JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Bencana alam yang menerpa Sumatera dan sekitarnya, niscaya meninggalkan goresan getir dan duka mendalam. Tentu, sebagai organisasi kemasyarakatan, Muhammadiyah terus hadir di garda terdepan, meski sarat tantangan di lapangan.
"Saya kira hal seperti ini harus kita bangkitkan lagi meski tidak mudah, tapi insyaallah memberikan dampak," kata Hilman Latief.
Representasi itu berimplikasi dengan Qs al-Balad ayat 11-16. Redaksi ayat ini melukiskan betapa terjalnya jalan melakukan kebaikan. Pengerucutan yang pertama, yaitu membebaskan budak.
Maknanya sebagai membebaskan orang-orang dari situasi yang tertekan, situasi yang menindas. "Itu sesuatu yang berat sekali," ungkapnya.
Kedua, memberi makan dalam situasi sulit. Jelaslah tidak mudah untuk melakukannya. Lebih-lebih lokasinya sangat sukar dilalui.
Namun demikian, tidak ada kata menyerah selain membawa spirit kebersamaan untuk menyemai kemaslahatan.
"Kita menggerakkan hati kita pun untuk you decide to do something, you decide to donate (Anda memutuskan untuk melakukan sesuatu, Anda memutuskan untuk berdonasi)," jelas Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut.
Lebih-lebih, yang ketiga, memberi makan anak yatim dari keluarga terdekat. "Yang lebih dekat. Yang kenal dulu," ujar Hilman dalam ZiskaTalks Tarhib Ramadhan LAZISMU di Lantai 4 Gedung Dakwah Muhammadiyah Menteng Raya, Jakarta Pusat, Kamis (12/2).
Menyaksikan denyut nadi kehidupan mereka, niscaya terbersit gentusan untuk berbagi. Tidak bisa tidak. Karena rangsangan jiwa sangat kuat terhadap realitas sosial yang terjadi di lapangan.
"Itu suatu hal yang berat," celetuknya. Tapi, harus optimis bisa melakukannys, meski mendaki jalan-jalan yang sukar sekalipun.
Demikian juga, kepada yang keempat, orang miskin yang sangat membutuhkan. "Kalau lihat orang miskin kita sudah biasa, tapi kalau orang miskin sudah susah makan, sudah makan sesuap nasi pun dia kesulitan, hati kita itu semakin lama semakin kebal," tegasnya.
Di sinilah menampilkan secara kentara bahwa spirit kehadiran agama Islam meniscayakan membangun peradaban masyarakat yang berkeadilan dan berempati.
Karenanya, agama tidak berhenti pada dimensi ritual dan simbolik semata, melainkan harus menjadi energi yang menggerakkan kepedulian sosial serta ikhtiar kolektif menghadirkan kemaslahatan bagi seluruh umat manusia. (Cris)

