Islam yang Sempurna, Pemeluk yang Terluka: Mengapa Hidayah Terhalang oleh Perilaku Kita?

Publish

23 January 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
66
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Islam yang Sempurna, Pemeluk yang Terluka: Mengapa Hidayah Terhalang oleh Perilaku Kita?

Penulis: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas

Jika benar Al-Qur'an adalah pancaran wahyu Ilahi dan Islam adalah muara kebenaran, mengapa cahayanya tidak lantas menyilaukan mata setiap insan? Jawabannya, barangkali, tersimpan dalam cermin yang kita pegang sendiri. Kita, sebagai umat Muslim, terkadang tanpa sadar menjadi tirai yang menutupi kebenaran itu. Al-Qur'an adalah intan yang murni, namun tumpukan interpretasi dari masa ke masa terkadang justru menjadi debu yang mengaburkan kilaunya.

Ada tafsir yang menghidupkan jiwa, namun ada pula sisa-sisa pemikiran masa lalu yang—meski diniatkan baik oleh para pendahulu kita—kini terasa ganjil di telinga zaman. Ketika dunia luar melihat Islam melalui kacamata tafsir yang kaku dan ketinggalan zaman tersebut, mereka pun menghakimi sang sumber, jika tafsirnya saja begini, mungkinkah kitabnya benar? Mereka tidak menyadari bahwa yang mereka lihat hanyalah jejak pemikiran manusia di era pra-ilmiah, sebuah upaya mencari makna yang kini terbentur dinding logika modern, padahal Al-Qur'an itu sendiri melampaui batasan ruang dan waktu.

Tanpa disadari, kita telah membangun dinding tebal di sekeliling Al-Qur'an menggunakan tumpukan interpretasi manusia. Alih-alih menjadi jembatan, penafsiran yang kaku dan usang ini justru menjadi kerak yang menutupi kebenaran aslinya. Menariknya, para peneliti modern menemukan sebuah rahasia besar: ketika mereka berani menyingkirkan lapisan-lapisan tafsir sejarah itu dan langsung menatap kemurnian teks aslinya, barulah mereka menemukan keajaiban. Di sanalah Al-Qur'an bersinar dalam keselarasan yang sempurna dengan ilmu pengetahuan modern. Kita perlu menyingkirkan tabir abu-abu itu agar dunia bisa memandang langsung wajah kebenaran tanpa penghalang.

Bayangkan Islam adalah sebuah perjamuan agung di dalam istana yang megah—penuh dengan kedamaian, ilmu, dan cinta. Namun, kita sebagai pemeluknya justru berdiri di depan gerbang dengan sikap yang kasar dan penampilan yang berantakan. Orang luar yang lewat akan menoleh dan bergumam, "Jika penjaga pintunya saja begini, untuk apa aku masuk ke dalam? Pasti di dalam sana tidak aman." Sungguh ironis; kita adalah undangan yang paling dekat dengan hidangan surga, namun perilaku kita justru menjadi alasan orang lain enggan mendekat. Kita telah mengusir tamu-tamu Tuhan bahkan sebelum mereka sempat melangkah ke dalam rumah-Nya.

Luka ini pun menjalar hingga ke tatanan sosial. Dunia tidak membaca Al-Qur'an, mereka membaca "kita". Saat masyarakat Muslim menampilkan wajah yang meminggirkan wanita atau menindas kaum minoritas, dunia akan menghakimi agamanya, bukan pelakunya. Mereka melihat ketidakadilan itu dan berpikir bahwa itulah wajah Islam yang sebenarnya. Mereka tidak tahu bahwa kebenaran yang asli sebenarnya sangat menjunjung tinggi martabat manusia. Kita berhutang pada dunia untuk menunjukkan bahwa Islam bukanlah tentang penindasan, melainkan tentang keadilan yang memayungi siapa saja tanpa terkecuali.

Terkadang, kabut yang menutupi kebenaran Islam muncul dari panggung sejarah tingkat negara. Di masa lalu, ketika ekspansi wilayah menjadi norma dunia, banyak penguasa Muslim melakukan penaklukan sebagaimana bangsa-bangsa lain melakukannya. Namun, kesalahannya terletak pada narasi: mereka membungkus ambisi politik itu dengan jubah agama, seolah-olah menaklukkan tanah adalah inti dari menjadi "Islami." Akibatnya, dunia tidak melihat Islam sebagai jalan keselamatan, melainkan sebagai ancaman yang harus diwaspadai. Alih-alih merindukan hidayah, mereka justru membangun benteng ketakutan, karena menyangka Islam datang untuk merampas tanah air mereka, bukan untuk merangkul jiwa mereka.

Sebagai puncaknya, luka ini diperparah oleh potret kepemimpinan yang rapuh. Memang benar, korupsi adalah penyakit manusia yang bisa menjangkiti siapa saja. Namun, bagi seorang Muslim—yang hatinya terikat pada rasa takut akan Hari Penghakiman dan tanggung jawab di hadapan Sang Pencipta—korupsi seharusnya menjadi hal yang mustahil. Namun, kenyataannya tetap ada pemimpin di negeri-negeri Muslim yang gagal menjaga amanah.

Ketika mata dunia memandang masyarakat Muslim dipimpin oleh tangan-tangan yang korup, mereka pun berbisik sinis: "Jika sistem kepercayaan ini tidak mampu membuat pemimpinnya menjadi jujur, mengapa aku harus meliriknya? Aku merasa jauh lebih baik dengan hidupku yang sekarang." Di sinilah letak ironinya; perilaku segelintir pemegang kuasa telah menjadi penghalang bagi jutaan orang untuk melihat keindahan Islam yang sesungguhnya.

Setelah kita bercermin pada kekurangan kita sendiri sebagai umat, kini mari kita menoleh pada sisi lain: labirin di dalam pikiran sang pengamat. Terkadang, cahaya matahari bukan tidak bersinar, melainkan jendela yang hendak ditembusnya tertutup oleh debu yang tebal.

Ada jiwa-jiwa yang memandang Islam melalui lensa yang sudah retak. Sejak awal, mereka telah dicekoki oleh stereotip pahit dan narasi kebencian. Akibatnya, mereka tidak lagi mampu menimbang kebenaran dengan timbangan yang adil. Bagi mereka, Islam adalah sebuah kesimpulan buruk yang sudah final, bahkan sebelum mereka sempat membaca satu ayat pun dengan kejujuran hati.

Seringkali, bukan akal yang menolak, melainkan keinginan yang enggan tunduk. Ketika Islam hadir membawa batasan demi menjaga martabat manusia, hawa nafsu merasa terancam. Di titik ini, seseorang mungkin menolak kebenaran bukan karena ia salah, melainkan karena ia dianggap "mengganggu" kenyamanan duniawi yang sedang dinikmati. Mereka lebih memilih memeluk keinginan diri daripada berserah pada kebenaran yang menuntut disiplin jiwa.

Ada pula yang terperangkap dalam kotak pemikirannya sendiri tentang bagaimana Tuhan seharusnya berfirman. Jika seseorang terbiasa membaca kitab suci layaknya sebuah biografi yang kronologis—mengalir dari kelahiran hingga kematian—maka ia akan merasa asing saat berjumpa dengan Al-Qur'an. Karena struktur Al-Qur'an tidak mengikuti selera sastra manusia, mereka terburu-buru menghakiminya sebagai buku yang berantakan. Padahal, mereka hanya sedang mencoba mengukur luasnya samudera dengan sebuah penggaris kecil yang pendek.

Manusia adalah makhluk yang cenderung mencari kehangatan dalam kelompoknya. Dalam mentalitas kawanan,kebenaran seringkali dikalahkan oleh kesepakatan kolektif. Ketika lingkungan sekitarnya terus membisikkan bahwa Islam itu asing dan buruk, maka suara kebenaran yang lembut akan tenggelam dalam riuhnya prasangka bersama. Mereka memilih untuk tetap berada dalam zona nyaman kelompok daripada harus melangkah sendirian menuju cahaya yang tidak populer.

Terkadang, cinta pada apa yang sudah dimiliki menutup ruang bagi hal baru yang lebih sempurna. Mereka yang sudah memeluk satu keyakinan seringkali hanya berfokus pada jurang perbedaan, bukan pada jembatan persamaan. Baginya, setiap perbedaan adalah bukti kesalahan pihak lain. Mereka terlalu sibuk melindungi "milik mereka" sehingga lupa bahwa kebenaran Tuhan seringkali merupakan penyempurna, bukan sekadar penantang.

Di zaman modern ini, kebenaran seringkali kalah oleh kecepatan informasi. Kabut Islamofobia dan narasi media yang menyudutkan telah melukis potret wajah Islam yang penuh noda dan kegelapan. Dunia hari ini melihat Islam melalui filter yang retak, sebuah kesan palsu yang terus direproduksi hingga dianggap sebagai kebenaran mutlak.

Jika kita menoleh ke belakang, kita melihat bahwa penghalang ini adalah sebuah simpul yang rumit. Ia datang dari sisi kita—melalui tafsir yang kaku, perilaku individu yang jauh dari nilai agama, hingga potret kepemimpinan yang rapuh. Namun, ia juga datang dari sisi sang pengamat—melalui prasangka yang mengakar, hambatan mental, hingga pengaruh berita negatif yang mereka konsumsi setiap hari.

Namun, ada satu kunci terakhir yang harus kita genggam: tanggung jawab kita untuk bersuara. Ada pepatah tua berkata, "Jika kau menciptakan penemuan yang hebat, dunia akan datang mengetuk pintumu." Namun di rimba informasi saat ini, pepatah itu tak lagi cukup. Kebenaran yang diam tidak akan pernah terdengar di tengah riuhnya kebatilan yang bersuara lantang. Sesuatu yang indah dan bermanfaat tidak akan diketahui jika ia hanya tersimpan di dalam laci.

Dalam dunia ide, kita butuh "pemasaran" dalam makna yang paling luhur, yaitu dakwah. Ini adalah seni menyampaikan pesan, sebuah keberanian untuk mengetuk pintu hati publik. Lihatlah bagaimana pihak lain dengan gigih menjangkau pelosok terjauh demi menyemai keyakinan mereka. Sementara itu, kita seringkali terlalu tertutup, membiarkan permata yang kita miliki tetap tersembunyi.

Sangat disayangkan jika ide-ide Islam yang begitu rasional, masuk akal, dan menyejukkan jiwa hanya menjadi konsumsi kita sendiri. Inilah tugas besar kita: melawan stereotip negatif bukan dengan kemarahan, melainkan dengan pancaran pesan yang jernih. Kita harus hadir di garda terdepan untuk memastikan bahwa dunia mendengar suara Islam yang sebenarnya—suara yang membimbing, merangkul, dan memberikan jawaban bagi kegelisahan zaman.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Membangun Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia Oleh: Prof. Dr. A. Junaedi Karso, Pengajar di FISI....

Suara Muhammadiyah

27 December 2024

Wawasan

Tapak Suci Paket Lengkap Pembiasaan Anak Indonesia Hebat Oleh : Yudha Kurniawan, ASN Kemdikdasmen b....

Suara Muhammadiyah

3 March 2025

Wawasan

Ramadhan: Kenangan Indah yang Harus Dipertahankan Oleh: Ir. H. Amir Hady, Sekretaris Pimpinan Wilay....

Suara Muhammadiyah

14 April 2025

Wawasan

Aksi Radikal, Pertarungan Rakyat atau Manufactured Chaos  Oleh: Angga T. Sanjaya, Akademisi Fa....

Suara Muhammadiyah

3 September 2025

Wawasan

Anak-Anak, Kerupuk, dan Kemerdekaan Oleh : Afita Nur Hayati, Bekerja di Universitas Islam Negeri Su....

Suara Muhammadiyah

19 August 2024