YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Membicarakan sub-topik lingkungan, menjadi bagian fundamental dalam kehidupan. Lebih-lebih, terpotret kondisi lingkungan saat ini, amat menyesakan dada. Demikian disampaikan Ruslan Fariadi AM.
Karenanya, sensitivitas terhadap lingkungan mesti dihidupkan kembali. "Alam harus diperlakukan dengan baik dan bermartabat sebagaimana Allah yang lain," tekannya dalam Pengajian Ramadhan 1447 Pimpinan Pusat 'Aisyiyah, Sabtu (28/2) di Aula Kantor PP 'Aisyiyah Yogyakarta.
Karena itu, lewat teologi lingkungan, Muhammadiyah menekankan pentingnya menjaga keseimbangan alam.
Yang demikian itu, berkelindan dengan ajaran agama Islam. Dan sesuai dengan Manhaj Tarjih dengan menggunakan pendekatan bayani, burhani, dan irfani.
"Inti dari teologi ini adalah keniscayaan untuk memperlakukan alam sebagaimana makhluk Tuhan lainnya," terang Ketua Bidang Fatwa dan Pengembangan Tuntunan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah itu.
Dalam pandangan Muhammadiyah, Islam dimaknai sebagai agama yang ramah lingkungan (eco-friendly). Karenanya, Islam dengan tegas melarang kepada umatnya untuk melakukan perusakan lingkungan secara serampangan.
"Pelestarian lingkungan bagian dari konservasi ketauhidan seorang muslim. Dan merupakan manifestasi keimanan," ujarnya.
Tauhid di sini maujudnya berupa tauhid fungsional. Yang menurut Ruslan, pantulannya berupa orang yang bertauhid, tampak kentara dari lakunya terhadap kehidupan sehari-hari, termasuk terhadap alam semesta.
"Apalagi tadi disebutkan bahwa manusia itu diciptakan, diletakkan di bumi ini sebagai Khalifatullah," urai Ruslan.
Menukil Tafsir at-Tanwir, kata Khalifah (Qs Al-Baqarah ayat 30), sebagai wakil Allah. Karena itu maka, segenap umat manusia harus mengelola kehidupan di bumi.
"Manusia harus mengelola kehidupan untuk mewujudkan kebaikan-kebaikan nyata yang dikehendaki Allah," bebernya.
Memang demikianlah dunia diciptakan untuk manusia. Dan di saat yang sama, manusia harus memanfaatkan juga mengelola sebagaimana semestinya.
"Allah memerintahkan umat Islam untuk menjadikan dunia sebagai alam yang harus direngkuh dan diberdayakan untuk kesejahteraan," jelasnya.
Dalam perspektif kebudayaan, ditambahkan Ruslan, mengelola kehidupan untuk mewujudkan kebaikan nyata hanya bisa dilakukan dengan menciptakan dan mengembangkan sistem pengetahuan, sistem sosial, dan sistem artefak.
"Dengan demikian, manusia harus menciptakan dan mengembangkan ketiga sistem ini supaya dia berhasil menjadi wakil Allah di muka bumi," tegasnya.
Karena itu, prinsip universal hal ihwal perlindungan lingkungan, menjadi pedoman dalam mengelola lingkungan. Pertama, keterlibatan publik (musyarakah al-mujtamak). Kedua, penyusunan skala prioritas (tanzim al-awlawiyyat). Ketiga, konservasi (al-muhafazah). Dan, keempat panduan praktis (an-nizham).
"Penyusunan panduan praktis untuk pelestarian lingkungan tidak perlu dimulai dari nol karena aspek teologisnya sudah dijelaskan secara komprehensif," ulasnya. (Cris)

