Iri Hati Dalam Perspektif Islam dan Kedokteran Modern
Oleh: dr. Alfan Erzi’, M.MRS, Dokter di RSU Muhammadiyah Bandung - Tulungagung
Pernahkah Anda merasa sesak di dada ketika mengetahui tetangga baru saja membeli mobil baru, teman lama berhasil membangun usaha, atau rekan kerja memperoleh promosi jabatan yang selama ini Anda impikan?
Perasaan itu sering muncul tanpa diundang. Kita mungkin tidak menginginkannya, tetapi sulit menyangkal keberadaannya. Ada rasa tidak nyaman, gelisah, bahkan kecewa yang muncul ketika melihat orang lain lebih berhasil.
Mengapa keberhasilan orang lain bisa terasa begitu mengusik?
Dalam psikologi, perasaan tersebut dikenal sebagai envy atau iri hati. Dalam Islam, ia disebut hasad. Selama ini hasad sering dipandang sekadar sebagai penyakit hati. Namun, ilmu kedokteran modern menunjukkan bahwa iri hati bukan hanya persoalan moral, melainkan juga melibatkan perubahan nyata pada cara kerja otak dan tubuh.
Ketika Otak Menganggap Keberhasilan Orang Lain sebagai Ancaman
Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Secara alami kita sering membandingkan diri dengan orang lain, terutama mereka yang dianggap lebih sukses. Psikologi menyebutnya sebagai upward social comparison.
Penelitian menggunakan teknologi pencitraan otak (functional MRI atau fMRI) menunjukkan sesuatu yang menarik. Saat seseorang merasakan iri, bagian otak yang disebut dorsal anterior cingulate cortex (dACC) menjadi sangat aktif. Area ini bukan hanya berperan dalam mengolah emosi, tetapi juga merupakan salah satu pusat pemrosesan rasa sakit.
Artinya, secara biologis, rasa iri memang dapat "terasa sakit". Otak memprosesnya hampir seperti ketika tubuh mengalami nyeri fisik.
Di sisi lain, aktivitas ventral striatum, yaitu pusat penghargaan dan rasa senang di otak, justru menurun. Akibatnya, kita menjadi lebih sulit menikmati apa yang sebenarnya sudah dimiliki. Bahkan, dalam kondisi tertentu, sebagian orang justru merasakan kepuasan ketika orang yang mereka iri mengalami kegagalan. Fenomena ini dikenal sebagai schadenfreude, yaitu rasa puas atas kemalangan orang lain.
Iri Tidak Hanya Mengganggu Pikiran, tetapi Juga Tubuh
Jika rasa iri terus dipelihara, tubuh akan menganggapnya sebagai stres yang berkepanjangan. Saat itu terjadi, sistem pengatur stres dalam tubuh, yaitu sumbu Hypothalamic-Pituitary-Adrenal (HPA), bekerja terus-menerus. Akibatnya, hormon stres seperti kortisol dan adrenalin meningkat.
Dalam jangka panjang kondisi ini dapat menyebabkan tekanan darah meningkat, daya tahan tubuh menurun, kualitas tidur memburuk, serta meningkatkan risiko gangguan kecemasan maupun depresi.
Tidak hanya itu, produksi serotonin—zat kimia yang membantu menjaga suasana hati—ikut menurun. Sementara sistem penghargaan di otak menjadi kurang peka sehingga seseorang semakin sulit merasa puas atas nikmat yang telah dimilikinya.
Dengan kata lain, iri hati perlahan-lahan merampas ketenangan batin sekaligus kesehatan fisik.
Islam Telah Mengingatkan Jauh Sebelum Neurosains Berkembang
Menariknya, apa yang kini dibuktikan oleh ilmu pengetahuan telah lama dijelaskan dalam ajaran Islam.
Allah SWT berfirman,
"Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki."
(QS. Al-Falaq: 5)
Ayat ini menunjukkan bahwa hasad bukan sekadar emosi biasa, tetapi memiliki dampak yang merusak, baik bagi orang lain maupun bagi pelakunya sendiri.
Rasulullah ﷺ juga bersabda,
"Jauhilah hasad, karena hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar."
(HR. Abu Dawud)
Namun Islam juga membedakan antara hasad dan ghibthah. Hasad adalah merasa tidak senang atas nikmat yang dimiliki orang lain disertai keinginan agar nikmat itu hilang. Sebaliknya, ghibthah adalah keinginan memiliki keberhasilan yang sama tanpa berharap orang lain kehilangan nikmatnya. Dalam istilah psikologi modern, ghibthah lebih dekat dengan motivasi positif atau healthy emulation. Keberhasilan orang lain dijadikan inspirasi, bukan ancaman.
Bagaimana Menyembuhkan Rasa Iri?
Kabar baiknya, otak memiliki kemampuan beradaptasi atau neuroplastisitas. Pola pikir dan respons emosional dapat diubah melalui latihan yang konsisten. Beberapa langkah berikut didukung oleh penelitian psikologi sekaligus sejalan dengan ajaran Islam.
Pertama, membiasakan bersyukur.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa menuliskan beberapa hal yang disyukuri setiap hari dapat meningkatkan produksi dopamin dan serotonin sehingga suasana hati menjadi lebih baik. Islam telah lama mengajarkan prinsip ini melalui firman Allah,
"Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu."
(QS. Ibrahim: 7)
Syukur mengalihkan perhatian dari apa yang dimiliki orang lain kepada nikmat yang telah Allah berikan kepada diri sendiri.
Kedua, membatasi perbandingan yang tidak sehat.
Media sosial sering kali hanya menampilkan sisi terbaik kehidupan seseorang. Ketika kita terus-menerus melihat pencapaian orang lain, otak lebih mudah terjebak dalam perbandingan yang tidak realistis.
Karena itu, mengurangi paparan media sosial atau menggunakannya secara lebih bijak dapat membantu menurunkan stres dan menjaga kesehatan mental.
Rasulullah ﷺ memberikan prinsip yang sangat relevan,
"Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat kepada orang yang berada di atas kalian, karena itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah."
(HR. Muslim)
Ketiga, melatih diri mendoakan orang lain.
Mungkin ini terasa sulit pada awalnya. Namun justru di sinilah letak terapinya.
Ketika rasa iri muncul, cobalah mendoakan agar orang tersebut semakin diberi keberkahan. Dalam psikologi, tindakan ini membantu memutus pola pikir negatif. Dalam Islam, amalan ini bahkan mendapat balasan yang luar biasa.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa ketika seseorang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuannya, malaikat akan berkata, "Aamiin, dan bagimu juga seperti itu." (HR. Muslim).
Semakin sering dilakukan, hati akan semakin ringan dan rasa iri perlahan kehilangan kekuatannya.
Mengubah Hasad Menjadi Energi untuk Bertumbuh
Iri hati bukanlah takdir yang harus dipelihara. Ia adalah sinyal bahwa hati dan pikiran membutuhkan perawatan. Saat melihat keberhasilan orang lain, kita sebenarnya memiliki dua pilihan. Membiarkan hasad menguras kesehatan dan kebahagiaan, atau mengubahnya menjadi ghibthah—motivasi untuk memperbaiki diri.
Keberhasilan orang lain tidak pernah mengurangi jatah rezeki kita. Sebaliknya, ia menjadi bukti bahwa Allah SWT Maha Luas karunia-Nya dan pintu-pintu rezeki selalu terbuka bagi siapa pun yang berusaha serta bertawakal.
Pada akhirnya, kemenangan terbesar bukanlah ketika kita mampu mengalahkan orang lain, melainkan ketika kita berhasil mengalahkan rasa iri di dalam diri sendiri. Sebab, hati yang dipenuhi syukur akan selalu lebih damai daripada hati yang terus sibuk menghitung nikmat milik orang lain.

