YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Dunia bersifat sementara. Pada akhirnya, semuanya akan sirna. Dalam proses itu, segenap umat manusia, lebih-lebih umat muslim, mendamba pribadi yang husnul khatimah.
“Untuk menjadi pribadi yang mengakhiri hidup dengan husnul khatimah, tentu bukan permasalahan sederhana,” beber Agus Taufiqurrahman, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Karena itu, Agus mengajak untuk berikhtiar mencapai titik itu. “Agar perjalanan hidup kita ini adalah perjalanan menyempurnakan keberisalaman kita,” sambungnya. Ditambahkan, sebuah perjalanan yang mampu meningkatkan kualitas keimanan kepada Allah.
“Perjalanan yang hari demi hari mengantarkan kita kepada pribadi muttaqin,” sambungnya, dengan penekanan di situ, sebuah surga yang luasnya seluas langit dan bumi. “Disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,” lanjutnya.
Dalam konteks menyempurnakan keberisalaman itu, kata Agus, setidaknya ada pelbagai variabel yang saling berkelindan. Pertama, keimanan dan tauhid. Tidak dapat dinafikan, upaya meningkatkan keimanan dan tauhid menjadi sesuatu yang niscaya—agar menjadi kuat.
“Keimanan harus kita jaga. Iman kadang kala di posisi kuat, tapi kadang terkisisi di posisi terbawah. Karena iman inilah menjadi barometer ukuran seseorang itu selamat dunia maupun akhirat,” tekannya saat Khutbah Jumat di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, Jumat (21/8).
Dengan iman yang kuat, yang kedua, maka dapat menjalani ibadah yang benar dan sesuai dengan tuntunan sebagaimana yang diteladankan oleh Rasulullah Saw.
“Prinsip ibadah kita kepada Allah di samping karena panggilan keimanan, maka cara mengerjakan ibadah kita harus ittiba' rasul, mencontoh apa yang diperintahkan oleh Rasulullah Muhammad Saw,” jelasnya.
Pada situasi seperti itu, seseorang akan ringan dalam menjalankan ibadah. Karena hal demikian menjadi konsekuensi dari keberimanan autentik kepada Allah.
“Konsekuensi dari menjadikan diri kita sebagai hamba Allah adalah taat untuk selalu beribadah kepada-Nya,” ujarnya.
Ketiga, berpokok pangkal pada akhlak mulia. Syahdan, Rasulullah Saw ditanya para sahabat, “Seperti apa orang yang beragama itu? Dijawab Rasul, “Husnul khuluq, akhlak yang mulia.”
“Seorang yang telah beragama ditandai dengan akhlak yang baik,” ucap Agus. Diperkuat lagi, kata Rasul, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaknya.”
“Berislam tentu harus menghadirkan akhlak yang baik, akhlak yang luhur,” tegasnya.
Terkait hal itu, segera muncul pertanyaan di permukaan begini; apakah segenap umat Islam telah melakukan kehidupan dengan berpangkal akhlak mulia? Agus menilai, belum sampai kepada titik tersebut.
Sebuah hadis terlukis, al-Islamu ya'lu wala yu'la 'alaih, "Islam itu tinggi dan tidak ada yang mengunggulinya." Hadis Bukhari ini kemudian direspons dengan untaian kalimat bijak-bestari Muhammad Abduh; al-Islamu mahjubun bil-muslimin, Islam tertutupi oleh umat Islam sendiri.
“Mari kita berikhtiar dalam rangka penyempurnaan Islam kita terus menjaga akhlak yang baik,” tekan Agus.
Keempat, selalu melakukan kehidupan muamalah dunyawiyat sebagaimana yang dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ketika membangun sebuah masyarakat, berpokok pangkal menggunakan pedoman yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
“Bermuamalah dunyawiyat dengan tuntunan Islam,” imbuhnya. (Cris)

