Jadikan Ramadhan Bulan 3S: Saving, Sharing, dan Solidarity

Publish

1 March 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
425
Istimewa

Istimewa

BOGOR, Suara Muhammadiyah - Ramadhan telah memasuki hari ke-11. Namun, apa yang telah kita kerjakan di bulan suci ini selain puasa dan tarawih? Pertanyaan reflektif itu disampaikan oleh Faozan Amar, Wakil Ketua MPKS Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus Dewan Pengawas Syariah Koperasi Khairu Ummah Grup, saat memberikan taushiyah menjelang berbuka puasa dalam Rapat Anggota Tahunan I Koperasi Sekunder Khairu Ummah Grup di Leuwiliang, Bogor, 28 Februari 2026.

Dalam kapasitasnya sebagai Associate Professor FEB UHAMKA, Faozan menegaskan bahwa Ramadhan harus dimaknai lebih dari sekadar ritual tahunan. Ia mengajak umat Islam menjadikan Ramadhan sebagai bulan 3S: Saving, Sharing, dan Solidarity

“Ramadhan harus kita jadikan bulan 3S, yakni saving, sharing, dan solidarity. Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi momentum membangun disiplin diri, kepedulian sosial, dan kekuatan ukhuwah,” ujarnya.

Ia menjelaskan, konsep saving, bukan sekadar hemat secara materi, tetapi pengendalian diri dan pembentukan karakter takwa. Puasa adalah latihan self-control, menahan makan, minum, emosi, serta dorongan konsumtif. Allah SWT telah mengingatkan dalam QS. Al-A’raf ayat 31, Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Bahkan Nabi Muhammad SAW bersabda, Puasa itu adalah perisai (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam perspektif ekonomi syariah, disiplin konsumsi dan pengendalian hawa nafsu menjadi fondasi stabilitas keluarga dan keberlanjutan ekonomi umat.

Dimensi kedua adalah sharing, yakni memperkuat zakat, infak, sedekah, dan tradisi memberi makan orang yang berpuasa. Faozan mengutip hadis riwayat Bukhari, Rasulullah adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan. Spirit berbagi ini, tegasnya, harus diterjemahkan dalam gerakan nyata penguatan filantropi Islam agar manfaatnya semakin luas dan tepat sasaran. Nabi SAW juga bersabda, Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa itu (HR. Tirmidzi), menegaskan bahwa solidaritas sosial memiliki nilai spiritual yang tinggi.

Sementara itu, solidarity dimaknai sebagai penumbuhan empati, ukhuwah, dan kepedulian sosial. Faozan mengingatkan firman Allah dalam QS. Al-Hasyr ayat 9, “Mereka mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka memerlukan. Dan siapa yang dijaga dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” Ayat ini menjadi fondasi teologis bagi lahirnya masyarakat yang saling menguatkan, bukan saling melemahkan.

Sebagai Dewan Pengawas Syariah Koperasi Khairu Ummah Grup, ia menegaskan bahwa Ramadhan adalah madrasah spiritual sekaligus laboratorium sosial. Di dalamnya, umat Islam ditempa menjadi pribadi bertakwa sekaligus agen perubahan sosial yang peduli dan berdaya.

“Jika saving membentuk karakter, sharing menggerakkan kepedulian, dan solidarity memperkuat ukhuwah, maka Ramadhan akan melahirkan transformasi pribadi dan sosial secara bersamaan,” pungkasnya.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

TEMANGGUNG, Suara Muhammadiyah - Tim Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBS....

Suara Muhammadiyah

13 February 2026

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Di tengah tuntutan dunia kerja yang semakin dinamis, banyak kary....

Suara Muhammadiyah

3 May 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - SMA Muhammadiyah 1 (Muhi) Yogyakarta sukses menggelar pameran gelar....

Suara Muhammadiyah

27 April 2025

Berita

SEMARANG, Suara Muhammadiyah - Posisi politik Muhammadiyah kembali menjadi perhatian publik menjelan....

Suara Muhammadiyah

22 November 2024

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Seminar ”Living Al-Quran: Kajian Tafsir Al-Quran dan Probl....

Suara Muhammadiyah

1 November 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah