YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pagi ini, dalam Rakornas Bidang Ekonomi Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang berlangsung di UMM (26/2), seperti mengingatkan kembali pada komitmen Muhammadiyah 10 tahun silam. Saat Muhammadiyah berijtihad untuk melakukan jihad di sektor ekonomi. Tepatnya pada Muktamar ke-47 di Makassar, Muhammadiyah berupaya memperlebar sayap dakwahnya dengan cara membangun kekuatan ekonomi di tengah masyarakat. Dengan kekuatan ekonomi yang baik, menurut Nazaruddin Malik, akan mampu melejitkan dakwah Muhammadiyah abad kedua, menegakkan visi amar makruf nahi mungkar, serta meningkatkan kemaslahatan umat secara merata.
Seolah terilhami oleh dialog Socrates dalam Republic yang ditulis Plato, “Necessity is the mother of invention” yang berarti, kebutuhan adalah pendorong utama bagi sebagian besar penemuan baru. Meminjam Plato, pria yang menjabat sebagai Rektor UMM tersebut mendorong agar Rakornas yang mengusung tema “Membangun Ekosistem Ekonomi Muhammadiyah” dapat menghadirkan pikiran besar dan sekaligus membumi, karena menurutnya, kekuatan ekonomi hanya bisa diperoleh jika manusia terus berupaya secara sungguh-sungguh untuk melakukan penemuan dan inovasi.
“Jangan dulu kita membayangkan untuk menemukan mesin dan teknologi canggih, tapi bagaimana kita dapat menemukan model dan cara baru dalam menggerakkan perekonomian. Berani memulai, berani mengawali dan membangun, dari tidak ada apa-apa menjadi ada. Itulah Muhammadiyah yang sesungguhnya,” ujar Nazar dalam sambutan singkatnya sebagai tuan rumah.
Dunia hari ini saperti bagaimana kita melihat fenomena flying geese (angsa terbang). Berdasarkan arah angin, arah angsa akan ditentukan oleh pemimpin angsa yang berada di depan. Memahami teori ini, Muhammadiyah diharapkan dapat menjadi pemimpin ekonomi umat ke arah yang lebih berkeadaban, berkeadilan, dan berkemakmuran.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan bahwa di hampir semua era, mulai dari zaman Yunani, Romawi, Mesopotamia, Islam, hingga era modern seperti yang berlangsung saat ini, manusia selalu meletakkan sektor ekonomi sebagai kunci utama pembangunan bangsa. Ekonomi memainkan peran yang sejajar dengan ilmu pengetahuan dan kekuatan militer.
Penulis buku Gerakan Islam Berkemajuan itu menambahkan, dalam teori kebudayaan yang melingkupi bahasa, ilmu pengetahuan, teknologi, kesenian, sistem sosial, serta ekonomi yang dapat diterjemahkan sebagai mata pencaharian. menurutnya, jika elemen-elemen tersebut dapat dirancang bangun secara kohesif, ia optimis akan melahirkan peradaban yang tinggi dan menjadi bukti empirik bahwa aspek ekonomi menjadi elemen penting dalam menciptakan kemajuan.
“Jika umat Islam dan bangsa Indonesia ingin menjadi bangsa yang maju, mampu bersaing dengan bangsa lain, ekonomi kita harus berada di depan,” ungkap Haedar.
Negara-negara Eropa Barat dan Amerika telah lama menjadi negara maju berkat dukungan sistem kapitalismen yang lahir dari etika kaum Protestan. Kelompok ini mempercayai bahwa ada kehidupan lain setelah kematian. Agar bisa selamat di kehidupan berikutnya, dalam spirit yang mereka pegang, mereka menekankan pada diri masing-masing untuk senantiasa bersungguh-sungguh dalam mengarungi kehidupan dunia. “Spirit seperti bersungguh-sungguh, hemat, kerja keras, lalu menukar nilai-nilai agama untuk kemajuan hidup agar memperoleh tempat nanti di akhirat, itulah yang melahirkan kapitalisme,” ungkap Haedar di Dome Universitas Muhammadiyah Malang.
“Bisa jadi antara kita ada yang memiliki kritik yang kuat terhadap kapitalisme, dan kita harus memiliki kritik itu,” timpalnya.
Merespon hal ini, Haedar menegaskan bahwa Islam memiliki jalan alternatif untuk meningkatkan performa ekonomi umatnya. Ada beberapa langkah alternatif yang bisa dilakukan. Pertama, mengubah cara pandang (perspektif) dengan cara memperdalam, memperluas, mempertajam serta memproyeksikan paham Islam secara positif, kontruktif, produktif, dan progresif dalam kehidupan dunia.
Dalam sebuah buku berjudul Kapitalisme Religius, sejatinya posisi Islam tidak sepenuhnya anti terhadap kapitalisme. Meski ada beberapa unsur kapitalisme yang tidak sesuai dengan nilai dan ajaran Islam, hal ini menurut Haedar dapat dikecualikan. “Saya pikir perlu ada terobosan di situ agar pandangan keagamaan tidak membuat para pelaku ekonomi di Muhammadiyah penuh dengan kecemasan dan kekhawatiran untuk melangkah, termasuk dalam melakukan hubungan kerja sama dengan berbagai pihak,” ucapnya.
Kedua, nilai dan ajaran Islam mesti teraktualisasi ke dalam sistem dan mentalitas umat Islam. Sebagaimana hal ini senantiasa dicontohkan oleh KH Ahmad Dahlan melalui caranya mengajarkan QS. Al-Ma’un kepada para muridnya. Kisah ini sangat familiar di kalangan warga Muhammadiyah. Yang mana selama berbulan-bulan beliau selalu mengulangi pelajaran yang sama. Sampai-sampai ada murid yang mulai bosan dan bertanya, kenapa sang kiai terus menerus mengulang QS. Al-Ma’an dengan alasan bahwa mereka sudah paham dan hafal maknanya.
Bagi seorang Dahlan, paham dan hafal saja belum cukup. Sebuah nilai dan ajaran juga perlu untuk diaktualisasikan menjadi sebuah sistem terlembaga yang membawa kepada kemaslahatan yang lebih luas. Sehingga pada saat itu lahirlah rumah sakit, sekolah, rumah yatim, perguruan tinggi, dan lain sebagainya melalui sentuhan pemikiran terbuka Kiai Dahlan.
“Tanpa sistem yang terlembaga dan mentalitas yang positif, kita tidak mungkin maju,” ujarnya.
Ketiga, melakukan kerja-kerja kolaborasi. Muhammadiyah tidak bisa bekerja sendirian. Kolaborasi dan kerja sama menjadi sebuah keniscayaan bagi seluruh pelaku ekonomi yang besar dan sukses. (diko)