Ikhlas sebagai Energi Tajdid Warga Muhammadiyah

Publish

3 June 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
71
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Ikhlas sebagai Energi Tajdid Warga Muhammadiyah

Oleh: Dr. Jaharuddin, Dosen FEB Universitas Muhammadiyah Jakarta

Di tengah zaman yang semakin ramai oleh pencitraan, angka, panggung, sorotan, dan ukuran-ukuran lahiriah, warga Persyarikatan perlu kembali kepada satu pertanyaan yang paling mendasar, untuk siapa semua amal ini kita kerjakan? Untuk siapa sekolah, rumah sakit, panti asuhan, masjid, majelis, majalah, universitas, dakwah digital, gerakan filantropi, dan seluruh amal usaha ini kita rawat? Untuk siapa kita berlelah-lelah dalam rapat, pengajian, pelayanan umat, advokasi sosial, dan kerja-kerja kebangsaan?

Pertanyaan itu sederhana, tetapi menentukan arah. Sebab amal yang kehilangan niat akan berubah menjadi rutinitas. Gerakan yang kehilangan ruh akan berubah menjadi administrasi. Organisasi yang kehilangan ikhlas akan mudah menjadi arena perebutan nama, jabatan, pengaruh, dan pengakuan. Maka, sebelum kita berbicara tentang kemajuan, profesionalitas, tata kelola, kaderisasi, dan ekspansi amal usaha, kita harus lebih dahulu menata jantung dari semuanya, ikhlas.

Ikhlas adalah kemurnian niat yang hanya tertuju kepada Allah. Ia bukan sekadar kata indah dalam ceramah, melainkan syarat hidupnya amal. Tanpa ikhlas, amal dapat tetap terlihat megah, tetapi kosong di sisi Allah. Tanpa ikhlas, seseorang dapat tampak sibuk membela agama, tetapi sesungguhnya sedang membela dirinya sendiri. Tanpa ikhlas, Persyarikatan dapat memiliki banyak gedung, lembaga, dan program, tetapi kehilangan daya ruhani yang melahirkan perubahan sejati.

Allah ﷻ menegaskan, “Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.” QS. Al-An’am: 162

Ayat ini memberi arah total bagi kehidupan seorang Muslim. Bukan hanya shalat yang harus untuk Allah, tetapi hidup seluruhnya. Bukan hanya ibadah ritual yang harus bersih dari riya’, tetapi juga kerja sosial, pendidikan, kesehatan, ekonomi, politik kebangsaan, dakwah, dan pengabdian kemanusiaan. Semua harus kembali kepada Allah sebagai tujuan tertinggi.

Bagi warga Muhammadiyah, ikhlas tidak boleh dipahami sebagai sikap pasif, lemah, atau sekadar menerima keadaan. Ikhlas bukan alasan untuk bekerja seadanya. Ikhlas bukan pembenaran bagi manajemen yang buruk, pelayanan yang lamban, mutu pendidikan yang rendah, atau amal usaha yang dikelola tanpa amanah. Justru ikhlas menuntut kesungguhan tertinggi, karena pekerjaan itu dilakukan di hadapan Allah, bukan sekadar di hadapan manusia.

Inilah ikhlas yang berkemajuan, hati yang bersih, pikiran yang jernih, kerja yang profesional, dan amal yang memberi manfaat nyata. Orang yang ikhlas tidak bekerja asal selesai, karena ia tahu Allah melihat mutu amalnya. Ia tidak mengurus Persyarikatan secara sembarangan, karena ia sadar bahwa amanah umat tidak boleh diperlakukan sebagai milik pribadi, keluarga, kelompok, atau jaringan kepentingan. Ia tidak menjadikan amal usaha sebagai tempat mencari keuntungan diri, tetapi sebagai ladang pengabdian untuk mencerahkan kehidupan.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya.”
HR. Bukhari dan Muslim

Hadis ini seharusnya mengguncang kesadaran kita. Amal yang sama dapat berbeda nilainya karena niat yang berbeda. Dua orang bisa sama-sama memimpin lembaga, tetapi yang satu sedang beribadah, sementara yang lain sedang membangun kekuasaan. Dua orang bisa sama-sama berdakwah, tetapi yang satu mencari ridha Allah, sementara yang lain mencari tepuk tangan. Dua orang bisa sama-sama berkhidmat di Muhammadiyah, tetapi yang satu menjaga amanah, sementara yang lain memperalat amanah.

Karena itu, warga Persyarikatan harus berani melakukan muhasabah. Jangan-jangan selama ini kita lebih gelisah ketika tidak disebut manusia daripada ketika amal kita belum tentu diterima Allah. Jangan-jangan kita lebih sibuk menjaga citra daripada menjaga niat. Jangan-jangan kita lebih takut kehilangan posisi daripada kehilangan keberkahan. Jangan-jangan kita lebih cepat tersinggung ketika tidak dihargai daripada ketika melihat amanah Allah disia-siakan.

Ikhlas adalah keberanian untuk bekerja tanpa harus selalu dipuji. Ikhlas adalah kedewasaan untuk tetap beramal meskipun tidak selalu disebut. Ikhlas adalah keteguhan untuk melayani meskipun tidak mendapat sorotan. Ikhlas adalah kekuatan untuk mundur dari ego pribadi demi maslahat yang lebih besar. Ikhlas juga keberanian untuk mengoreksi diri ketika amanah mulai berubah menjadi ambisi.

Di sinilah Muhammadiyah memiliki warisan ruhani yang sangat kaya. Gerakan ini lahir bukan dari kemewahan, melainkan dari kegelisahan iman. Kiai Ahmad Dahlan mengajarkan bahwa agama tidak boleh berhenti sebagai bacaan, tetapi harus menjadi perbuatan. Al-Qur’an tidak cukup dilagukan, tetapi harus diwujudkan dalam pembebasan, pencerdasan, dan pelayanan. Surah Al-Ma’un tidak boleh tinggal di mimbar, tetapi harus menjelma menjadi panti asuhan, sekolah, rumah sakit, wakaf produktif, gerakan zakat, dan pembelaan terhadap kaum lemah.

Namun semua amal besar itu hanya akan menjadi monumen sosial apabila kehilangan ikhlas. Amal usaha Muhammadiyah bukan sekadar institusi modern; ia adalah kesaksian iman. Sekolah Muhammadiyah bukan hanya tempat transfer pengetahuan; ia adalah ruang mencetak manusia berakhlak, berilmu, dan bermanfaat. Rumah sakit Muhammadiyah bukan hanya tempat layanan medis; ia adalah wajah rahmah Islam bagi yang sakit dan lemah. Panti asuhan bukan sekadar lembaga sosial; ia adalah jawaban iman terhadap jeritan yatim dan miskin.

Maka, mengelola amal usaha Muhammadiyah harus dilakukan dengan ruh ibadah dan disiplin ihsan. Ikhlas harus melahirkan mutu. Amanah harus melahirkan transparansi. Dakwah harus melahirkan pelayanan. Tauhid harus melahirkan keberpihakan kepada yang lemah. Jangan sampai nama Persyarikatan menjadi besar, tetapi sebagian pengelolaannya kehilangan kesantunan, keadilan, dan keberpihakan. Jangan sampai simbol Islam tampak kuat, tetapi jiwa pelayanan melemah.

Ikhlas juga harus menjadi energi tajdid. Pembaruan dalam Muhammadiyah tidak boleh hanya berarti mengganti sistem, memperbarui struktur, atau memakai teknologi baru. Tajdid yang sejati dimulai dari pembaruan niat. Sebab teknologi tanpa ikhlas dapat menjadi alat pencitraan. Jabatan tanpa ikhlas dapat menjadi alat dominasi. Program tanpa ikhlas dapat menjadi seremoni. Retorika kemajuan tanpa ikhlas dapat berubah menjadi kebanggaan kosong.

Warga Muhammadiyah perlu membangun budaya baru yang lebih jujur, budaya bekerja tanpa banyak mengeluh, memberi tanpa merasa paling berjasa, memimpin tanpa ingin dipuja, berbeda pendapat tanpa merusak ukhuwah, dan berprestasi tanpa merendahkan yang lain. Persyarikatan ini terlalu mulia jika dipersempit menjadi ruang persaingan ego. Muhammadiyah terlalu besar jika hanya dijadikan kendaraan kepentingan kecil.

Di era media sosial, ujian ikhlas menjadi lebih halus. Kebaikan mudah dipublikasikan, pelayanan mudah didokumentasikan, prestasi mudah disebarkan. Semua itu tidak selalu salah. Syiar kebaikan diperlukan, transparansi publik penting, dan inspirasi sosial perlu dibagikan. Tetapi hati harus tetap dijaga. Jangan sampai dokumentasi mengalahkan substansi. Jangan sampai publikasi lebih serius daripada pelayanan. Jangan sampai kita lebih sibuk menampilkan kebaikan daripada memperdalam keikhlasan.

Orang yang ikhlas tidak anti penghargaan, tetapi tidak diperbudak oleh penghargaan. Ia tidak menolak apresiasi, tetapi tidak menjadikannya tujuan. Ia tidak takut bekerja di belakang layar, karena ia percaya bahwa tidak ada amal yang tersembunyi dari Allah. Ia tidak sakit hati ketika dilupakan manusia, sebab ia yakin Allah tidak pernah lupa.

Ikhlas bukan berarti tidak boleh tampak. Ikhlas berarti hati tidak bergantung pada ketampakan. Ada amal yang memang harus diumumkan karena menjadi syiar, laporan amanah, atau ajakan kebaikan. Tetapi amal yang diumumkan tetap harus dijaga dari penyakit hati. Di situlah letak perjuangan batin seorang kader, tampil seperlunya, bekerja sebaik-baiknya, dan menyerahkan penilaian akhirnya kepada Allah.

Persyarikatan ini membutuhkan warga yang ikhlas, bukan sekadar warga yang aktif. Aktivisme tanpa ikhlas mudah melahirkan kelelahan, kekecewaan, dan konflik. Tetapi keikhlasan memberi daya tahan. Orang yang ikhlas tidak mudah berhenti hanya karena tidak dipuji. Ia tidak mudah patah hanya karena dikritik. Ia tidak mudah marah hanya karena tidak diberi posisi. Ia memahami bahwa berkhidmat di Muhammadiyah bukan jalan mencari kemuliaan pribadi, melainkan jalan mengabdi kepada Allah melalui pelayanan kepada umat.

Ikhlas juga mengajarkan keberanian untuk berubah. Sebab orang yang ikhlas tidak membela kebiasaan buruk hanya karena itu menguntungkan dirinya. Ia tidak mempertahankan sistem yang lemah hanya karena ia nyaman di dalamnya. Ia tidak menolak kritik hanya karena kritik itu mengganggu harga dirinya. Orang yang ikhlas akan bertanya, mana yang lebih diridhai Allah? Mana yang lebih maslahat bagi umat? Mana yang lebih amanah bagi Persyarikatan?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini akan melahirkan perubahan. Dari kerja formal menuju kerja bermakna. Dari jabatan menuju amanah. Dari rutinitas menuju gerakan. Dari simbol menuju substansi. Dari sekadar memiliki amal usaha menuju memajukan amal usaha. Dari bangga pada sejarah menuju kesungguhan melanjutkan sejarah.

Kini, yang kita butuhkan bukan hanya memperbanyak kegiatan, tetapi memperdalam niat. Bukan hanya memperluas jaringan, tetapi memperkuat integritas. Bukan hanya meninggikan nama Muhammadiyah, tetapi memastikan bahwa nama besar itu benar-benar menjadi rahmat bagi umat dan bangsa. Sebab kemuliaan Persyarikatan bukan semata-mata pada banyaknya lembaga, tetapi pada sejauh mana lembaga-lembaga itu menjadi jalan mendekat kepada Allah dan menghadirkan manfaat bagi manusia.

Setiap warga Muhammadiyah perlu kembali mengucapkan dalam hati, Ya Allah, luruskan niat kami. Jangan biarkan amal kami rusak oleh riya’. Jangan biarkan pengabdian kami berubah menjadi ambisi. Jangan biarkan amanah Persyarikatan kami perlakukan sebagai milik pribadi. Jadikan sekolah kami cahaya ilmu. Jadikan rumah sakit kami medan kasih sayang. Jadikan masjid kami pusat pencerahan. Jadikan majelis kami ruang kebijaksanaan. Jadikan seluruh amal usaha kami sebagai ibadah yang Engkau ridai.

Ikhlas adalah energi perubahan yang paling sunyi, tetapi paling menentukan. Ia tidak selalu tampak dalam laporan tahunan, tidak selalu masuk dalam berita, dan tidak selalu disebut dalam forum resmi. Tetapi dari sanalah keberkahan bermula. Dari hati yang bersih, lahir kerja yang jernih. Dari niat yang lurus, lahir gerakan yang kuat. Dari keikhlasan, lahir Muhammadiyah yang tidak hanya besar secara organisasi, tetapi juga agung secara ruhani.

Maka, mari kita pulang kepada niat. Mari kita bersihkan kembali orientasi pengabdian. Mari kita jadikan ikhlas sebagai ruh tajdid, ruh dakwah, ruh amal usaha, dan ruh seluruh gerakan Persyarikatan.

Sebab pada akhirnya, yang menyelamatkan bukan seberapa sering nama kita disebut, tetapi seberapa tulus amal kita diterima Allah. Yang abadi bukan tepuk tangan manusia, tetapi ridha Allah. Yang menghidupkan Muhammadiyah bukan sekadar banyaknya program, tetapi keikhlasan warga dan kadernya dalam menjadikan seluruh amal sebagai ibadah.

Ikhlaslah, agar amal kita bernilai.
Ikhlaslah, agar gerakan ini tetap bercahaya.
Ikhlaslah, agar Muhammadiyah terus menjadi jalan kebaikan, pencerahan, dan kemajuan bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Membijaksanakan Diri dalam Melihat Pengganti Oleh: Ahsan Jamet Hamidi, Ketua PRM Legoso, Tangerang ....

Suara Muhammadiyah

8 October 2024

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan Kita adalah manusia. Kita tinggal di bumi yang sangat berharga bagi kita. Karen....

Suara Muhammadiyah

30 October 2023

Wawasan

Dagang, Dakwah, Development Oleh: Khafid Sirotudin Pada pengajian Ahad pagi, 25 Januari 2026, &n....

Suara Muhammadiyah

30 January 2026

Wawasan

Pay Later Syariah Oleh: Joko Intarto Namanya ‘’BankZiska’’ Tapi BankZiska ....

Suara Muhammadiyah

30 October 2023

Wawasan

Seni Menahan Diri: Membangun Takwa di Persimpangan Ketaatan Oleh: Roehan Ustman Pengasuh PP Ibnul Q....

Suara Muhammadiyah

21 February 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah