MEDAN, Suara Muhammadiyah — Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Izzul Muslimin, menghadiri Silaturrahim Idul Fitri 1447 Hijriah yang diselenggarakan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Medan, Ahad (12/4/2026). Dalam tausiyahnya, ia mengajak warga Muhammadiyah meneguhkan ketakwaan sekaligus meluruskan niat dalam berorganisasi.
Mengutip Surah Ali Imran ayat 133, Izzul menyampaikan bahwa Allah menjanjikan ampunan (maghfirah) dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi bagi orang-orang bertakwa. Ia menjelaskan, bumi masih dapat diukur oleh manusia, namun langit hingga kini belum mampu dijangkau secara pasti. “Artinya, luas surga Allah itu tidak terhingga, tidak ada batasnya,” ujarnya.
Namun, lanjut dia, surga tersebut hanya diperuntukkan bagi mereka yang memenuhi kriteria ketakwaan. Salah satunya adalah orang-orang yang gemar berinfak, baik dalam kondisi lapang maupun sempit. Dalam kesempatan itu, Izzul mengapresiasi semangat warga PDM Kota Medan yang aktif menggalang dana untuk pembangunan mushala di SMK Muhammadiyah 9 Kota Medan.
Selain itu, ia menekankan pentingnya kemampuan menahan amarah. “Marah boleh, tetapi jangan menjadi pemarah,” kata Izzul. Ia menambahkan, dalam situasi tertentu, kemarahan justru diperlukan sebagai bentuk koreksi atas kesalahan agar tidak terulang.
Kriteria berikutnya adalah sikap mudah memaafkan. Menurut dia, momentum halal bihalal menjadi sarana untuk saling memaafkan, meskipun tidak serta-merta menghapus kewajiban. “Utang tetap harus dibayar. Itu adalah tanggung jawab yang kelak juga akan dimintai pertanggungjawaban,” ujarnya.
Izzul menilai, pesan dalam Ali Imran ayat 133 sejalan dengan cita-cita Muhammadiyah sebagaimana tertuang dalam Muqaddimah Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), yakni mengantarkan umat menuju pintu gerbang surga Allah. “Namun baru sampai pintu, belum masuk. Untuk masuk, diperlukan usaha personal kita masing-masing,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan adanya fenomena “calo pintu surga”, yakni orang yang aktif di Muhammadiyah dan mengajak orang lain, tetapi dengan niat yang tidak tulus. “Jika niatnya bukan karena Allah, maka lelah yang dilakukan bisa menjadi sia-sia,” katanya.
Karena itu, ia mengajak seluruh warga Muhammadiyah untuk terus memeriksa dan memperbarui niat dalam berorganisasi. Ia merinci tiga hal penting untuk menjaga keikhlasan tersebut, yakni menjaga ketakwaan kepada Allah, memperkuat persatuan umat Islam, serta konsisten dalam amar ma’ruf nahi munkar sebagaimana ditegaskan dalam Ali Imran ayat 110.
Izzul mencontohkan, pada masa awal berdirinya Muhammadiyah, Ahmad Dahlan memulai gerakan dengan jumlah yang terbatas. Namun, kini gerakan tersebut berkembang luas dan bahkan menginspirasi banyak pihak dalam mendirikan amal usaha di bidang pendidikan, sosial, hingga layanan keagamaan.
Menurut dia, salah satu keunikan Muhammadiyah terletak pada keikhlasan para pendirinya. KH Ahmad Dahlan, kata dia, tidak pernah berniat memiliki Muhammadiyah secara pribadi maupun keluarga. Semangat serupa juga ditunjukkan warga persyarikatan yang mendirikan amal usaha tanpa mengklaim kepemilikan.
“Di situlah letak keikhlasan warga Muhammadiyah, yang semata-mata mengharapkan ridha Allah dan berharap dimasukkan ke dalam surga-Nya,” ujar Izzul.
