Muktamar XVI: Menjemput Era Baru Tapak Suci di PTM

Suara Muhammadiyah

2 July 2026

80
Ketua Umum PP Tapak Suci Seleksi Langsung Penerima Beasiswa UMY

Ketua Umum PP Tapak Suci Seleksi Langsung Penerima Beasiswa UMY

Muktamar XVI: Menjemput Era Baru Tapak Suci di PTM

Oleh: Yudha Kurniawan (Ketua Pimda 02 Tapak Suci Bantul, bekerja di BPMP DIY)

Selama puluhan tahun, hubungan Tapak Suci Putera Muhammadiyah dengan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) berjalan dalam pola yang hampir seragam. Hampir setiap kampus Muhammadiyah memiliki Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tapak Suci sebagai wadah pembinaan minat dan bakat mahasiswa di bidang pencak silat.

Keberadaan UKM tentu patut disyukuri. Dari gelanggang kampus inilah lahir banyak atlet, pelatih, pendekar, bahkan pimpinan Tapak Suci di berbagai daerah. Namun menjelang Muktamar XVI Tapak Suci di Universitas Muhammadiyah Semarang, muncul sebuah pertanyaan yang layak direnungkan.

Apakah hubungan Tapak Suci dengan PTM cukup berhenti sebagai penyelenggara kegiatan kemahasiswaan? Menurut saya, jawabannya adalah belum cukup.

Tapak Suci memiliki peluang yang jauh lebih besar untuk berkembang bersama Perguruan Tinggi Muhammadiyah. PTM tidak hanya memiliki mahasiswa, tetapi juga dosen, laboratorium, pusat penelitian, rumah sakit pendidikan, fakultas olahraga, fakultas kedokteran, jejaring internasional, hingga sistem manajemen akademik yang mapan. 

Seluruh potensi tersebut sesungguhnya dapat menjadi energi baru bagi pengembangan Tapak Suci sebagai organisasi modern. Di sinilah menarik mencermati praktik yang dilakukan Pendekar Rony Syaifulloh.

Sebagai dosen FIKOR UNS, mantan atlet juara dunia pencak silat, sekaligus pelatih kepala tim nasional Indonesia, Rony memahami bahwa masa depan pembinaan olahraga tidak dapat dipisahkan dari dunia akademik. Pengalaman panjangnya membentuk cara pandang yang lebih strategis terhadap pengembangan perguruan.

Alih-alih hanya memastikan UKM Tapak Suci tetap aktif, ia melihat peluang yang lebih besar di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Ketika UMS membuka Program Studi Pendidikan Jasmani, Rony ikut mendorong agar program studi baru tersebut memiliki daya tarik dan kualitas sejak awal. 

Ia bahkan mengajak atlet-atlet pencak silat berprestasi yang sebelumnya kuliah di Universitas Sebelas Maret untuk melanjutkan studi di UMS. Langkah tersebut bukan sekadar memindahkan mahasiswa. Yang sedang dibangun adalah sebuah ekosistem.

Mahasiswa atlet memperkuat atmosfer akademik sekaligus prestasi olahraga. Program studi memperoleh reputasi. Kampus mendapatkan identitas baru di bidang olahraga. 

Tapak Suci memperoleh basis kader intelektual sekaligus atletik. Kini, UMS berkembang menjadi salah satu pusat pembinaan Tapak Suci yang diperhitungkan, bahkan kepemimpinan akademiknya di bidang pendidikan jasmani juga tumbuh dari kader yang dibina dalam ekosistem tersebut.

Praktik baik ini memperlihatkan bahwa hubungan Tapak Suci dengan PTM dapat melampaui model UKM. Hubungan itu dapat berkembang menjadi kemitraan strategis yang saling menguatkan. Inilah gagasan yang menurut saya layak menjadi perhatian Muktamar XVI.

Tapak Suci memiliki jaringan organisasi yang tersebar di seluruh Indonesia. Di sisi lain, Muhammadiyah juga memiliki jaringan PTM yang luas dengan keragaman disiplin ilmu dan fasilitas yang terus berkembang. Kedua kekuatan besar ini semestinya tidak berjalan sendiri-sendiri.

Sudah saatnya Pimpinan Pusat Tapak Suci hasil Muktamar XVI membangun pola kolaborasi yang lebih sistematis dengan Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan PP Muhammadiyah serta seluruh PTM. Kolaborasi tersebut tidak cukup berhenti pada pembinaan UKM, tetapi diarahkan menjadi kerja sama kelembagaan yang berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan, prestasi, kaderisasi, dan inovasi.

Peluang itu sesungguhnya sangat luas. Program studi pendidikan jasmani dapat menjadi laboratorium pembinaan atlet dan pelatih Tapak Suci. Fakultas psikologi dapat mengembangkan kajian mengenai psikologi olahraga dan pembinaan mental atlet.

Fakultas teknik dapat berkontribusi melalui pengembangan teknologi latihan dan analisis performa. Program studi ilmu gizi dapat mendukung pengelolaan nutrisi atlet.

Bahkan berkembangnya fakultas kedokteran di berbagai PTM membuka peluang yang lebih besar lagi. Selama ini kedokteran olahraga masih menjadi bidang yang belum banyak dikembangkan secara khusus. Padahal Tapak Suci memiliki ribuan atlet dan pelatih yang setiap hari bergelut dengan persoalan cedera, rehabilitasi, kebugaran, serta peningkatan performa. 

Kolaborasi antara Tapak Suci dan fakultas kedokteran PTM dapat melahirkan pusat-pusat kajian kedokteran olahraga yang bukan hanya bermanfaat bagi perguruan, tetapi juga bagi dunia olahraga Indonesia secara lebih luas.

Di sinilah terlihat bahwa Tapak Suci sesungguhnya tidak kekurangan sumber daya. Yang diperlukan adalah perubahan cara pandang.

PTM jangan lagi diposisikan semata-mata sebagai tempat berlatih mahasiswa. Sebaliknya, PTM harus dipandang sebagai mitra strategis untuk membangun keunggulan organisasi secara berkelanjutan. 

Kampus menyediakan ekosistem akademik, sedangkan Tapak Suci menghadirkan pengalaman empirik yang kaya dalam pembinaan olahraga, kaderisasi, dan dakwah kultural. Ketika keduanya dipertemukan, lahirlah sinergi yang saling menguatkan.

Muktamar XVI yang berlangsung di kampus Universitas Muhammadiyah Semarang menjadi simbol yang sangat tepat untuk memulai langkah tersebut. Pertemuan akbar keluarga besar Tapak Suci tidak hanya menghasilkan kepemimpinan baru, tetapi diharapkan juga melahirkan cara berpikir baru dalam membangun perguruan.

Jika selama ini Tapak Suci dikenal sebagai perguruan pencak silat yang kuat di gelanggang pertandingan, maka ke depan sudah saatnya ia juga menjadi perguruan yang kuat di ruang-ruang akademik.

Sebab masa depan organisasi modern tidak hanya dibangun oleh para juara di arena, tetapi juga oleh jejaring ilmu pengetahuan, riset, inovasi, dan kolaborasi yang tumbuh subur di lingkungan perguruan tinggi.

Harapan untuk Pengurus Baru

Praktik yang berkembang di Universitas Muhammadiyah Surakarta memperlihatkan model pengembangan Tapak Suci yang layak direplikasi di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Selanjutnya Pimpinan Pusat Tapak Suci hasil Muktamar XVI perlu menginisiasi Program Kemitraan Strategis Tapak Suci dan Perguruan Tinggi Muhammadiyah bersama Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan PP Muhammadiyah.

Muhammadiyah memiliki lebih dari seratus Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan 'Aisyiyah (PTMA). Tidak ada organisasi pencak silat lain yang memiliki ekosistem pendidikan tinggi sebesar ini. Keunggulan komparatif tersebut semestinya menjadi modal strategis untuk melahirkan pusat-pusat keunggulan (centers of excellence) Tapak Suci di berbagai bidang.

PTM dengan berbagai prodinya dapat menjadi pusat pengembangan sport science, sport medicine, psikologi olahraga, artificial intelligence untuk analisis pertandingan, nutrisi atlet, fisioterapi olahraga, manajemen event olahraga, diplomasi olahraga, dakwah kultural internasional. Tapak Suci perlu dilihat bukan sekedar perguruan silat, tetapi objek pengembangan ilmu pengetahuan.

Muktamar XVI berlangsung di lingkungan Universitas Muhammadiyah Semarang. Tempat penyelenggaraannya sendiri sesungguhnya telah menyampaikan pesan yang sangat kuat. Kampus bukan hanya lokasi Muktamar, melainkan simbol arah baru pengembangan Tapak Suci. 

Jika selama enam dasawarsa pertama Tapak Suci membangun kekuatan melalui gelanggang, maka enam dasawarsa berikutnya harus dibangun melalui sinergi antara gelanggang, laboratorium, ruang kuliah, pusat riset, rumah sakit pendidikan, dan jejaring internasional Perguruan Tinggi Muhammadiyah. 

Dari sinilah para anggota berharap, Muktamar XVI melahirkan bukan hanya kepemimpinan baru, tetapi juga cara berpikir baru tentang masa depan Tapak Suci.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Ikhtiar Awal Menuju Keluarga Sakinah (24)  Oleh: Mohammad Fakhrudin (warga Muhammadiyah tingga....

Suara Muhammadiyah

16 February 2024

Wawasan

Oleh: dr H Agus Taufiqurrahman, SpS., MKes Sejak Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Surakarta, Jawa Ten....

Suara Muhammadiyah

26 January 2026

Wawasan

Oleh: Nur Ngazizah Dosen UM Purworejo Frugal living adalah praktik gaya hidup hemat yang bertujuan ....

Suara Muhammadiyah

13 November 2024

Wawasan

Oleh: Gunawan Trihantoro. Sekretaris Forum Kreator Era AI (FKEAI) Provinsi Jawa Tengah dan AMM ....

Suara Muhammadiyah

11 November 2024

Wawasan

Menjaga Kepribadian Muhammadiyah di Era Perubahan Oleh: Rusydi Umar, S.T. M.T., Ph.D., Anggota MPI ....

Suara Muhammadiyah

3 February 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah