IGABA Dorong Guru PAUD Membangun Generasi Hebat

Publish

30 May 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
72
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Seni Berbicara Positif dan Growth Mindset

MAGELANG, Suara Muhammadiyah – Ikatan Guru Aisyiyah Bustanul Athfal (IGABA) menggelar pelatihan bertajuk “Membangun Generasi Hebat: Seni Berbicara Positif dan Transformasi Growth Mindset” di Magelang, Jumat (23/5/2026). Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas guru PAUD dalam membangun karakter anak melalui komunikasi positif serta penerapan pola pikir berkembang (growth mindset) dalam proses pembelajaran.

Pelatihan yang berlangsung selama empat jam pelajaran tersebut mengusung tema “Dari Kata Menjadi Karakter: Seni Berbicara Positif dan Penanaman Growth Mindset di Kelas Bustanul Athfal”. Kegiatan dikemas melalui dialog reflektif, bedah kasus, simulasi peran (roleplay), dan penyusunan rencana tindak lanjut yang dapat diterapkan langsung di lingkungan sekolah.

Dalam pemaparannya, narasumber menegaskan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) memiliki peran sangat strategis dalam menentukan kualitas generasi masa depan. Sebab, sekitar 85 persen perkembangan otak anak terjadi sebelum usia enam tahun. Oleh karena itu, investasi pada pendidikan usia dini dinilai memberikan dampak sosial dan ekonomi yang paling tinggi dibandingkan jenjang pendidikan lainnya.

Selain membahas pentingnya pendidikan bermutu, peserta juga diajak memahami berbagai tantangan pendidikan anak usia dini di Magelang, mulai dari kualitas pendidik, pemerataan layanan, kesadaran orang tua, hingga penguatan fondasi literasi dan numerasi anak. Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa meskipun tingkat literasi masyarakat Kota Magelang tergolong tinggi, capaian numerasi dan literasi siswa sekolah dasar masih memerlukan perhatian serius.

Salah satu materi utama yang mendapat perhatian peserta adalah konsep Growth Mindset yang dikembangkan oleh Carol Dweck. Konsep ini menekankan bahwa kecerdasan dan kemampuan seseorang dapat berkembang melalui usaha, proses belajar, ketekunan, serta keberanian menghadapi tantangan. Guru didorong untuk melihat setiap anak sebagai individu yang memiliki potensi untuk terus bertumbuh dan berkembang.

Narasumber menjelaskan bahwa guru dengan growth mindset akan memandang kesalahan sebagai bagian dari proses belajar, bukan sebagai kegagalan. Dengan pola pikir tersebut, guru dapat membantu anak membangun rasa percaya diri, keberanian mencoba hal baru, serta ketangguhan dalam menghadapi berbagai tantangan pembelajaran.

Materi berikutnya menyoroti pentingnya seni berbicara positif dalam pendidikan anak usia dini. Peserta diajak menyadari bahwa setiap kata yang diucapkan guru memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter, emosi, dan pola pikir anak. Oleh karena itu, komunikasi yang penuh penghargaan, kelembutan, dan empati menjadi fondasi penting dalam membangun lingkungan belajar yang sehat dan menyenangkan.

Dalam perspektif Islam, peserta juga mendapatkan penguatan mengenai pentingnya bertutur kata yang baik berdasarkan nilai-nilai Al-Qur’an. Materi tersebut menekankan konsep qaulan sadidan (perkataan yang benar), qaulan kariman (perkataan yang mulia), qaulan layyinan (perkataan yang lemah lembut), serta qaulan ma’rufan (perkataan yang baik dan pantas). Nilai-nilai tersebut menjadi landasan komunikasi positif yang perlu diterapkan guru dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

Melalui berbagai simulasi dan studi kasus, peserta dilatih mengubah kalimat yang bersifat negatif menjadi bahasa yang lebih membangun. Misalnya, mengganti ungkapan “Jangan berisik!” menjadi “Mari kita simpan suara kita agar bisa saling mendengar,” atau mengganti label negatif terhadap anak dengan kalimat yang mendorong usaha dan perkembangan mereka.

Pelatihan juga menekankan pentingnya memberikan pujian terhadap proses, bukan sekadar hasil. Guru diajak memberikan apresiasi atas usaha, strategi, dan ketekunan anak dalam belajar. Pendekatan ini diyakini mampu menumbuhkan motivasi intrinsik sekaligus memperkuat pola pikir berkembang pada diri anak sejak usia dini.

Selain itu, peserta diajak menyusun rencana aksi untuk membangun budaya komunikasi positif di sekolah masing-masing. Beberapa strategi yang direkomendasikan antara lain menghadirkan poster kalimat positif di kelas, mengembangkan komunikasi empatik, membiasakan kalimat penyemangat setiap pagi, serta menjadikan kepala sekolah sebagai teladan komunikasi yang positif bagi guru, orang tua, dan peserta didik.

Menutup kegiatan, narasumber mengajak seluruh guru PAUD untuk terus menguatkan peran mereka sebagai pembentuk karakter generasi masa depan. Guru tidak hanya bertugas mengajarkan pengetahuan, tetapi juga menanamkan kepercayaan diri, semangat belajar, dan nilai-nilai positif melalui setiap kata yang diucapkan kepada anak-anak.

“Guru hebat bukan hanya dikenang, tetapi juga didoakan. Ia hadir bukan sekadar mengajar, melainkan menyentuh jiwa muridnya,” demikian pesan inspiratif yang menjadi penutup pelatihan.

Kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat komitmen guru-guru IGABA untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih humanis, inspiratif, dan berorientasi pada tumbuh kembang anak secara utuh, sehingga lahir generasi hebat yang percaya diri, berkarakter, dan siap menghadapi masa depan.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

AMBON, Suara Muhammadiyah – Dalam upaya mendukung digitalisasi kampus dan transparansi layanan....

Suara Muhammadiyah

21 May 2026

Berita

Penjajakan Kerja Sama Bidang Filologi dan Studi Islam YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Fakult....

Suara Muhammadiyah

9 August 2025

Berita

MALANG, Suara Muhammadiyah - Berbagai permasalahan kehidupan berbangsa di Indonesia harus disikapi d....

Suara Muhammadiyah

17 November 2023

Berita

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah – Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah XVII mengg....

Suara Muhammadiyah

11 February 2025

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – MOSAIC (Muslims for Shared Action on Climate Impact) kembali mel....

Suara Muhammadiyah

8 January 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah