Iran: Ketahanan di Tengah Ramalan Keruntuhan

Suara Muhammadiyah

9 July 2026

456
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Iran: Ketahanan di Tengah Ramalan Keruntuhan

Oleh: Riki Saputra (Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat)

Selama lebih dari empat dekade, Iran hidup di bawah bayang-bayang narasi tunggal negara yang terkucil, ekonominya lumpuh oleh sanksi, dan rezimnya diramalkan akan tumbang "sebentar lagi". Ramalan itu diulang-ulang sejak 1979, diperbarui setiap kali ada gejolak politik di Timur Tengah, dan disegarkan kembali setiap kali media Barat memberitakan demonstrasi jalanan di Teheran. Namun nyatanya, negara yang diberitakan sekarat itu masih berdiri, masih memproduksi pemikir, masih memainkan peran sentral dalam percaturan geopolitik kawasan, dan masih memancarkan kekuatan kultural yang jauh melampaui ukuran ekonominya.

Tulisan ini berangkat dari keresahan intelektual yang sederhana mengapa kita begitu mudah menerima narasi kerapuhan Iran, padahal fakta empiris menunjukkan pola yang justru sebaliknya, yaitu pola ketangguhan yang berulang? Ketangguhan itu tidak hanya tampak dalam kemampuan bertahan hidup secara ekonomi di bawah rezim sanksi paling berat dalam sejarah modern, tetapi juga dalam vitalitas tradisi filsafat, dinamika teologi politik, serta kelenturan strategi geopolitiknya. Urgensi membahas ini bukan untuk memuja sebuah rezim atau menutup mata dari persoalan di dalamnya, melainkan untuk mengoreksi cara pandang yang keliru, bahwa kekuatan sebuah bangsa hanya diukur dari kepatuhannya pada tatanan global yang dominan.

Tujuan tulisan ini ada tiga poin penting. Pertama, menawarkan kerangka konsep resiliensi (resilience) sebagai alat baca yang lebih jernih dibanding sekadar pujian atau kutukan terhadap Iran. Kedua, menelusuri bagaimana ketangguhan itu termanifestasi dalam empat ranah yang saling menopang, yaitu politik-ekonomi, geopolitik, intelektual, dan keagamaan. Ketiga, menarik pelajaran filosofis dari pengalaman Iran bagi Indonesia, sebuah bangsa yang juga sering diremehkan kapasitasnya untuk berpikir dan bertahan secara mandiri di tengah tekanan global.

Resiliensi sebagai Kerangka Berpikir, Bukan Sekadar Slogan

Kata "tangguh" sering dipakai secara emosional, seolah menjadi pujian kosong. Padahal dalam literatur ilmu sosial, resiliensi memiliki makna teknis yang lebih tajam. Kajian modern menegaskan bahwa resiliensi bukan semata properti bawaan suatu sistem sebelum guncangan datang, melainkan hasil dari perjuangan politik yang terus-menerus di sekitar institusi ekonomi, koalisi kekuasaan, dan relasi kelas. Dengan kata lain, ketangguhan bukan takdir, melainkan sesuatu yang "diproduksi" lewat pilihan-pilihan politik dalam situasi krisis.

Pemahaman ini penting untuk membedah kasus Iran. Ketika rezim otoriter seperti Iran berhasil bertahan dari tekanan eksternal yang luar biasa berat, sebagian sarjana menyimpulkan bahwa rezim satu partai atau rezim yang terkonsolidasi justru cenderung lebih efektif mengelola sanksi dibanding rezim yang lebih terbuka (Portela & Mora-Sanguinetti, 2023). Artinya, tekanan dari luar tidak otomatis melahirkan keruntuhan pada kondisi tertentu tekanan itu justru dijadikan bahan bakar konsolidasi internal. Ini bukan pembelaan moral terhadap otoritarianisme, melainkan pengakuan analitis bahwa logika "sanksi pasti melumpuhkan" adalah penyederhanaan yang gagal menjelaskan kasus Iran.

Ketangguhan Politik-Ekonomi: Ketika Sanksi Berbalik Menjadi Kurikulum

Sejak revolusi 1979, ekonomi Iran hidup dalam kepungan sanksi yang terus diperbarui dan diperberat, terutama pasca-2018 ketika Amerika Serikat menarik diri dari kesepakatan nuklir. Studi tentang periode pemerintahan Rouhani menunjukkan bahwa alih-alih melahirkan pemberontakan yang sepadan dengan derita ekonomi, Iran justru mengembangkan mekanisme penyesuaian politik yang membuatnya semakin kukuh menghadapi tekanan. Data survei konsumsi bahkan menunjukkan pola yang ironis kalangan elite relatif aman dari dampak sanksi, sementara penderitaan ekonomi kelompok rentan tidak lantas berubah menjadi mobilisasi politik yang menggoyang kekuasaan.

Contoh konkret dari fenomena ini adalah transformasi industri gula Haft Tappeh pada dekade 2010-an hingga awal 2020-an. Alih-alih menjadi simbol keruntuhan sektor industri akibat sanksi, kasus ini justru memperlihatkan bagaimana protes buruh, intervensi negara, dan negosiasi antara modal dan tenaga kerja bisa melahirkan format kolaboratif yang berorientasi pada pertumbuhan (Kalb, 2024). Resiliensi ekonomi Iran, dengan kata lain, bukan sekadar hasil kepandaian teknokratis menyiasati pasar gelap, melainkan hasil dari pergulatan politik yang aktif memformulasikan ulang hubungan antara negara, modal, dan buruh di tengah krisis.

Pelajaran filosofisnya jelas, krisis tidak dengan sendirinya menentukan nasib sebuah bangsa. Yang menentukan adalah bagaimana krisis itu direspons secara politik. Iran mengajarkan bahwa tekanan eksternal, alih-alih menjadi vonis mati, dapat menjadi ruang pembelajaran kolektif untuk merumuskan kembali kontrak sosial yang lebih tangguh.

Ketangguhan Geopolitik: Geografi sebagai Guru Strategi

Iran menempati posisi geografis yang oleh para ahli geopolitik disebut sebagai anugerah sekaligus kutukan, berbatasan dengan kawasan-kawasan yang penuh gejolak, namun sekaligus memiliki kedalaman strategis berupa pegunungan, dataran tinggi, dan garis pantai panjang di Selat Hormuz yang menjadikannya sulit ditaklukkan secara total. Sejak pasca-revolusi, elite Iran secara konsisten memilih postur defensif ketimbang ekspansionis prioritas utama diberikan pada kelangsungan hidup rezim dan keutuhan wilayah, bukan pada ambisi mengekspor revolusi ke negara lain. 

Analisis geopolitik mutakhir bahkan menegaskan bahwa geografi Iran menyediakan "struktur ketangguhan" yang membuatnya sulit ditundukkan, meskipun transformasi teknologi peperangan modern membuka kemungkinan eskalasi yang cepat dan meluas. Iran berdiri di titik temu antara stabilitas ruang geografis dan akselerasi waktu strategis, sebuah posisi yang menuntut kalkulasi jangka panjang, bukan reaksi emosional sesaat.

Di sinilah letak pelajaran filosofis kedua ketangguhan geopolitik Iran bukan hasil kebetulan geografis semata, melainkan hasil dari kesabaran strategis, yaitu kesediaan untuk berpikir dalam rentang dekade, bukan dalam rentang siklus pemberitaan harian. Bangsa yang tangguh adalah bangsa yang mampu menahan godaan untuk bereaksi berlebihan terhadap provokasi jangka pendek demi menjaga kepentingan jangka panjang.

Ketangguhan Keagamaan: Antara Teks Suci dan Akal yang Merdeka

Dimensi keagamaan Iran tidak bisa direduksi menjadi sekadar "teokrasi yang kaku". Sosok seperti Ali Syariati justru menunjukkan bagaimana Islam Syi’ah dapat diartikulasi menjadi bahasa perlawanan modern yang memadukan eksistensialisme, kritik terhadap ketimpangan kelas, dan semangat revolusioner, sehingga menjadi kekuatan ideologis yang menggerakkan generasi muda Iran menjelang 1979. Warisannya terus ditafsir ulang oleh generasi "neo-Syariati" yang berupaya membongkar dikotomi palsu antara Islam dan modernitas, sekaligus mengkritik cara pandang Eurosentris yang menempatkan pemikiran Iran sebagai sekadar objek, bukan subjek, dalam wacana global.

Pada saat yang sama, tokoh seperti Ayatullah Murtaza Muthahhari memperlihatkan sisi lain dari ketangguhan keagamaan Iran, yaitu kemampuan menjembatani jurisprudensi klasik dengan persoalan ekonomi dan sosial kontemporer. Bahkan dalam ranah etika perang dan damai, sejumlah intelektual Iran, mulai dari sarjana, aktivis politik, penyair, musisi, hingga sutradara film, secara aktif menantang monopoli tradisional fikih dalam menentukan legitimasi perang dan perdamaian, mendorong lahirnya wacana etika dan moral yang lebih reflektif dan sensitif terhadap zaman.

Di sinilah letak makna filosofis paling dalam dari ketangguhan keagamaan Iran, agama di sana tidak dibiarkan menjadi dogma yang beku, melainkan terus-menerus digugat, ditafsir ulang, dan diperdebatkan dari dalam. Sejumlah pengamat bahkan menilai bahwa kegagalan banyak analisis Barat dalam membaca Iran justru berakar dari pengabaian terhadap tradisi kultural, literer, dan gerakan keadilan sosial semacam ini, karena Washington cenderung membaca Iran hanya lewat tiga lensa sempit sanksi, operasi intelijen, dan ancaman militer. 

Relevansi bagi Indonesia: Pelajaran dari Bangsa yang Dikepung

Bagi Indonesia, pengalaman Iran menawarkan cermin yang tidak nyaman namun perlu. Sebagai bangsa yang juga kerap direndahkan kapasitas intelektualnya di panggung global, Indonesia dapat belajar bahwa ketangguhan sejati tidak datang dari peniruan buta terhadap standar kekuatan yang ditetapkan pihak lain, melainkan dari kepercayaan diri untuk mengembangkan jalan pemikiran, ekonomi, dan spiritualitasnya sendiri. Tradisi pesantren, misalnya, memiliki struktur yang tidak jauh berbeda dari hauzah (seminari) di Qom. Keduanya menjadi ruang produksi wacana keagamaan yang hidup, kritis, dan kadang menjadi basis mobilisasi politik.

Pelajaran kedua adalah pentingnya membangun kedaulatan naratif. Selama ini, Indonesia sering menerima begitu saja kerangka analisis yang dibuat oleh pusat-pusat kajian Barat mengenai negara-negara Muslim, termasuk Iran, tanpa mempertanyakan asumsi di baliknya. Padahal, sebagaimana ditunjukkan oleh kritik terhadap Eurosentrisme dalam kajian pemikiran Iran banyak analisis semacam itu justru mereproduksi biner usang antara "universalisme Barat" dan "partikularisme Timur" yang menyesatkan. Indonesia perlu keberanian serupa untuk membangun kerangka analisisnya sendiri tentang dunia, termasuk tentang dirinya sendiri.

Ketiga, pengalaman Iran mengajarkan bahwa tekanan ekonomi global, termasuk sanksi atau ketergantungan pada rantai pasok asing, dapat direspons secara kreatif melalui reorganisasi politik-ekonomi domestik, bukan semata melalui kepatuhan pasif pada tatanan global yang timpang.

Jadi pada intinya tulisan ini berupaya menunjukkan bahwa ketangguhan Iran, baik dalam ranah politik-ekonomi, geopolitik, intelektual, maupun keagamaan, bukanlah mitos propaganda, melainkan pola yang dapat dijelaskan secara analitis resiliensi sebagai hasil perjuangan politik yang aktif, geografi sebagai basis kesabaran strategis. Keempat ranah ini saling menopang dan menjelaskan mengapa ramalan keruntuhan Iran yang diulang selama empat dekade tidak pernah benar-benar terwujud.

Namun kejujuran intelektual menuntut kita untuk tidak berhenti pada pemujaan. Ketangguhan sebuah sistem tidak identik dengan kebaikan moralnya. Sejumlah sarjana mengingatkan bahwa resiliensi rezim Iran juga ditopang oleh represi terhadap oposisi, pembatasan kebebasan sipil, dan beban ekonomi yang secara tidak proporsional ditanggung oleh kelompok rentan sementara elite relatif terlindungi. Gelombang protes seperti gerakan "Perempuan, Kehidupan, Kebebasan" pada 2022 juga menunjukkan bahwa di balik citra ketangguhan itu, terdapat pergulatan internal yang nyata mengenai hak-hak sipil, kebebasan berekspresi, dan masa depan sistem itu sendiri. Mengakui ketangguhan Iran, dengan demikian, bukan berarti menutup mata dari kritik terhadap otoritarianisme, pelanggaran hak asasi manusia, atau kesenjangan sosial yang menyertainya. Justru dari sanalah pelajaran filosofis yang paling jujur bisa dipetik sebuah bangsa dapat tangguh secara struktural sekaligus menyimpan luka dan pertanyaan besar yang belum terjawab di dalam dirinya sendiri.

Implikasi praktisnya bagi kita di Indonesia adalah perlunya sikap yang lebih matang dalam membaca politik global, yaitu sikap yang mampu melihat kompleksitas tanpa jatuh ke dalam pemujaan buta maupun prasangka murahan. Ketangguhan, pada akhirnya, adalah kapasitas untuk terus mempertanyakan diri sendiri sembari tetap berdiri tegak di tengah tekanan, dan itulah pelajaran filosofis paling berharga yang bisa ditawarkan oleh pengalaman panjang Iran kepada dunia.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Ancaman LGBT terhadap Fitrah dan Keberlangsungan Peradaban Manusia Oleh: dr. Wiwik Rahayu, M.Kes., ....

Suara Muhammadiyah

12 June 2026

Wawasan

Menjaga Akad di Era Digital: Smart Contract dan Keadilan Muamalah Oleh: Rusydi Umar, Kaprodi S2 Inf....

Suara Muhammadiyah

3 January 2026

Wawasan

Dampak Kesehatan Kesejahteraan Guru Oleh: Nabil Syuja Faozan, Mahasiswa Program Profesi Dokter Univ....

Suara Muhammadiyah

21 October 2025

Wawasan

Inspirasi dari Peluru di Dada KH Nawawi Oleh: Babay Parid Wazdi, Kader Muhammadiyah, Aktifis IPM 19....

Suara Muhammadiyah

19 January 2026

Wawasan

IMM: Kedekatan dengan Penguasa dan Makna Diaspora Kader Oleh: Mansurni Abadi, Mantan Pengurus RPK I....

Suara Muhammadiyah

28 June 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah