BANTUL, Suara Muhammadiyah – Sebanyak 25 peserta yang terdiri dari ibu-ibu PKK dan Karang Taruna Kelurahan Kratonan mengikuti kegiatan dengan penuh antusias. Selain mempelajari teknik produksi sabun dari minyak jelantah, peserta juga memperoleh wawasan mengenai pengelolaan bank sampah, pemberdayaan masyarakat, hingga strategi pemasaran produk berbasis komunitas.
Hal ini untuk mendorong pemberdayaan masyarakat berbasis ekonomi sirkular yang terus dilakukan Eco Bhinneka Muhammadiyah Focal Point Surakarta melalui kegiatan Studi Banding Inovasi Daur Ulang Minyak Jelantah Menjadi Produk Sabun di Komunitas Eco Sae Migunani, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta, Sabtu (14/6/2026).
Belajar dari Komunitas yang Berhasil
Dalam sambutannya, Penanggung Jawab Focal Point Surakarta, Patra Manggala Bima, menyampaikan bahwa studi banding ini merupakan bagian dari upaya memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengembangkan inovasi lingkungan yang berkelanjutan. "Komunitas Eco Sae Migunani kami pilih karena berhasil membangun sistem pengelolaan sampah dan pengolahan minyak jelantah yang tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat. Harapannya, pengalaman ini dapat menjadi inspirasi bagi warga Kelurahan Kratonan untuk mengembangkan inovasi serupa," ujarnya. Sementara itu, perwakilan Eco Sae Migunani, Maya, menyampaikan apresiasi atas kunjungan peserta dari Surakarta. Ia berharap silaturahmi dan kolaborasi yang terjalin dapat terus berlanjut sehingga semakin banyak masyarakat yang tergerak dalam pengelolaan lingkungan berbasis pemberdayaan.
Dari Bank Sampah Menuju Ekonomi Sirkular
Pada sesi pemaparan materi, peserta diperkenalkan dengan perjalanan Eco Sae Migunani yang berawal dari bank sampah sederhana sejak tahun 2014 dan kini berkembang menjadi komunitas yang mengelola sampah anorganik, sampah organik, hingga budidaya pertanian dan perikanan terpadu. Berbagai inovasi yang dikembangkan, seperti pengolahan kompos, pupuk cair, budidaya azolla, kebun komunal, hingga pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai ekonomi, menjadi bukti bahwa pengelolaan sampah dapat dilakukan secara berkelanjutan apabila dimulai dari perubahan perilaku masyarakat. Peserta juga diajak berkeliling melihat langsung kebun komunal, sistem pengomposan, budidaya ikan, serta berbagai fasilitas yang dikelola secara gotong royong oleh komunitas.
Minyak Jelantah Menjadi Produk Bernilai
Salah satu sesi yang paling menarik perhatian peserta adalah praktik pengolahan minyak jelantah menjadi sabun natural. Narasumber menjelaskan bahwa minyak goreng sebaiknya hanya digunakan dua hingga tiga kali pemakaian karena kualitasnya telah menurun dan berpotensi membahayakan kesehatan. Daripada dibuang ke saluran air yang dapat mencemari lingkungan, minyak jelantah dapat diolah menjadi produk seperti biodiesel, lilin, maupun sabun ramah lingkungan. Peserta mempelajari proses penjernihan minyak jelantah menggunakan bahan alami hingga tahapan pencampuran dengan larutan alkali, pemberian pewangi, pencetakan, dan proses curing sebelum sabun siap digunakan. Melalui inovasi tersebut, limbah rumah tangga dapat diubah menjadi produk yang memiliki nilai guna sekaligus nilai ekonomi bagi masyarakat.
Strategi Pemasaran Berbasis Media Sosial
Selain mempelajari proses produksi, peserta juga memperoleh materi mengenai strategi pemasaran produk melalui media sosial. Komunitas Eco Sae Migunani memanfaatkan Facebook, TikTok, WhatsApp, dan marketplace sebagai sarana promosi sekaligus media edukasi kepada masyarakat. Dokumentasi kegiatan secara rutin dinilai menjadi salah satu kunci dalam membangun kepercayaan publik dan memperluas jaringan pemasaran. Materi ini menjadi bekal penting bagi Karang Taruna Kelurahan Kratonan yang nantinya akan berperan sebagai tim promosi dan pemasaran produk hasil olahan masyarakat.
Susun Rencana Tindak Lanjut
Sebagai bentuk komitmen pasca studi banding, setiap kelompok RW menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang berisi tahapan pengumpulan minyak jelantah, produksi sabun cair, pengemasan, pelabelan, pemasaran, hingga evaluasi program secara berkala. Sementara itu, Karang Taruna Kratonan menyusun strategi promosi melalui konten media sosial untuk memperkenalkan produk sabun ramah lingkungan kepada masyarakat sekaligus membangun identitas merek yang kuat.
Kolaborasi Menuju Kemandirian Masyarakat
Dalam sesi penutup, Regional Manager Eco Bhinneka Surakarta, Hanifa Kasih Surahman, menegaskan pentingnya membangun mekanisme pemberdayaan yang terintegrasi dengan kegiatan masyarakat seperti PKK, pengajian, maupun pertemuan RT dan RW agar program tetap berjalan secara berkelanjutan. Senada dengan itu, perwakilan Tim Nasional Eco Bhinneka, Resti Syafira, berharap seluruh rencana tindak lanjut yang telah disusun dapat diimplementasikan secara nyata sehingga mampu melahirkan ekopreneur baru di tingkat masyarakat. Melalui kegiatan studi banding ini, Focal Point Surakarta berharap inovasi pengolahan minyak jelantah menjadi sabun tidak hanya menjadi solusi pengurangan limbah rumah tangga, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha baru yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat sekaligus pelestarian lingkungan. (diko)

