sekadar menolak berhala. Ia sedang menegaskan bahwa pemilik sejati alam semesta adalah Allah, dan manusia hanyalah wakil yang diberi amanah, bukan tuan yang berhak menghancurkan.

Kesaksian atas Kerusakan dan Harapan Perbaikan

Ibnu Katsir dalam Qashash al-Anbiya dan para mufassir seperti Burhanuddin al-Biqo'i menggambarkan betapa panjang dan beratnya perjalanan Ibrahim. Dari Ur Kasdim di Irak selatan, melewati padang-padang gersang Harran di Turki, memasuki subur Kan'an yang kini menjadi Palestina, kemudian turun ke Mesir saat Kan'an dilanda paceklik, lalu kembali ke utara, dan akhirnya menempuh perjalanan sekitar 1.736 kilometer menuju lembah tak berpenghuni yang kelak bernama Makkah.

Al-Biqo'i menulis bahwa doa-doa Ibrahim untuk Makkah diucapkan setelah beliau melewati tanah tandus dan gersang dengan terik matahari yang membakar, dan sepanjang perjalanan itu pula beliau menyaksikan komunitas-komunitas manusia yang hidup dalam kerusakan; para menyembah berhala, menindas yang lemah, mengabaikan hukum-hukum Allah. Perjalanan Ibrahim adalah perjalanan seorang saksi yang tidak bisa tutup mata terhadap kerusakan di sekitarnya.

Al-Qur'an dalam surah Ar-Rum; 41 sendiri dengan tegas mengaitkan kerusakan alam dengan perilaku manusia yang jauh dari nilai-nilai ketuhanan.

Ayat ini adalah diagnosis ekologis yang sangat tepat: kerusakan alam adalah konsekuensi dari perilaku manusia, dan solusinya adalah kembali kepada nilai-nilai yang benar. Ibrahim, dalam setiap perjalanannya, menghidupkan solusi itu. Ia menegakkan tauhid bukan hanya sebagai keyakinan, tetapi sebagai etika sosial dan ekologis.

Tidak ada momen dalam kisah Ibrahim yang lebih sarat makna ekologis sekaligus teologis daripada ketika beliau meninggalkan Hajar dan bayi Ismail di lembah Makkah yang gersang. Jauh dari romantisasi sentimentalitas, tindakan Ibrahim itu adalah sebuah tindakan iman yang disertai oleh kepedulian ekologis yang dalam. Dan kepedulian itu ia ungkapkan dalam sebuah doa yang Allah abadikan dalam Surah Ibrahim ayat: 37.

"Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak ada tanamannya di sisi rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, agar mereka melaksanakan shalat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan anugerahilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur."

Para mufassir, dari Ibnu Katsir hingga al-Biqo'i, mencatat sesuatu yang sangat signifikan: Ibrahim tidak berdoa agar tanah Makkah yang tandus diubah menjadi subur. Ia tidak meminta mukjizat transformasi ekosistem. Ia berdoa agar buah-buahan dari wilayah-wilayah sekitarnya berdatangan ke sana. Ini adalah ekologi berbasis jaringan dan keterhubungan, yakni sebuah pemahaman bahwa keberlangsungan hidup manusia di satu titik bergantung pada ekosistem yang lebih luas di sekitarnya.

Para mufassir menamai dua dimensi doa ini: pertama, Amnun Takwîni, sebagai keterlindungan lingkungan hidup, yaitu permohonan agar negeri Makkah menjadi tempat yang aman secara ekologis dan sosial; kedua, Amnun Tasyrî'I, sebagai keterlindungan nilai, yaitu permohonan agar keturunannya tetap bertauhid dan tidak tersesat oleh godaan materi yang merusak. Dua dimensi ini tidak bisa dipisahkan: kerusakan lingkungan selalu beriringan dengan kerusakan nilai, dan sebaliknya.

Sebelum doa di atas, dalam ayat 35 surat yang sama, Ibrahim juga memanjatkan:

"Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala."

Keamanan negeri dalam doa Ibrahim bukan sekadar soal keamanan dari kejahatan manusia. Ia adalah keamanan ekologis, sebuah kondisi di mana alam, manusia, dan nilai-nilai ilahi hidup dalam keselarasan. Dan keselarasan itu hanya mungkin jika manusia bebas dari 'berhala', simbol dari segala sesuatu yang diprioritaskan di atas Allah, termasuk keserakahan ekonomi yang hari ini mengorbankan lingkungan demi keuntungan jangka pendek.

Dalam Al-Qur'an Surah Ibrahim ayat 32–34, Allah mengingatkan betapa luar biasanya anugerah alam yang diberikan kepada manusia, yakni: air yang diturunkan dari langit, sungai yang mengalir, kapal yang berlayar, matahari, bulan, siang dan malam, yang  semuanya ditundukkan untuk kemanfaatan manusia. Namun ayat itu diakhiri dengan kalimat yang menohok: 'Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).'

Kezaliman dan kekufuran terhadap nikmat inilah yang hari ini kita saksikan dalam bentuk krisis lingkungan global. Hutan dibabat, laut dicemari, udara dikotori, dan air dieksploitasi melampaui batas daya pulihnya, dimana semua demi memenuhi nafsu konsumsi yang tak pernah puas. Ini adalah bentuk kemusyrikan ekologis: menuhankan pertumbuhan ekonomi di atas keselamatan bumi.

Ibrahim mengajarkan kebalikannya. Tauhid sejati, yakni keyakinan bahwa Allah adalah pemilik segala sesuatu yang mengandung konsekuensi moral yang sangat nyata: manusia tidak berhak merusak apa yang bukan miliknya. Alam adalah amanah, dan amanah harus dijaga. Al-Qur'an menegaskan:

"Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-A'raf: 56)

Larangan berbuat kerusakan di bumi ini bukan peraturan tambahan dalam Islam, akan tetapi ia adalah bagian inti dari misi kekhalifahan manusia. Ibrahim, dengan membangun Ka'bah sebagai pusat ibadah, dengan mendoakan keamanan dan kesuburan kota yang tandus, dengan menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada kehendak Allah tanpa melawan kondisi alam yang ada, adalah teladan terbaik dari khalifah yang amanah.

Mukjizat Ekologis yang Mengajarkan Keterpaduan

Peristiwa lahirnya sumur Zamzam adalah kisah yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan Ibrahim As. Ketika Hajar berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwa mencari air untuk bayinya yang kehausan, ia tidak pasrah begitu saja pada kondisi lingkungan yang ekstrem. Ia bergerak, berikhtiar, mengeksplorasi lingkungan sekitarnya dengan penuh harapan. Dan Allah menjawab usaha itu dengan memancurkan mata air dari tanah gersang yang tak pernah kering hingga hari ini.

Kisah Zamzam mengajarkan prinsip ekologis yang sangat penting: lingkungan, betapapun kerasnya, menyimpan potensi keberlanjutan yang tersembunyi, dimana potensi itu hanya akan terbuka bagi mereka yang mau berikhtiar dengan penuh keimanan. Manusia bukan penonton pasif di hadapan alam, tetapi juga bukan penguasa yang bisa berbuat semena-mena. Manusia adalah mitra alam dalam menemukan dan menjaga sumber-sumber kehidupan.

Lebih dari itu, Zamzam yang terus mengalir hingga kini adalah bukti nyata bahwa investasi manusia yang berdasarkan nilai keimanan dan bukan keserakahan, mampu menciptakan keberlanjutan yang melampaui batas generasi. Ibrahim dan Hajar tidak mengeksploitasi tanah Makkah. Mereka merawatnya, mendoakannya, dan menjadikan keberadaan mereka di sana sebagai berkah bagi generasi sesudahnya.

Relevansi Ibrahim di Era Krisis Ekologis Global

Kita kini berada di titik kritis dalam sejarah peradaban manusia. Laporan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) tahun 2023 menyatakan bahwa suhu bumi telah meningkat rata-rata 1,1 derajat Celsius sejak era pra-industri, dan jika tidak ada tindakan drastis, kenaikan 1,5 hingga 2 derajat pada pertengahan abad ini akan memicu bencana ekologis yang tidak terpulihkan. Sementara itu, umat Islam yang berjumlah hampir dua miliar jiwa, yang setiap tahunnya merayakan Idul Adha dan menapaki jejak Ibrahim, belum sepenuhnya mengintegrasikan nilai-nilai ekologis Ibrahim ke dalam gerakan sosial dan dakwah mereka.

Muhammadiyah, sebagai gerakan Islam yang menekankan Islam berkemajuan, perlu menjadikan warisan ekologis Ibrahim sebagai salah satu pilar gerakan. Bukan sekadar program penghijauan yang bersifat seremonial, melainkan sebuah transformasi worldview: bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari tauhid, bahwa merusak alam adalah bentuk kemusyrikan kontemporer, dan bahwa keberlanjutan ekosistem adalah syarat bagi keberlanjutan peradaban Islam itu sendiri.

Ibrahim tidak membangun peradaban di atas fondasi eksploitasi. Ia membangun di atas doa, kepasrahan, dan kepedulian terhadap keberlangsungan hidup. Ketika ia berkata kepada Allah: 'Berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada mereka,' ia sedang memohon sesuatu yang melampaui kebutuhan generasinya sendiri. Ia mendoakan generasi-generasi yang belum lahir. Itulah prinsip keberlanjutan (sustainability) dalam bentuknya yang paling murni.

Setiap tahun, ketika gema takbir Idul Adha berkumandang dan jutaan jemaah haji mengenang pengorbanan Ibrahim, ada satu pertanyaan yang seharusnya kita renungkan: apa yang telah kita perbuat terhadap bumi yang dipercayakan kepada kita? Apakah kita sudah menjadi khalifah yang amanah seperti Ibrahim, ataukah kita justru menjadi 'Namrud-Namrud ekologis' yang membakar bumi demi kepentingan sendiri?

Al-Qur'an Surah Al-Anbiya ayat 107 menegaskan bahwa risalah Islam pada intinya adalah rahmatan lil 'alamin. Bukan hanya bagi manusia, bukan hanya bagi Muslim, tetapi bagi seluruh ekosistem kehidupan yang Allah ciptakan dengan penuh keseimbangan dan kebijaksanaan. Ibrahim telah menunjukkan jalan itu dengan perjalanannya, doa-doanya, dan cara hidupnya yang senantiasa menghormati ciptaan Allah.

Kini giliran kita untuk meneruskan jejak Ibrahim. Tidak cukup hanya dengan mengulang ritualnya, tetapi dengan menghidupi spirit ekologisnya: membaca alam sebagai ayat, mendoakan keselamatan bumi bagi generasi mendatang, dan menolak segala bentuk 'berhala' modern yang mengorbankan keberlanjutan lingkungan demi keuntungan sesaat.

Bumi ini bukan warisan dari leluhur kita. Ia adalah titipan dari anak-cucu kita. Dan Ibrahim, sang Khalilullah, telah jauh-jauh hari mengajarkan kepada kita bagaimana cara yang benar untuk menjaganya.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Pahala Berlipat Ganda dengan Kurma Oleh: Mohammad Fakhrudin, Warga Muhammadiyah Magelang Pada bula....

Suara Muhammadiyah

2 March 2026

Wawasan

  Mudik: Menoleransi atau Melawan Tradisi Oleh: Ahsan Jamet Hamidi, Ketua Pimpinan Ranting Mu....

Suara Muhammadiyah

14 April 2024

Wawasan

Membangun Ekosistem UMKM Melalui SPKL-MU Oleh: Khafid Sirotudin, Ketua LP UMKM PWM Jawa Tengah Ra....

Suara Muhammadiyah

20 April 2026

Wawasan

Membangun Tradisi Membaca Dan Menulis Oleh: M. Husnaini, S.Pd.I., M.Pd.I., Ph.D. Menulis, Harus Di....

Suara Muhammadiyah

12 October 2023

Wawasan

Desakralisasi Pernikahan Oleh: Mohammad Fakhrudin, Warga Muhammadiyah Magelang   Kata "....

Suara Muhammadiyah

18 June 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah