Irwan Akib: Kepala Madrasah Muhammadiyah Harus Tangguh dan Berani Berubah

Suara Muhammadiyah

17 October 2026

167
Dok Istimewa

Dok Istimewa

KARANGANYAR, Suara Muhammadiyah – Kepala madrasah Muhammadiyah dituntut tidak sekadar menjalankan tugas administratif, tetapi juga menjadi penggerak perubahan yang mampu membawa lembaga pendidikan semakin unggul, berkemajuan, dan berwawasan global. Keberanian berinovasi, visi jangka panjang, dan budaya mutu menjadi kunci untuk menghadapi tantangan pendidikan yang terus berkembang.

Pesan tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Irwan Akib, dalam pembukaan Pendidikan Khusus Kepala Madrasah (Diksuskamad) Muhammadiyah Region Jawa Tengah ke-2 di Karanganyar, 15–18 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas kepemimpinan kepala madrasah Muhammadiyah agar mampu melakukan pembaruan dan meningkatkan kualitas pendidikan.

Irwan mengingatkan agar kepala madrasah tidak merasa rendah diri ketika membandingkan lembaganya dengan sekolah umum. Menurut dia, madrasah di sejumlah daerah justru mampu menunjukkan keunggulan, sehingga tidak ada alasan bagi pengelolanya untuk merasa inferior.

“Jangan sampai muncul perasaan minder hanya karena kita memimpin madrasah, bukan sekolah. Kalau perasaan itu terus dipelihara, jangan berharap akan ada perubahan,” tegasnya.

Ia menegaskan, sekolah dan madrasah sama-sama memiliki tanggung jawab mencerdaskan kehidupan bangsa. Perbedaan kementerian yang menaungi keduanya tidak seharusnya menjadi penghalang untuk bersama-sama meningkatkan mutu pendidikan.

Irwan mengibaratkan kepala madrasah sebagai nakhoda kapal pinisi yang harus mampu membaca situasi, memahami perubahan kondisi, dan menentukan arah perjalanan. Kepala madrasah tidak cukup sekadar mengikuti rutinitas, tetapi harus mampu menyesuaikan strategi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam dan identitas pendidikan Muhammadiyah.

Selain adaptif, kepala madrasah harus memiliki visi jauh ke depan. Irwan mencontohkan perkembangan perguruan tinggi Muhammadiyah yang tumbuh menjadi institusi besar melalui keberanian para pemimpinnya mengambil keputusan strategis, meskipun kondisi awalnya belum menjanjikan.

Menurut dia, keterbatasan fasilitas, lokasi yang kurang strategis, maupun sumber daya yang belum memadai tidak boleh menjadi alasan untuk menyerah. Dengan visi, keberanian, dan kerja keras, keterbatasan justru dapat diubah menjadi peluang.
Ia juga menekankan bahwa madrasah harus mampu mengembangkan potensi setiap peserta didik. Keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kualitas siswa ketika pertama kali masuk, tetapi juga oleh kemampuan lembaga membimbing mereka menjadi pribadi yang unggul.

“Tugas kita adalah bagaimana mengubah anak-anak yang semula seperti pasir menjadi mutiara. Prosesnya memang tidak mudah, tetapi bisa dilakukan kalau kita memiliki semangat untuk itu,” ujarnya.

Irwan membagikan pengalaman membangun sekolah dari kondisi awal yang serba terbatas. Ketika diminta merancang pendirian sekolah, ia belum memiliki gedung, tenaga pengajar, maupun modal yang memadai. Namun, proses tetap dimulai dengan membuka pendaftaran, merekrut guru, dan memanfaatkan ruang yang dapat dipinjam. Sekolah tersebut kemudian berkembang dan melahirkan alumni yang melanjutkan pendidikan hingga ke luar negeri.

“Hilangkan keluhan, hadirkan ketulusan. Ketulusan harus disertai kerja nyata,” pesannya.

Perubahan Harus Ditindaklanjuti

Sejalan dengan arahan PP Muhammadiyah, Wakil Ketua Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) PP Muhammadiyah, Dr. Iwan Junaedi, M.Pd., mendorong kepala madrasah agar berani melakukan perubahan nyata setelah mengikuti pendidikan dan pelatihan.

Iwan, yang juga menjabat Direktur Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, dan Tenaga Kependidikan pada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta Ketua Majelis Dikdasmen PW Muhammadiyah Jawa Tengah, mengingatkan agar Diksuskamad tidak berhenti sebagai kegiatan pelatihan tanpa dampak terhadap peningkatan mutu madrasah.

“Para kepala madrasah Muhammadiyah harus berani melakukan perubahan untuk madrasahnya, sekalipun kecil, tetapi berdampak pada mutu madrasah. Itulah makna tajdid, makna inovasi yang sering dikumandangkan oleh Menteri Dikdasmen selama ini,” kata Iwan.

Ia meminta para peserta menyiapkan perencanaan perubahan secara baik, terukur, dan realistis. Dengan perencanaan tersebut, perubahan yang dilakukan dapat dipersiapkan dengan matang serta dirasakan manfaatnya oleh warga madrasah.

Iwan secara khusus menekankan pentingnya menyusun rencana tindak lanjut setelah kegiatan berakhir. Para kepala madrasah perlu menentukan prioritas program yang dapat segera dikerjakan, terutama untuk meningkatkan mutu pendidikan pada 2026.
“Setelah Diksuskamad ini harus segera melakukan rencana tindak lanjut dari yang sudah disiapkan di Diksuskamad ini. Apa yang menjadi prioritas di tahun 2026 ini sehingga kemudian dapat menjadikan madrasah Muhammadiyah kita unggul dan berkemajuan,” ujarnya.

Ia menegaskan, Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah akan terus mendampingi kepala sekolah dan madrasah dalam proses transformasi pendidikan. “Majelis Dikdasmen akan terus membersamai semua kepala sekolah dan madrasah agar menjadi satuan pendidikan yang unggul dan berdaya saing,” tambahnya.

Kepala Madrasah Harus Kompeten dan Menjadi Teladan

Sementara itu, Ketua Tim Kerja Tenaga Kependidikan Bidang Pendidikan Madrasah Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, Muhammad Asyik, mengapresiasi penyelenggaraan Diksuskamad Muhammadiyah. Ia menilai kegiatan tersebut penting untuk memperkuat kapasitas kepala madrasah dalam mengelola lembaga pendidikan.

Asyik menyampaikan, Jawa Tengah memiliki 11.985 madrasah, dengan 308 di antaranya berstatus negeri. Dengan demikian, sebagian besar madrasah dikelola masyarakat. Ia juga menyebut jumlah madrasah yang berafiliasi dengan Muhammadiyah di Jawa Tengah mencapai sekitar 1.650 unit.

Data tersebut, menurutnya, menunjukkan besarnya peran masyarakat dan Muhammadiyah dalam menyediakan layanan pendidikan. Tanggung jawab memajukan pendidikan tidak hanya berada di tangan pemerintah, tetapi juga organisasi dan masyarakat yang menyelenggarakan lembaga pendidikan.

Asyik menegaskan, maju mundurnya madrasah sangat bergantung pada kepemimpinan kepala madrasah. Selain memimpin, kepala madrasah bertanggung jawab mengelola sumber daya manusia, fasilitas, sarana-prasarana, dan keuangan agar seluruh potensi lembaga dapat dimanfaatkan secara optimal.

Ia menyampaikan tiga kunci kepemimpinan, yakni kompetensi dan kualifikasi, keteladanan, serta komitmen.

Kompetensi dan kualifikasi mengharuskan kepala madrasah terus belajar serta meningkatkan kemampuan profesional dan akademiknya. Keteladanan berarti pemimpin harus menjadi contoh nyata bagi guru, tenaga kependidikan, dan peserta didik, bukan sekadar memberikan instruksi. Adapun komitmen berarti kesungguhan membawa madrasah semakin baik dan melahirkan lulusan yang cerdas sekaligus berakhlakul karimah.

Asyik juga menekankan pentingnya mewujudkan madrasah yang unggul, ramah, dan terintegrasi. Unggul berarti berprestasi dalam bidang akademik maupun nonakademik. Ramah berarti menyediakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman. Sementara terintegrasi berarti memadukan penguasaan ilmu pengetahuan dengan pembentukan karakter dan akhlak mulia.

“Masyarakat memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap madrasah. Jangan sia-siakan kepercayaan tersebut. Kita harus mampu melahirkan anak-anak yang cerdas dan memiliki nilai-nilai karakter serta akhlakul karimah,” pesannya.

Ia meminta para kepala madrasah menjaga marwah lembaga dan memanfaatkan hasil Diksuskamad untuk memperbaiki pengelolaan pendidikan di tempat masing-masing.

Ketiga narasumber tersebut menegaskan bahwa kemajuan madrasah membutuhkan kepemimpinan yang berani melakukan pembaruan, kompeten dalam mengelola sumber daya, dan konsisten memberikan keteladanan. Keberhasilan Diksuskamad pada akhirnya tidak hanya diukur dari terlaksananya pelatihan, tetapi dari perubahan nyata yang dilakukan para kepala madrasah untuk meningkatkan mutu pendidikan dan menjawab kepercayaan masyarakat. (Agus Sholeh)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

LAMTIM, Suara Muhammadiyah - MI Muhammadiyah Pekalongan Kabupaten Lampung Timur sedang menyelen....

Suara Muhammadiyah

3 October 2024

Berita

SALATIGA, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) kembali melakukan pe....

Suara Muhammadiyah

26 September 2025

Berita

LLHPB PP Aisyiyah Kolaborasi dengan Lazismu PP Muhammadiyah DEMAK, Suara Muhammadiyah - Lembaga Lin....

Suara Muhammadiyah

13 May 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - SD Muhammadiyah Sapen kembali berjaya dengan mengukir prestasi....

Suara Muhammadiyah

10 April 2026

Berita

SORONG, Suara Muhammadiyah - Menjelang pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang akan diselengga....

Suara Muhammadiyah

3 October 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah