Indonesia Emas 2045 Dimulai dari Desa
Oleh: Kuswaji Dwi Priyono, Ketua Majlis Pemberdayaan Masyarakat PDM Sukoharjo
Ketika pemerintah dan berbagai kalangan berbicara tentang Indonesia Emas 2045, pikiran kita sering melayang pada gedung-gedung pencakar langit, kawasan industri modern, kecerdasan buatan, kendaraan listrik, atau kota-kota pintar. Semua itu memang penting sebagai penanda kemajuan sebuah bangsa. Namun, ada satu pertanyaan sederhana yang patut kita renungkan bersama: mungkinkah Indonesia menjadi negara maju jika desa-desa yang menjadi fondasi kehidupan bangsa justru tertinggal?.
Bagi saya, pertanyaan itu bukan sekadar bahan diskusi akademik. Ia adalah bagian dari perjalanan hidup. Saya dilahirkan dan dibesarkan di sebuah desa di Kabupaten Gunungkidul. Dari desa itulah saya belajar tentang arti kerja keras, kesederhanaan, gotong royong, dan rasa syukur. Saya masih mengingat jalan-jalan yang belum beraspal, sawah tadah hujan yang menggantungkan hidup pada musim, serta semangat masyarakat yang saling membantu tanpa harus menunggu imbalan.
Desa mengajarkan bahwa kehidupan bukan hanya tentang memiliki, tetapi juga tentang berbagi. Desa membentuk karakter, membangun ketangguhan, dan menanamkan kecintaan kepada tanah tempat kita berpijak. Kini, setelah puluhan tahun menjadi akademisi di bidang geografi, saya semakin menyadari bahwa pelajaran terbesar yang saya peroleh justru berasal dari desa. Geografi mengajarkan bahwa ruang bukan sekadar hamparan tanah, melainkan tempat bertemunya manusia, alam, budaya, dan kehidupan. Ketika ruang dikelola dengan bijaksana, kesejahteraan akan tumbuh.
Sebaliknya, ketika ruang diperlakukan hanya sebagai komoditas ekonomi, berbagai persoalan akan bermunculan, mulai dari kerusakan lingkungan, bencana, hingga ketimpangan sosial. Indonesia sesungguhnya dibangun oleh desa. Pangan yang kita makan berasal dari sawah dan ladang. Air yang kita minum berasal dari daerah tangkapan air di perdesaan. Hutan yang menjaga keseimbangan iklim sebagian besar berada di wilayah desa. Bahkan kekayaan tambang yang menjadi sumber devisa negara banyak ditemukan di daerah-daerah yang dahulu merupakan kampung-kampung sederhana.
Ironisnya, desa sering kali hanya dipandang sebagai objek pembangunan. Kekayaan alamnya diambil, tetapi kesejahteraan masyarakatnya tidak selalu ikut meningkat. Tidak sedikit desa yang masih menghadapi persoalan akses pendidikan, layanan kesehatan, kesempatan kerja, hingga keterbatasan infrastruktur. Di beberapa tempat, eksploitasi sumber daya alam bahkan meninggalkan kerusakan lingkungan yang harus ditanggung oleh masyarakat setempat.
Sebagai seorang geograf, saya meyakini bahwa masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh bagaimana kita memperlakukan ruang-ruang desa. Desa bukanlah halaman belakang pembangunan, melainkan halaman depan masa depan bangsa. Dari desa lahir ketahanan pangan, ketahanan air, ketahanan lingkungan, dan ketahanan sosial. Apabila desa kuat, Indonesia akan kokoh. Sebaliknya, apabila desa rapuh, maka fondasi pembangunan nasional pun akan ikut melemah.
Perubahan iklim yang semakin nyata mengingatkan kita akan pentingnya menjaga keseimbangan alam. Alih fungsi lahan yang tidak terkendali, kerusakan kawasan resapan air, serta eksploitasi sumber daya yang mengabaikan daya dukung lingkungan telah meningkatkan risiko banjir, longsor, kekeringan, dan krisis air bersih. Semua ini bukan sekadar persoalan teknis, tetapi persoalan tata kelola ruang yang membutuhkan ilmu pengetahuan sekaligus kebijaksanaan.
Di sinilah geografi memiliki peran strategis. Perencanaan pembangunan harus berbasis data geospasial, memperhatikan karakter bentang alam, daya dukung lingkungan, dan risiko bencana. Teknologi seperti Sistem Informasi Geografis (SIG), penginderaan jauh, dan pemetaan digital hendaknya tidak hanya menjadi perangkat akademik, tetapi menjadi dasar dalam setiap pengambilan kebijakan pembangunan, terutama di wilayah perdesaan.
Namun, pembangunan tidak cukup hanya mengandalkan teknologi. Bangsa ini juga membutuhkan fondasi moral yang kokoh. Islam mengajarkan bahwa manusia adalah khalifah fil ardh, pemegang amanah untuk memakmurkan bumi, bukan merusaknya. Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56).
Ayat ini mengandung pesan yang sangat relevan dengan pembangunan desa. Menjaga sawah berarti menjaga sumber kehidupan. Memelihara mata air berarti menjaga keberlangsungan generasi mendatang. Menanam pohon bukan sekadar tindakan ekologis, tetapi juga ibadah yang bernilai sedekah. Rasulullah SAW bersabda bahwa tidaklah seorang Muslim menanam pohon, lalu hasilnya dimanfaatkan oleh manusia, burung, atau makhluk lainnya, melainkan menjadi sedekah baginya. Pesan ini menunjukkan bahwa pembangunan lingkungan adalah bagian dari pengabdian kepada Allah SWT.
Muhammadiyah sejak awal berdirinya telah menunjukkan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari desa. Amal usaha pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, hingga pemberdayaan ekonomi tumbuh dari semangat membangun masyarakat akar rumput. Nilai Islam Berkemajuan mengajarkan bahwa kemajuan harus berjalan beriringan dengan keadilan, kejujuran, ilmu pengetahuan, dan kepedulian terhadap sesama. Karena itu, Indonesia Emas 2045 tidak cukup diwujudkan melalui pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
Indonesia Emas harus ditopang oleh desa-desa yang mandiri, petani yang sejahtera, generasi muda yang berpendidikan, lingkungan yang lestari, serta tata kelola pemerintahan yang bersih dan berpihak kepada rakyat. Desa harus menjadi pusat inovasi, bukan sekadar penerima program. Potensi lokal perlu dikembangkan melalui pertanian modern, penguatan koperasi, digitalisasi UMKM, pariwisata berbasis masyarakat, dan pemanfaatan teknologi geospasial untuk pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.
Di tengah arus modernisasi, desa juga harus tetap mempertahankan nilai-nilai yang menjadi kekuatannya: gotong royong, musyawarah, kepedulian sosial, dan kesederhanaan. Nilai-nilai inilah yang sesungguhnya menjadi modal sosial bangsa Indonesia. Kemajuan teknologi tidak boleh mengikis karakter luhur yang telah diwariskan oleh para pendahulu. Memasuki usia kemerdekaan Republik Indonesia, sudah saatnya kita mengubah cara pandang terhadap desa. Desa bukan simbol keterbelakangan, melainkan sumber harapan. Desa bukan beban pembangunan, tetapi fondasi pembangunan. Dari desa lahir manusia-manusia tangguh yang mengisi berbagai bidang kehidupan, dari petani hingga ilmuwan, dari guru hingga pemimpin bangsa.
Saya percaya bahwa Indonesia Emas 2045 tidak akan lahir semata-mata dari kemegahan kota-kota besar. Indonesia Emas akan tumbuh dari desa-desa yang mampu menjaga mata airnya, mempertahankan sawahnya, memuliakan petaninya, memberdayakan pemudanya, menghidupkan masjidnya sebagai pusat pembinaan umat, serta membangun kehidupan yang selaras dengan alam dan nilai-nilai agama.
Sebagai putra desa, saya percaya bahwa masa depan Indonesia tidak sedang menunggu untuk dibangun di tempat lain. Masa depan itu telah tumbuh di desa-desa kita. Tugas kita adalah merawatnya dengan ilmu, kejujuran, dan amanah. Sebab, ketika desa maju, sesungguhnya Indonesia sedang menapaki jalan menuju kemajuan yang berkeadilan, berkelanjutan, dan diberkahi Allah SWT.
Dirgahayu Republik Indonesia. Semoga pada usia kemerdekaan yang terus bertambah, kita semakin menyadari bahwa jalan menuju Indonesia Emas bukan hanya dibangun dengan beton dan baja, tetapi juga dengan karakter, ilmu pengetahuan, kepedulian terhadap lingkungan, dan kecintaan kepada desa sebagai akar kehidupan bangsa.

